Cari dengan kata kunci

Benyamin Suaeb: Gak Ade Matinye!

Benyamin Sueb

Benyamin Suaeb: Gak Ade Matinye!

Benyamin, si sosok kreatif yang selalu mengubah duka jadi canda.

Tokoh

Benyamin Suaeb adalah ikon budaya populer Betawi sekaligus legenda lintas zaman. Setiap orang bisa punya memori tersendiri tentang Benyamin. Ada yang mengenalnya sebagai penyanyi, pemain film, produser film, pendiri Bens Radio, ayah yang baik, bahkan sopir kendaraan umum. Ya, Benyamin Suaeb adalah segala yang disebutkan di atas.

Tentu menjadi pertanyaan—bagaimana caranya, seseorang bisa tenar di berbagai bidang dalam waktu bersamaan? Benny Pandawa Benyamin, anak Benyamin Suaeb merasa hal tersebut mungkin terjadi karena, “Benyamin konsisten dengan ketidak-konsistenan. Dan ia mencintai itu. Sepanjang hidup, Benyamin mengambil berbagai kesempatan menarik yang tersedia di hadapannya.” 

“Benyamin konsisten dengan ketidak-konsistenan. Dan ia mencintai itu. Sepanjang hidup, Benyamin mengambil berbagai kesempatan menarik yang tersedia di hadapannya.” 

Benny mengingat Benyamin sebagai figur kreatif yang spontan dan jenaka. Dua hal ini juga menjadi karakter dan jiwa dari karya-karya Benyamin yang masih dirayakan sampai sekarang. 

Salah satu buktinya, pameran arsip bertajuk Ngubek Arsip yang diprakarsai Lamunai Records pada 22-23 Juli 2023. Pameran ini digelar di sebuah kedai kopi di kawasan Grand Wijaya, Jakarta Selatan. Tempat orang muda Jakarta yang berkarya di ranah kreatif biasanya berkumpul dan berjejaring. 

Lamunai Records juga peduli terhadap keberlangsungan karya Benyamin. Di pameran tersebut, pengunjung tak hanya bisa melihat beragam kaset, piringan hitam, buku, dan poster film, tapi juga melihat rilisan piringan hitam baru yang berisi kompilasi lagu Benyamin. Judulnya, Funky Kromong

Tiga orang anak Benyamin yang menghadiri pameran arsip tersebut, Beno Benyamin, Benny Benyamin, dan Bayi Benyamin, tak henti merasa haru melihat respons orang-orang muda—yang sebagian besar berasal dari kalangan muda—ingin tahu lebih jauh tentang karya Benyamin. 

Untuk mengisi keingintahuan para tamu, Beno, Benny, dan Bayi berupaya mengartikulasikan ingatan terbaik yang mereka miliki tentang Benyamin.

“Kalau enggak ada Babe, gambang kromong jadi klasik aja,” kata Beno. Ia menyepakati bahwa ayahnya adalah pelopor musik gambang kromong kontemporer. Alasannya, Benyamin memadukan kaidah asli gambang kromong dengan ragam instrumen lain dan merancangnya menjadi komposisi musik seperti jazz dan rock

Benyamin memadukan kaidah asli gambang kromong dengan ragam instrumen lain dan merancangnya menjadi komposisi musik seperti jazz dan rock

“Kami baru merasakan dampak Ayah setelah dia meninggal. Namanya dipakai sebagai nama jalan, diabadikan sebagai nama tempat pertunjukan, dan sampai ke acara seperti ini,” ujar Benny. 

“Aku merasa lebih kenal Bapak lewat Bens Radio. Lewat suaranya, lagu-lagunya yang diputar terus. Bens radio adalah legacy,” tutur Bayi. 

Kenangan tentang Benyamin pun terus mengalir. Pertanyaan dari seorang peserta acara soal isu Benyamin dihampiri sejumlah perempuan yang tersinggung saat mendengar lirik lagu kontroversial “Jande Tue,” menjadi bukti eksistensi Benyamin di kalangan orang muda. 

Riwayat Sang Bintang 

Benyamin Suaeb lahir pada 5 Maret 1939 di Kemayoran, Batavia/Hindia Belanda. Ayahnya, Sukirman, berasal dari Purworejo. Ia merantau ke Batavia untuk menetap dan bekerja. Dalam Kompor Mleduk Benyamin S: Perjalanan Karya Legenda Pop Indonesia terbitan Hikmah, tertulis bahwa Sukirman bekerja sebagai tukang bubut mesin dan peralatan kereta api di Manggarai. 

Sukirman lalu menikahi Siti Aisyah, anak seorang tokoh masyarakat Betawi. Ayah Benyamin meninggal ketika ia masih berusia 2 tahun. Benyamin pun tumbuh sebagai anak yang dekat dengan kakek, ibu, dan kakak-kakaknya. 

Karya musik Benyamin dimulai pada usia 4 tahun. Saat itu, ia diajak kakak-kakaknya membuat sebuah band. Tugas Benyamin adalah menciptakan irama dari kaleng bekas bensin. Grup band ini tampil di acara-acara yang diselenggarakan di kampung dan melantunkan lagu-lagu Melayu. 

Tugas Benyamin adalah menciptakan irama dari kaleng bekas bensin.

Semasa SMA, Benyamin bergaul dengan teman-teman dari kalangan keluarga musisi yang juga tinggal di Kemayoran. Beberapa di antaranya adalah Rachmat Kartolo, A. Rachman, dan Yahya. Di sanalah Benyamin semakin menuangkan kecintaannya terhadap musik. 

Pada 1957, ia bergabung ke dalam grup musik Melody Boys dan pentas di berbagai tempat ternama pada masa itu, seperti Yacht Club Sindang Laut, Night Club Nusantara, dan Hotel des Indes. Dalam grup tersebut, Benyamin berperan sebagai penyanyi latar. Lagu yang dibawakan adalah lagu barat berirama jazz dan blues. Beberapa judul populer yang dikumandangkan adalah When I fall in Love, Blue Moon, dan Unchained Melody. Popularitas Melody Boys makin meningkat ketika menjadi musisi langganan dari acara-acara yang diselenggarakan oleh Kodam V Jaya. 

Pada awal 1960-an, Melody Boys dikecam saat menyanyikan lagu barat. Mereka kemudian mulai menyanyikan lagu Indonesia dan mengganti nama menjadi Melodi Ria. Di titik inilah, Benyamin berinisiatif memopulerkan lagu-lagu Betawi. 

Dia mulai menciptakan lagu Ade-Ade Aje, Hujan Gerimis, Malam Minggu, dan Nonton Bioskop. Lirik dari karya-karya Benyamin tersebut memiliki benang merah, yakni berangkat dari kehidupan sehari-hari, berunsur jenaka, dan memuat percakapan. 

Benyamin yakin untuk menyanyikan lagu ciptaannya setelah didorong oleh kawan baiknya, Bing Slamet. Lagu pertama yang dinyanyikan Benyamin adalah Si Jampang. Lagu tersebut populer di pasaran dan memuluskan jalan Benyamin menjadi penyanyi. 

Benyamin yakin untuk menyanyikan lagu ciptaannya setelah didorong oleh kawan baiknya, Bing Slamet.

Pada awal 1970-an, Benyamin berjumpa dengan Ida Royani, partner duet ikonisnya. Benyamin berhasil membuat Ida yang merupakan “anak Menteng” untuk menyanyikan lagu Betawi khas “anak Kemayoran.” Musiknya pun diiringi gambang kromong, dan salah satu lagu mereka yang populer adalah Tukang Kridit

Karya duet Benyamin disukai banyak orang. Rekan duet Benyamin bukan hanya Ida, namun ada pula Lilis Suryani dan Vivi Sumanti. 

Dampak Karya Benyamin

JJ Rizal, sejarawan sekaligus pendiri penerbit Komunitas Bambu, berkata bahwa Benyamin berani melawan pemerintah yang pada saat itu tengah mengupayakan penggunaan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD). “Dia berhasil menggunakan dialek Jakarta, menjadikannya bahasa gaul dan cara berkomunikasi yang efektif.” 

Di mata Rizal, kebesaran Benyamin juga didukung oleh keberaniannya dalam merangkul kawan-kawan pesohor yang sedang bersinar untuk membuat karya bersama. Salah satu buktinya adalah ketika Benyamin mendirikan grup musik Al Haj bersama Harry Sabar, Keenan Nasution, Odink Nasution, Edhitya, dan Adhe “Bo.” Kelompok musik tersebut memainkan lagu beraliran R&B. Salah satu lagunya adalah Biang Kerok

Di mata Rizal, kebesaran Benyamin juga didukung oleh keberaniannya dalam merangkul kawan-kawan pesohor yang sedang bersinar untuk membuat karya bersama.

“Keenan Nasution bisa menerima Benyamin. Jadi, Ben merangkul saingan-saingannya, dan membawa mereka untuk membuat karya kolaborasi yang menjadi ‘Benyamin banget.’ Dia berhasil nekuk Ida Royani. Selera diubah,” lanjut Rizal. 

Ia merasa Benyamin mampu mentransformasi segala hal ke sesuatu yang baru. “Dia bicara soal kesenjangan sosial, meringkas percakapan-percakapan di masyarakat. Dan, itu menjadi artefak untuk sekarang. Jadi dokumen sosial lewat aliran pop,” kata Rizal.

Menuju Kebesaran Nama

Pada rentang waktu yang sama, Benyamin mendapat tawaran bermain film. Pada 1970, Benyamin membintangi film pertama berjudul Honey, Money, and Djakarta Fair. Di situ, Benyamin berperan sebagai penyanyi di acara Djakarta Fair. 

Setelah film pertama tayang, Benyamin terus mendapat tawaran bermain film hingga pertengahan 1970-an. Pada 1971, ia membintangi beberapa film di antaranya Hostess Anita, Brandal-Brandal Metropolitan, Dunia Belum Kiamat, dan Banteng Betawi. Dalam film-film tersebut, Benyamin turut menunjukkan bakat melawaknya. 

Setahun setelahnya, Ben membintangi Angkara Murka, Bing Slamet Setan Jalanan, dan Intan Berduri. Pada 1973, Benyamin mendapat penghargaan sebagai Pemeran Utama Pria Terbaik di ajang Festival Film Indonesia 1973. Penghargaan tersebut mendatangkan lebih banyak tawaran bermain film. Pada tahun tersebut, Benyamin setidaknya membintangi 10 film. 

Pada tahun yang sama, Benyamin memutuskan menjadi produser film dengan mendirikan rumah produksi PT Jiung Film. Film garapan pertamanya berjudul Bapak Kawin Lagi. Tahun 1974, rumah produksi milik Benyamin melansir 5-6 film. Benyamin juga sempat memproduksi film lewat rumah produksi PT Jiung Film. Beberapa film yang diproduksi antara lain Musuh Bebuyutan dan Buaye Gile

Film garapan pertamanya berjudul Bapak Kawin Lagi.

Selama memproduksi film, Benyamin juga tetap membintangi film. Ia membintangi film yang ada di luar rumah produksinya. Beberapa di antaranya adalah Benyamin Si Abunawas, Tarzan Kota, Ratu Amplop, Drakula Mantu, dan Benyamin Spion 0255.

Sektor perfilman Indonesia sempat goyah pada 1975. Alasannya, ada pergantian kebijakan pemerintah terkait impor film. Saat itu, Benyamin sempat merasa pesimis tentang masa depan perfilman Indonesia. Meski begitu, pada 1976, Benyamin tetap membintangi beberapa film seperti Si Doel Anak Modern, Zorro Kemayoran, Tarzan Pensiunan, dan Pinangan

Di tengah situasi perfilman yang kurang prima, nama Benyamin tetap harum. Ia menerima Piala Citra untuk kategori Pemeran Utama Pria Terbaik dalam film Si Doel Anak Modern.

Sayang, sektor perfilman makin memburuk. Pada 1980-an, Benyamin memutuskan untuk menutup rumah produksi filmnya setelah meluncurkan Betty Bencong Slebor. Namun, Benyamin tak habis akal. Ia terlibat dalam pementasan lenong Playboy Kampung dan sempat menyelenggarakan pertunjukan ke daerah-daerah. Pada akhir 1980-an, Benyamin menggagas Bens Radio, yaitu radio yang mengusung kekhasan budaya Betawi lewat siaran-siaran yang menggunakan bahasa daerah. 

Benyamin membawakan beberapa program di Bens Radio, seperti Pos DongkolPos Dongkol sendiri adalah program membaca keluh kesah dari pendengar yang disampaikan via surat. Benny bercerita bahwa setiap hari sehabis salat subuh, ayahnya membuka karung berisi kartu pos dari pendengar, membacakan, dan merekamnya. Paket rekaman, akan diberikan kepada tim radio untuk disiarkan. 

“Enggak ada solusi dari curhat. Cuma bercanda,” kenang Benny. Benny bercerita bahwa ayahnya menghibur pendengar dengan mengemas perasaan sedih menjadi sesuatu yang humoris. Sebagaimana yang ia lakukan pada lagu-lagu karyanya.

“Enggak ada yang bisa mindahin penderitaan jadi jenaka. Coba aja kita lihat lagi lagu Tukang Kridit,” kata JJ Rizal. 

Seingat Benny, salah satu alasan ayahnya mendirikan Bens radio adalah agar suara dan candaannya bisa menjangkau orang banyak. “Dia butuh media untuk menyuarakan karyanya. Sikapnya memang selalu begitu,” kata Benny.  

Seingat Benny, salah satu alasan ayahnya mendirikan Bens radio adalah agar suara dan candaannya bisa menjangkau orang banyak.

Hingga kini, Bens Radio masih mengudara di gelombang 106.2FM. Benny merasa ia punya tugas untuk membawa nama Bens Radio dan juga nama ayahnya tetap wangi. Ia ingin Benyamin tetap bisa bermanfaat bagi orang lain lewat pendirian Yayasan Benyamin yang berfokus pada pelestarian budaya Betawi, serta Taman Benyamin, yaitu tempat pertunjukan yang juga akan memuat Museum Benyamin. 

“Kami ingin karya Benyamin juga dihargai. Royalti dari ratusan karya Bapak bisa kembali. Karena itu merupakan bahan bakar perjuangan kami.” 

Kenangan Abadi

Bukti kebesaran nama Benyamin Suaeb bisa dilihat dari terselenggaranya pameran retrospektif untuk kedua kalinya sepanjang 2023. Pada Oktober-November 2023, Yayasan Desain dan Art Indonesia menyelenggarakan ekshibisi seni dan desain tahunan Indonesia Contemporary Art and Design di Kemang, Jakarta Selatan. Salah satu ruang pamer didedikasikan untuk almarhum Benyamin. 

Dalam ruang tersebut kita bisa melihat poster-poster film, cuplikan film, kaset, piringan hitam, dan berbagai benda memorabilia lainnya. Kita bisa mendengar lagu-lagu yang dipopulerkan Benyamin salah satunya Tukang Kridit. Lagu yang ia nyanyikan bersama rekan duetnya, Ida Royani. Lewat lagu itu, kita bisa mengenang betapa jenaka dan sederhana lirik lagu ciptaannya. 

Kridit kridit kridit

Kridit barang mpok,peceh beleh

Mpok, ayo pilih aje

Piring gelas panci tekone termosnye

……

Selusin tujuh ratus penjernye dua ratus

Sehari gocap ditagih nyap-nyao

Harganye keliwatan

E e mending beli kontan

Ngutang melulu

Nurutin setan

Berikut beberapa bagian dalam lagu Tukang Kridit. 

Kita juga bisa melihat bagaimana Benyamin bisa menjadi tokoh sentral dalam sinetron Si Doel Anak Sekolahan. Sinetron yang ia bintangi di penghujung hidupnya. Dialog-dialog yang ia ucapkan, terutama saat berinteraksi dengan Mandra, mewarnai serial sinetron tersebut. 

Benyamin Suaeb meninggal pada 5 September 1995, saat produksi sinetron si Doel anak Sekolahan masih berlangsung. Kenangannya abadi hingga kini.