Cari dengan kata kunci

duhung_1200.jpg

Senjata Suku Dayak Buatan Makhluk Kahyangan

Duhung dipercaya sebagai senjata tertua suku Dayak yang pertama kali dibuat oleh makhluk Kahyangan.

Tradisi

Mandau dan parang merupakan senjata tradisional suku Dayak yang paling terkenal. Namun sebetulnya suku yang mendiami daerah pesisir Pulau Kalimantan ini memiliki satu senjata lain yaitu dohong atau sering juga disebut dengan duhung. Senjata inilah yang kemudian menjadi cikal bakal kelahiran senjata tajam lainnya di Kalimantan.

Senjata tradisional ini diyakini sebagai senjata tertua suku Dayak Ngaju Ot Danum. Masyarakat Dayak meyakini, duhung sudah tercipta sebelum manusia ada di dunia. Mereka percaya bahwa duhung adalah senjata yang diciptakan oleh leluhur suku Dayak di alam atas, kahyangan. Manusia pertama yang memiliki duhung adalah para leluhur suku Dayak. Pada awalnya, hanya ada tiga orang yang memiliki duhung, yaitu Raja Sangen, Raja Sangiang, dan Raja Bunu.

Senjata tradisional ini diyakini sebagai senjata tertua suku Dayak Ngaju Ot Danum.

Menurut legenda suku Dayak, ketiga raja tersebut memiliki duhung yang berbeda-beda. Duhung milik Raja Sangen dan Raja Sangiang terbuat dari besi yang dapat mengapung, sedangkan duhung milik Raja Buni terbuat dari besi yang tidak bisa mengapung. Duhung jenis ini biasa disebut dengan lenteng. Raja Buni inilah yang diyakini sebagai manusia yang bernyawa dan bisa mati, dan dipercaya merupakan salah satu leluhur dan nenek moyang suku Dayak.

Duhung juga menjadi senjata yang terkenal dalam cerita-cerita tutur masyarakat Dayak. Salah satunya adalah cerita tentang Sahawong yang membunuh raja iblis dan banyak memakan korban manusia.

Ciri-Ciri Duhung

Duhung adalah senjata masyarakat Dayak Ngaju yang digunakan untuk serangan jarak dekat. Ukurannya yang relatif kecil dan berbeda dengan mandau, membuat senjata ini termasuk senjata tikam dan tusuk yang sederhana dengan bilah simetris. Masyarakat Dayak sering membawa duhung dalam kegiatan berburu untuk melindungi diri dari serangan binatang buas dalam jarak dekat.

Duhung memiliki bentuk simetris dengan panjang sekitar 50 hingga 75 cm dengan bagian tajam yang melengkung dan lancip di kedua belah sisinya. Senjata ini berbentuk seperti mata tombak yang dapat digunakan sebagai pisau yang dilengkapi dengan gagang bulat dan sebuah sarung yang terbuat dari kayu. Biasanya masyarakat Dayak membawa Duhung dengan cara menyelipkan di pinggang.

Pada zaman dahulu masyarakat Dayak juga menggunakan duhung sebagai senjata untuk berperang. Selain digunakan sebagai senjata untuk berburu dan berperang melawan musuh, duhung juga seringkali digunakan untuk bercocok tanam. Namun saat ini Duhung dijadikan benda pusaka dan hanya boleh dimiliki oleh tokoh-tokoh Dayak seperti Basir, Mantir, maupun Damang Kepala Adat. Karena termasuk benda pusaka, biasanya duhung hanya dikeluarkan pada acara-acara adat tertentu seperti Tiwah (upacara kematian).

Biasanya duhung hanya dikeluarkan pada acara-acara adat tertentu seperti Tiwah (upacara kematian).

Hal yang menarik dalam pembuatan duhung adalah, senjata ini harus selesai dibuat dalam hitungan waktu yang ganjil. Ini disebabkan karena masyarakat Dayak percaya bahwa segala sesuatu akan digenapkan atau diselesaikan oleh Tuhan yang maha kuasa.

Informasi Selengkapnya
  • Indonesia Kaya

  • Indonesia Kaya

  • Kumparan
    Tribun
    Kompas
    Pariwisata Indonesia