Cari dengan kata kunci

Yadnya Kasada Ritual Adat di Kaki Gunung

468_menunggu_sunrise_di_pananjakan_pada_saat_kasada_bromo_berlangsung.jpg

Yadnya Kasada Ritual Adat di Kaki Gunung

Bermula dari legenda pengorbanan anak leluhur orang Tengger. Bermakna mendalam sebagai rasa syukur kepada Tuhan dan menjaga alam.

Tradisi
Tagar:

ANGIN berhembus kencang. Pasir-pasir beterbangan. Barisan orang yang mengangkut berbagai macam sesaji tetap berjalan sembari sesekali menyeka mata. Pemimpin barisan berpakaian serba putih berada paling depan. Di belakangnya, beberapa orang tampak membawa pajeng (sejenis payung besar). Mereka berhenti tepat di depan Pura Poten di kaki Gunung Bromo, Jawa Timur.

Adegan ini merupakan rangkaian ritual adat Yadnya Kasada atau dikenal juga dengan sebutan Kasada Bromo. Biasa digelar oleh orang-orang Tengger dari empat kabupaten di Jawa Timur : Pasuruan, Malang, Lumajang, dan Probolinggo. Kasada diadakan tiap tahun sekali pada hari ke-15 dalam bulan Kasada atau bulan ke-12 dalam penanggalan orang Tengger. Mereka berkumpul di hamparan pasir (segara wedhi) kaki Gunung Bromo.

Dari kaki Gunung Bromo, orang-orang Tengger berjalan kaki membawa berbagai sesajian menuju kawah. Disini, mereka melempar sesajian berupa buah buahan, sayuran, hewan ternak, dan hasil bumi lainnya ke kawah. Simbol pengabdian pada Sang Hyang Widhi, pengorbanan, penyucian diri, rasa syukur, penjagaan hubungan harmonis dengan alam, dan penghormatan pada leluhur mereka.

Yadnya Kasada terbuka untuk umum dan seluruh orang Tengger dari agama apapun. Upacara ini kental dengan ritual dan ajaran agama Hindu. Tapi bagi orang Tengger, berkahnya tak hanya untuk orang-orang Hindu, tetapi juga untuk semua orang.

Orang Tengger telah menggelar Yadnya Kasada sejak kehadiran mereka di Tengger pada masa Kerajaan Majapahit sekira abad ke-13 M. Ada banyak versi tentang asal-usul orang Tengger. Sudiro dalam “Legenda dan Religi Sebagai Media Integrasi Bangsa” di jurnal Humaniora, Vol. 13 No. 1 2001, menyebutkan dua versi: legenda dan sejarah.

Versi legenda menyatakan Tengger berasal dari gabungan nama dua leluhur mereka: Rara Anteng (Teng), putri raja Brawijaya, dan Joko Seger (Ger), putra seorang Brahmana Kediri. Keduanya menikah dan hidup di sekitar wilayah Penanjakan, tak jauh dari Gunung Bromo. Tapi mereka tak punya anak untuk waktu lama. Hingga akhirnya mereka berdoa kepada Sang Hyang Widhi Wasa.

Rara Anteng dan Joko Seger berjanji jika punya anak, salah satu anaknya akan dikorbankan. Tak lama kemudian, Rara Anteng hamil dan melahirkan. Anak mereka berjumlah 25. Setelah lahir, salah seorang anak mereka, Raden Kusuma, menghilang. Mereka kemudian mendengar suara Raden Kusuma keluar dari kawah Gunung Bromo.

“Keturunan Rara Anteng dan Joko Seger atau masyarakat Tengger dapat hidup aman sejahtera bila pada waktu-waktu tertentu mereka akan memberi korban ke kawah Gunung Bromo,” sebut Sudiro.

Maksud “memberi korban” adalah mendermakan sebagian hasil panen dan ternak ke kawah Bromo. Inilah muasal upacara Kasada. Versi legenda ini tak berbeda jauh dari versi sejarah. Menurut sejumlah prasasti di sekitar pegunungan Bromo dan Negarakertagama, orang Tengger juga disebut telah bermukim di kawasan Tengger sejak masa Majapahit.

Sutarto dalam “Legenda Kasada dan Karo Orang Tengger Lumajang”, disertasi di Universitas Indonesia tahun 1997, menyebut orang-orang Tengger hidup sebagai petani yang tangguh. Alam sekitar pegunungan yang dingin menempa mereka bekerja sepanjang hari agar tubuh tetap hangat. Hasil panen melimpah dan kebutuhan mereka tercukupi oleh alam di sekelilingnya. Karena itulah mereka menghormati alam dan berusaha menjaga hubungan harmonis dengannya.

Gunung Bromo yang berkawah merupakan gunung terendah di antara gunung-gunung lain di kawasan Tengger. Orang Tengger menganggap Gunung Bromo suci. Ia adalah bagian dari alam yang telah membantu orang Tengger menghidupi kesehariannya.

Karena itu, apapun yang dilempar ke dalam kawah menjadi bermakna penghormatan pada alam sekaligus penyucian. Kawah untuk melempar sesaji pada ritual Yadnya Kasada disebut juga pelabuhan. Sebab, ke sanalah orang Tengger melabuhkan semua persembahan sebagai pesan leluhur mereka, Kyai Kusuma atau Raden Kusuma.

Ritual adat Yadnya Kasada bertahan dan diwariskan dari generasi ke generasi. Makna ritualnya tetap terjaga pula. Beberapa pengamat asing mencatat jalannya upacara ini pada rentang abad ke-19-20.

Tak banyak perubahan makna pada upacara Yadnya Kasada. Perubahan hanya menyangkut bentuk-bentuk sesaji dan rangkaian acaranya. Dahulu Kasada tak memiliki rangkaian acara lain. Memasuki tahun 1980-an, orang-orang Tengger mulai menambahkan sejumlah mata acara tari-tarian dan musik tradisional.

Selain itu, ada mata acara tambahan lainnya terkait dengan pengukuhan seseorang di luar Tengger sebagai warga kehormatan Tengger. “Pada hari raya Kasada, laut pasir dan bibir kawah Gunung Bromo penuh dengan manusia. Bahkan pada hari raya ini telah muncul tradisi baru, yakni pengukuhan pejabat tinggi negara sebagai sesepuh dan warga kehormatan Tengger,” catat Sutarto.

Beberapa nama bisa disebut seperti Menko Polkam Soesilo Soedarman (1993-1998), Mendagri Amir Machmud (1969-1982), Menparpostel Achmad Tahir (1982-1988), Menteri Peranan Wanita Lasiah Soetanto (1983-1987), dan Menteri Agama KH Munawir Sjadzali (1983-1993). Sisanya pejabat tingkat provinsi dan daerah tingkat II.

Orang-orang itu dikukuhkan oleh dukun pandhita atau pemimpin upacara adat dan keagamaan di Tengger. Dukun pandhita pula yang menyusun dan memastikan rangkaian Kasada berjalan lancar.

Menurut Nicolaas Warouw dkk dalam Inventarisasi Komunitas Adat Tengger, Kasada memiliki tiga tahapan besar. Pertama, pengambilan air (mendhak tirta) yang diikuti oleh tidak tidur secara bergantian sampai pembukaan Kasada (makemit) dan menyucikan sarana dan alat Kasada (melasti). Kedua, pembukaan Kasada berupa pertunjukan sendratari. Ketiga, membuang sesaji ke kawah secara beriringan dan berbaris.

Setelah upacara selesai, sesaji dibawa dari kaki Gunung Bromo ke atas kawah. Dan mereka melemparkan ke dalam kawah, sebagai simbol pengorbanan yang dilakukan oleh nenek moyang mereka.

Hingga hari ini, orang masih bisa menyaksikan rangkaian upacara Yadnya Kasada. Untuk dapat melihat upacara ini di Bromo lebih baik kita datang sebelum tengah malam, karena ramainya persiapan para dukun. Dari melihat Yadnya Kasada, orang bisa belajar tentang makna sebuah upacara yang tak termakan zaman.*

Tagar:
Informasi Selengkapnya
  • Indonesia Kaya

  • Barrykusuma

  • Nicolaas Warouw dkk. Inventarisasi Komunitas Adat Tengger. Yogyakarta: Balai Pelestarian Nilai Budaya Yogyakarta, 2012.
    Sudiro. “Legenda dan Religi Sebagai Media Integrasi Bangsa”, jurnal Humaniora Vol. 13 No. 1, 2001.
    Sutarto. “Legenda Kasada dan Karo Orang Tengger Lumajang”, disertasi di Universitas Indonesia, 1997.

Berlangganan buletin Indonesia Kaya

Daftar ke buletin email Indonesia Kaya untuk mengikuti berita dan acara terkini.