Cari dengan kata kunci

Purwaceng, Tanaman Herbal Khas Dieng

Purwaceng_1200.jpg

Purwaceng, Tanaman Herbal Khas Dieng

Pada awalnya, tanaman yang hanya dapat tumbuh di ketinggian di atas 2.000 meter di atas permukaan laut ini merupakan tanaman liar. Menurut penuturan warga sekitar, khasiat purwaceng diketahui tanpa sengaja. Saat itu, seorang warga yang lelah setelah menggarap lahan pertaniannya beristirahat.

Kuliner

Jika Korea memiliki ginseng yang terkenal akan khasiatnya, masyarakat Dataran Tinggi Dieng pun punya tanaman herbal yang tak kalah khasiatnya. Tanaman ini bernama purwaceng atau dalam bahasa latin disebut Pimpinella pruatjan.

Pada awalnya, tanaman yang hanya dapat tumbuh di ketinggian di atas 2.000 meter di atas permukaan laut ini merupakan tanaman liar. Menurut penuturan warga sekitar, khasiat purwaceng diketahui tanpa sengaja. Saat itu, seorang warga yang lelah setelah menggarap lahan pertaniannya beristirahat. Saat beristirahat, dia memetik daun sebuah tanaman rambat. Daun itu kemudian dikunyah.

Setelah mengunyah daun tersebut, sang petani merasa tubuhnya menjadi hangat dan tenaganya kembali pulih. Berita tentang daun yang berkhasiat pun menyebar. Seiring berjalannya waktu, purwaceng pun menjadi tanaman yang dibudidayakan dan menjadi komoditas ekonomi masyarakat Dataran Tinggi Dieng.

Pada awalnya, masyarakat sekitar mengkonsumsi purwaceng dengan cara merebusnya. Air rebusan purwaceng kemudian diminum. Tapi kemudian, purwaceng diolah menjadi bentuk serbuk sehingga dapat dikonsumsi kapan saja dan di mana saja. Dan saat ini, purwaceng sudah dicampur dengan bahan minuman lain seperti kopi, susu, dan teh sehingga lebih enak ketika dikonsumsi. Bahkan, sudah ada dalam bentuk kapsul.

Berbeda dengan ginseng yang hanya diambil bagian akarnya, purwaceng dimanfaatkan seluruh bagiannya. Setelah memasuki usia panen  biasanya saat berusia sekitar 1 tahun, tanaman purwaceng akan dicabut. Setelah dibersihkan dari tanah-tanah yang menempel, tanaman ini kemudian dikeringkan di oven untuk kemudian dihaluskan dan dikemas sesuai jenis produk yang diinginkan.

Melalui berbagai penelitian, tanaman ini diketahui memiliki berbagai manfaat, seperti menghangatkan tubuh, saraf, dan otot, menghilangkan masuk angin dan pegal linu, melancarkan buang air kecil, menghilangkan rasa sakit, menurunkan panas, obat cacing, anti-bakteri, serta mencegah kanker.

Di Dataran Tinggi Dieng, hanya empat desa yang penduduknya membudidayakan tanaman ini. Keempat desa tersebut adalah Desa Patok Benteng, Desa Sikurang, Desa Sembungan, dan Desa Dieng. Usaha membudidayakan tanaman ini di di luar Dieng  pun pernah dilakukan. Hanya saja, hasilnya tidak sesuai seperti yang diharapkan.

Satu yang membuat tanaman ini dapat tumbuh dengan baik di Dataran Tinggi Dieng adalah kondisi tanah di sini. Tanah di Dataran Tinggi Dieng memiliki kandungan belerang yang cukup tinggi. Karenanya, tumbuhan yang ditanam di sini dapat tumbuh dengan maksimal.

Di Dataran Tinggi Dieng, terdapat beberapa industri rumahan yang memproduksi aneka minuman berbahan dasar purwaceng. Setiap industri memiliki ramuan/racikan tersendiri. Karenanya, rasa yang dihasilkan oleh setiap produk pun akan berbeda – walaupun jenisnya sama. Begitu pula dengan harganya.

Satu boks purwaceng bubuk dijual dengan kisaran harga Rp50.000 sampai Rp70.000. Sementara, purwaceng yang dikemas dalam bentuk kapsul dijual antara Rp50.000 sampai dengan Rp100.000 per bungkus. [Agung/IndonesiaKaya]

Informasi Selengkapnya
  • Elsa Dwi Lestari

  • Indonesia Kaya

Berlangganan buletin Indonesia Kaya

Daftar ke buletin email Indonesia Kaya untuk mengikuti berita dan acara terkini.