Cari dengan kata kunci

rumah_pengasingan_bung_karno_1290.jpg

Napak Tilas ‘Jejak Bung Karno’ Saat Diasingkan di Ende

Tak hanya memiliki Danau Kelimutu yang indah, Ende juga menyimpan rekam jejak Bung Karno saat diasingkan Belanda.

Pariwisata

Ende, yang berada di wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), tak hanya terkenal akan keindahan Danau Tiga Warna (Danau Kelimutu). Ternyata, kota ini juga menyimpan catatan sejarah kemerdekaan bangsa Indonesia. Selain wisata alamnya, para pengunjung juga dapat berwisata sejarah untuk mengenang jejak Bung Karno saat diasingkan Belanda di kota seribu nyiur melambai ini. Untuk menuju Ende, tersedia transportasi umum via darat dari Labuan Bajo, penyebrangan laut dari pelabuhan-pelabuhan lain yang menghubungkannya dengan Ende, atau via udara dengan penerbangan langsung menuju Bandar Udara H. Hasan Aroeboesman, Ende.

Bangunan sederhana ini merupakan bekas rumah peninggalan Bung Karno dan keluarga sewaktu diasingkan di Ende pada 1934-1938.

Terletak di Jalan Perwira, Kelurahan Kotaraja, Kecamatan Ende Utara, bangunan sederhana ini merupakan bekas rumah peninggalan Bung Karno dan keluarga semasa diasingkan di Ende pada 1934-1938. Letaknya tak jauh dari Lapangan Pancasila dan Taman Renungan Bung Karno. Di sinilah pengunjung dapat meresapi bagaimana Bung Karno menjalani keseharian hidupnya bersama keluarga ketika diasingkan oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda selama 4 tahun lamanya. Bangunan sederhana yang berukuran tidak terlalu besar ini, yaitu 9×18 m2, terdiri dari dua buah kamar tidur, kamar tamu, dan sebuah ruangan untuk tempat bersemedi.

Di museum ini, semua barang peninggalan Bung Karno masih tersimpan dengan rapi dan apik, seperti foto keluarga, foto pribadi milik Bung Karno, keramik, lukisan-lukisan, lemari pakaian, naskah tonil, dua buah tongkat berkepala monyet, tempat tidur, serta barang-barang lainnya. Di belakang museum juga terdapat sumur dengan kedalaman 12 meter, yang dipergunakan oleh Bung Karno untuk mandi, mencuci, minum, dan mengambil wudu. Konon, air sumur ini dipercaya oleh masyarakat setempat dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit dan berkhasiat membuat orang menjadi awet muda.

Sampai sekarang, masih terdapat dua telapak tangan bekas Bung Karno bersujud.

Selain sumur tua, di dalam Situs Rumah Bung Karno juga terdapat sebuah ruang semedi atau tempat sembahyang yang selalu digunakan Bung Karno untuk bersujud memohon petunjuk bagi perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia. Bahkan, sampai sekarang masih terdapat dua telapak tangan bekas Bung Karno bersujud. Saat berkunjung ke situ, Anda disarankan untuk menggunakan jasa pemandu agar bisa mendapat penjelasan dan kisah menarik di balik benda-benda peninggalan tersebut.

Untuk jam operasional kunjungan, museum ini buka mulai pukul 08.00 hingga 16.00 WITA. Jika hendak masuk ke dalam museum dan sekadar melihat-lihat, pengunjung tidak akan dikenakan biaya, namun museum menyediakan kotak sumbangan yang bisa diisi dengan sejumlah uang seikhlasnya. Bagi Anda pecinta sejarah Indonesia dan ingin mengenang jejak Bung Karno, segeralah berkunjung ke museum yang menjadi saksi perjuangan Bung Karno ini. Cintailah budaya dan sejarah Indonesia!

Informasi Selengkapnya
  • Elsa Dwi Lestari

  • Indonesia Kaya