Cari dengan kata kunci

Ludruk , Kesenian Guyonan Asal Jawa Timur

Ludruk_1200.jpg

Ludruk , Kesenian Guyonan Asal Jawa Timur

Berawal dari pertunjukan keliling. Berkembang jadi sandiwara yang menghibur banyak orang.

Kesenian

KISAH yang diangkat merupakan cerita sehari-hari yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Bahasanya mudah dimengerti, bahkan diselingi guyonan dan gerak yang bisa membuat penonton terpingkal-pingkal.

Ludruk merupakan kesenian teater rakyat Jawa Timur yang berasal dari kalangan rakyat jelata. Di Surabaya ludruk masih kerap dipentaskan, bertahan meski hanya dimainkan oleh beberapa puluh orang.

Ludruk merupakan salah satu jenis teater tradisi. Artinya ludruk tumbuh dari ekspresi rakyat kebanyakan. Tema-tema ceritanya muncul dari permasalahan keseharian rakyat. Dipentaskan dengan bahasa sehari-hari yang digunakan masyarakat kalangan bawah. Karena itu pula ludruk dinilai sebagai teater rakyat.

Dalam pertunjukan ludruk biasanya terdapat unsur tari remo, dagelan, selingan, dan cerita (lakon). James L. Peacock dalam Ritus Modernisasi: Aspek Sosial & Simbolik Teater Rakyat Indonesia, menulis bahwa isi dari tarian remo, dagelan, selingan, dan cerita bervariasi dari satu pertunjukan ke pertunjukan lain, serta isi dan elemen-elemen lain bervariasi secara hampir bebas dari isi dari elemen-elemen lain.

“Sebuah rombongan ludruk katakan saja biasa menampilkan enam dagelan yang berbeda, enam cerita yang berbeda, dan tiga jenis ngremo selama 20 pertunjukannya berturut-turut,” tulis Peacock.

Tak ada pakem yang pasti terhadap pertunjukan ludruk, seperti jumlah pemain dan jumlah babak. Para pemain ludruk dituntut berimprovisasi dan mengembangkan jalan cerita yang sudah dibuat terlebih dahulu.

Ludruk mulai dikenal pada abad ke-12. Saat itu namanya Ludruk Bandhan. “Ludruk Bandhan ini mempertunjukkan sejenis pameran kekuatan dan kekebalan yang bersifat magis dengan menitikberatkan pada kekuatan batin,” catat Sunaryo H.S. dkk dalam Perkembangan Ludruk di Jawa Timur: Kajian Analisis Wacana

Ludruk Bandhan biasanya tampil di tanah lapang. Alat musik pengiringnya antara lain kendang dan jidor. “Pertunjukan ini seringkali digunakan sebagai pengobatan anak yang sedang sakit,” ungkap Ayu Sutarto dalam makalah seminar berjudul “Reog dan Ludruk: Dua Pusaka Budaya Dari Jawa Timur Yang Masih Bertahan”.

Kemudian Ludruk Bandhan berkembang menjadi Lerok Pak Santik selama abad ke-17 sampai 18. Lerok berasal dari kata “lira”, yaitu alat musik petik seperti kecapi. Alat ini digunakan selama pertunjukan.

Pak Santik, seorang petani dari Jombang, Jawa Timur, adalah tokoh yang memperbaharui kesenian ludruk. Selama pertunjukan, dia memakai riasan muka dan ikat kepala. Dadanya dibiarkan tanpa kain penutup. Celananya menjuntai hingga atas mata kaki dan berwarna hitam. Dia juga menyampirkan selendang yang disebut sampur.

Dalam pertunjukan, Pak Santik menari (ngremo) sembari berbicara sendiri mengungkapkan isi hatinya (kidungan). Dia mahir memakai mulut untuk menyuarakan bebunyian yang menyerupai alat musik. Kakinya seringkali menghentak-hentak tanah lapang sehingga menimbulkan bunyi gedrak-gedruk. Dari sinilah kemungkinan asal kata ludruk.

Pak Santik biasanya tampil atau nanggap dalam pesta pernikahan, sunatan, dan kelahiran di kampung-kampung. Karena kelimpahan order, dia mengajak teman-teman untuk membantunya. Semuanya laki-laki.

Teman-teman Pak Santik berperan sebagai pelawak (badhut) dan perempuan (teledhek). Pak Santik tak lagi berbicara sendiri. Mulai ada unsur dialog dan cerita (lakon) dalam ludruk. Mereka tak hanya mengandalkan mulut sebagai pelempar guyonan, tapi juga bahasa tubuh. Pertunjukan semacam ini diikuti seniman lain dan berkembang di Surabaya, Malang, dan Mojokerto.

Ludruk kemudian identik dengan guyonan. Awalnya lebih banyak memainkan dagelan slapstick (lawak kasar fisik). Namun, setelah muncul ludruk Cak Gondo Durasim pada 1920-an, banyak perubahan dalam konsep dagelan. Ludruk lebih cenderung ke lawak halus, dengan permainan kata-kata dan sindiran sosial-politik.

Cak Durasim adalah sosok yang melegenda di dunia kesenian ludruk. Pemimpin kelompok Ludruk Genteng, yang lebih dikenal dengan nama Ludruk Gondo, ini melakukan pembaruan terhadap kesenian ludruk. James L. Peacock menyebut sebuah deskripsi mengenai ludruk yang diterbitkan tahun 1930 melaporkan bahwa Durasim baru saja mengorganisir sebuah “jenis ludruk baru”.

Cak Durasim juga memanfaatkan pertunjukan rakyat ini untuk menyampaikan ide-ide nasionalisme dan perlawanan. Pada masa Jepang, meski dalam kontrol ketat, Cak Durasim menciptakan kidungan yang legendaris: “Pegupon omahe doro, melok Nipon tambah soro.” Artinya, “pegupon rumah burung dara, ikut Nipon tambah sengsara.”

“Sebagai akibatnya, menurut satu cerita, dia disiksa oleh tentara Jepang dan kemudian meninggal dunia pada tahun 1944,” sebut Peacock.

Semangat Cak Gondo Durasim dilanjutkan oleh Wibowo atau Cak Gondo bersama Ludruk Marhaen yang terkenal pada era 1950-an hingga 1965 dengan semangat revolusionernya.

Sempat redup di awal Orde Baru, sejumlah seniman ludruk muncul ke permukaan dan meraih popularitas. Salah satunya Kartolo Cs, yang bukan hanya sukses dalam setiap pertunjukan tapi juga kaset rekaman yang diterima baik oleh masyarakat.

Fuji Rahayu dalam penelitiannya berjudul “Perkembangan Seni Pertunjukan Ludruk di Surabaya tahun 1980-1995 (Tinjauan Historis Grup Kartolo CS)” dimuat jurnal Avatara, Vol. 2, No. 2, Juni 2014, menyebut kreativitas Kartolo dan kawan-kawan menampilkan lawak bergaya ludrukan mampu mengangkat kembali pamor ludruk yang sempat redup.

“Kartolo mengedepankan lawak dengan gaya ludrukan, daripada menampilkan ludruk secara utuh. Hal ini disebabkan karena ludruk sudah tidak lagi sesuai dengan perkembangan zaman,” catat Fuji Rahayu.

Hingga saat ini ludruk bisa bertahan karena lakon-lakon yang dipentaskan sangat aktual dan akrab dengan budaya setempat. Tentu saja disampaikan dengan bahasa yang komunikatif dan disertai lawakan yang menghibur.*

Informasi Selengkapnya
  • Indonesia Kaya

  • Indonesia Kaya

  • Ayu Sutarto. “Reog dan Ludruk: Dua Pusaka Budaya Dari Jawa Timur Yang Masih Bertahan”, makalah dalam seminar “Pengenalan Budaya Lokal Sebagai Wahana Peningkatan Pemahaman Keanekaragaman Budaya”, Yogyakarta, 2009.
    Fuji Rahayu. “Perkembangan Seni Pertunjukan Ludruk di Surabaya tahun 1980-1995 (Tinjauan Historis Grup Kartolo CS)”, jurnal Avatara, Vol. 2, No. 2, Juni 2014.
    James L. Peacock. Ritus Modernisasi: Aspek Sosial & Simbolik Teater Rakyat Indonesia. Depok: Desantara, 2005.
    Sunaryo H.S. dkk. Perkembangan Ludruk di Jawa Timur Kajian Analisis Wacana. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1997.

Berlangganan buletin Indonesia Kaya

Daftar ke buletin email Indonesia Kaya untuk mengikuti berita dan acara terkini.