Cari dengan kata kunci

Sebuah Kisah Sejarah dari Jalan Pegangsaan

taman_proklamasi_1200.jpg

Sebuah Kisah Sejarah dari Jalan Pegangsaan

Untuk mengenang peristiwa bersejarah, kini kediaman Soekarno di Jalan Pegangsaan dijadikan Taman Proklamasi.

Pariwisata

Tepat pukul 10.00 pagi, di kediaman Soekarno di Jalan Pegangsaan 56, teks proklamasi kemerdekaan RI dibacakan oleh Soekarno didampingi oleh Hatta, kemudian dilanjutkan oleh pidato tanpa teks oleh Soekarno. Pembacaan teks proklamasi kemerdekaan RI kemudian diperdengarkan di radio nasional dan disambut suka-cita oleh rakyat Indonesia. Bendera merah putih yang sudah dijahit oleh Fatmawati sehari sebelumnya dikibarkan seraya lagu “Indonesia Raya” dinyanyikan oleh semua orang yang hadir pada saat pembacaan teks proklamasi.

Untuk mengenang peristiwa bersejarah itu, kini kediaman Soekarno di Jalan Pegangsaan dijadikan Taman Proklamasi. Di taman ini, berdiri dua patung besar the founding fathers Republik Indonesia, yaitu Soekarno dan Hatta, yang dibuat mirip pada saat keduanya membacakan teks proklamasi.

Di antara kedua patung tersebut, terdapat duplikat teks proklamasi yang sudah diketik. Di sekelilingnya, terdapat marmer yang menyerupai semburan air berjumlah 17 sebagai representasi tanggal kemerdekaan Indonesia. Marmer tersebut melambangkan semangat nasionalisme bangsa Indonesia yang takkan pernah berhenti.

Beberapa meter dari patung Soekarno dan Hatta, terdapat sebuah tiang berdiameter besar yang pada bagian atasnya terdapat ornamen berbentuk petir. Menurut pengakuan penjaga taman, tiang tersebut dinamakan Tugu Petir, biasa digunakan untuk mengibarkan bendera merah putih. Di tiang tersebut, tertulis “Disinilah dibatjakan proklamasi kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 djam 10.00 pagi oleh Bung Karno dan Bung Hatta”.

Di seberang Tugu Petir, terdapat monumen kecil berbentuk obeliks. Monumen ini dibuat sebagai peringatan satu tahun kemerdekaan Republik Indonesia. Pada sisinya, terdapat plang yang bertuliskan “Tugu Peringatan Satoe Tahoen Kemerdekaan Republik Indonesia”. Pada sisi yang lain, terdapat tulisan “Atas Oesaha Wanita Djakarta”. Tepat di hadapan tugu tersebut, terdapat lapangan berukuran sekitar 10×10 meter.

Di seputaran tugu, kita akan menyaksikan taman dengan bunga-bunga yang indah. Pohon-pohon besar membuat taman tersebut menjadi rindang dan teduh, cocok menjadi tempat bersantai di siang hari yang terik. Masuk lebih ke dalam melewati jalan setapak, pengunjung akan menyaksikan satu-satunya gedung yang terdapat di kompleks bersejarah ini. Gedung ini bernama Gedung Semesta, yakni gedung yang dibuat untuk menandai dimulainya pelaksanaan pembangunan nasional semesta berencana.

Taman Proklamasi akan selalu ramai di akhir pekan. Pada pagi hari, taman ini sering dijadikan tempat berolahraga masyarakat yang ada di sekitar lokasi. Setiap tanggal 17 Agustus dan tanggal-tanggal bersejarah lainnya, Taman Proklamasi selalu diramaikan oleh masyarakat dengan berbagai aktivitas yang menyenangkan, mulai dari lomba hingga pentas kesenian.

Sudah saatnya generasi muda berperan aktif dalam menjaga dan memelihara taman bersejarah ini, sebagai bukti penghormatan kepada para bapak bangsa yang berjuang demi kemerdekaan Indonesia. Menjaga dengan cara menjadikan tempat tersebut sebagai tempat mengenang dan merenungkan kembali makna hakiki dari kemerdekaan, memelihara dengan cara tidak menjadikannya sebagai objek vandalisme. Jangan sampai Taman Proklamasi hanya menjadi pemanis kota dan seonggok bangunan yang tidak bermakna.

Informasi Selengkapnya
  • Indonesia Kaya

  • Indonesia Kaya

Berlangganan buletin Indonesia Kaya

Daftar ke buletin email Indonesia Kaya untuk mengikuti berita dan acara terkini.