Cari dengan kata kunci

Barongsai Bukan Sekadar Tarian Imlek

barongsai_1290

Barongsai Bukan Sekadar Tarian Imlek

Berhubungan erat dengan tradisi etnis Tionghoa. Sempat dilarang, barongsai menjadi kesenian publik yang digemari dan berkembang luas.

Kesenian
Tagar:

SEPASANG singa menari atraktif. Satu singa melonjak-lonjakkan kepalanya. Singa satunya lagi, yang memiliki empat kaki, bergerak lebih lincah dan dinamis. Sesekali berdiri dengan dua kaki. Tarian kedua singa semakin energik dengan iringan tabuhan drum dan simbal; membuat penonton riuh dan bergairah.

Begitulah penampilan barongsasi yang selalu menghiasi perayaan “Tahun Baru Cina” atau biasa dikenal dengan sebutan Imlek di mal maupun tempat umum lainnya. Sebuah daya tarik tersendiri bagi masyarakat untuk menyaksikannya.

Barongsai adalah tarian tradisional Tiongkok dengan menggunakan sarung yang menyerupai singa. Kesenian yang sering disebut sebagai tarian singa ini terbagi menjadi dua jenis. Singa utara memiliki surai ikal dan berkaki empat. Sedangkan singa selatan yang lincah memiliki sisik dengan jumlah kaki bervariasi antara dua atau empat dan dilengkapi tanduk.

Atraksi barongsai melibatkan gerakan kaki yang menuntut kecepatan, kekuatan, dan keseimbangan kaki pemainnya. Kekuatan tangan juga diperlukan untuk memainkan kepala barongsai atau mengangkat badan teman yang di depan. Jadi, bisa dikatakan, atraksi barongsai terpusat pada olah gerak tubuh. Di dalamnya ada unsur tarian, bela diri, dan akrobatik. Gerakannya mengikuti hentakan ritme yang dihasilkan oleh pemain musik.

Secara umum, ada beberapa teknik dalam memainkan tarian barongsai. Kendati demikian, masing-masing teknik ini masih tetap mengikuti pola dasar yang sama. Menurut Arina Restian dalam Pembelajaran Seni Tari di Indonesia dan Mancanegara, dalam memainkan tarian barongsai terdapat delapan elemen atau pola dasar, yaitu tidur, membuka, bermain, pencarian, berkelahi, makan, penutup, dan tidur. “Tarian dapat diperpanjang, atau mungkin keluar dari kebiasaan bermain,” tulis Arina.

Selain itu, terdapat gerakan utama atau inti yang disebut Lay See. Yakni gerakan singa yang memakan amplop berwarna merah berisikan uang. Di atas amplop itu biasanya ditempeli sayuran selada air atau disebut dengan istilah Chai Chin, yang melambangkan hadiah bagi Sang Singa. “Proses memakan Lay See ini berlangsung sekitar separuh bagian dari seluruh tarian singa,” tambah Arina.

Ada banyak versi legenda mengenai asal-usul barongsai. Tapi umumnya dikaitkan dengan kepercayaan bahwa barongsai sebagai penjaga serta pengusir roh jahat dan tolak bala. Irwan Abdullah, guru besar Antropologi Universitas Gadjah Mada, dalam Agama dan Kearifan Lokal dalam Tantangan Global menyebut tarian singa ini berakar dari masa Dinasti Chin sekira abad ke-3 SM. Ia kemudian menjadi tradisi yang populer pada zaman Dinasti Nan-Bei, sekira 420-589.

Tradisi ini dibawa ke Indonesia seiring migrasi besar-besaran dari Tiongkok sekira abad ke-17. “Secara bahasa, kata Barongsai merupakan gabungan dari kata Barong yang berasal dari bahasa Jawa dan kata Sai dari dialek Hokkian yang juga berarti singa,” jelas Irwan Abdullah.

Menurut Agni Malagina dalam “Tarian Barongsai Nan Eksotis: Dari Global ke Lokal, Kembali ke Global” dimuat buku Setelah Air Mata Kering: Masyarakat Tionghoa Pasca-Peristiwa Mei 1998 suntingan I. Wibowo dan Thung Ju Lan, barongsai tak bisa dilepaskan dari kegiatan kelenteng-kelenteng yang tersebar di Pulau Jawa, Sumatra, dan Kalimantan. “Saat itu barongsai masih erat kaitannya dengan tradisi dan upacara keagamaan,” jelas Agni.

Karena itulah sebelum atraksi barongsai, ada serangkaian ritual yang harus dilakukan bagi barongsai maupun para pemainnya. Tujuannya agar pertunjukan berjalan lancar serta para dewa datang untuk menyaksikan sekaligus memberikan kekuatan dan keselamatan.

Amilda Sani, dosen Antropologi Budaya UIN Raden Fatah Palembang, dalam “Atraksi Barongsai: Dari Klenteng ke Mall, Sebuah Fenomena Desakralisasi Simbol Ritual Agama” di jurnal Tamaddun Vol. 17 No. 2, 2017, menyebut atraksi barongsai sejatinya memiliki makna religius sebagai penghubung manusia dengan alam gaib. Ia merupakan bentuk tari ritual sakral. Karenanya tarian ini dilakukan pada waktu tertentu dan untuk tujuan tertentu pula.

“Pentingnya peran atraksi barongsai ini dalam ritual masyarakat Tionghoa, maka perkumpulan-perkumpulan barongsai berada di bawah naungan kelenteng,” jelas Amilda Sani.

Pertunjukan barongsai mengalami masa kejayaan seiring munculnya perkumpulan Tiong Hoa Hwee Koan. “Hampir setiap perkumpulan Tiong Hoa Hwee Koan di berbagai daerah di Indonesia dipastikan memiliki paguyuban kesenian barongsai,” jelas Soedarsono.

Sempat menghilang di masa Orde Baru seiring larangan terhadap segala hal berbau Tionghoa, pertunjukan barongsai menggeliat kembali setelah masa reformasi. Bahkan dipertandingkan.

Menurut Arina, pertandingan barongsai umumnya dibagi ke dalam dua nomor, yakni nomor lantai (tradisional) dan nomor tonggak (internasional). Barongsai nomor lantai adalah dasar dari permainan barongsai. Sedangkan barongsai nomor tonggak dimainkan di atas deret tombak dengan tinggi 80 cm sampai 3 meter serta panjang minimal 3 meter dan maksimal 15 meter. Tinggi tonggak yang digunakan untuk menari inilah yang membedakan nomor tradisional dan internasional.

Barongsai sendiri sudah dikembangkan jadi salah satu cabang olahraga yang menarik kelompok di luar etnis Tionghoa, misal Jawa dan Sunda. Terbentuk pula Federasi Olahraga Barongsai Indonesia (FOBI) yang sudah diakui Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI). Beberapa kali tim barongsai menjadi juara dunia dan mengharumkan nama Indonesia. “Dengan ini sebenarnya barongsai telah meninggalkan ‘tanah leluhurnya’,” ungkap Agni.

Makin ke sini barongsai tumbuh sebagai seni pertunjukkan yang bersifat hiburan maupun komersial. Penampilannya muncul di berbagai ruang publik. Selain itu, muncul pula “barongsai ngamen” yang menjajakan diri dengan mengetuk rumah-rumah dan toko untuk memperoleh angpao ala kadarnya.

Barangkali dengan berbagai cara itu pula barongsai tetap lestari.*

Tagar:
Informasi Selengkapnya
  • Indonesia Kaya

  • Indonesia Kaya

  • Agni Malagina. “Tarian Barongsai Nan Eksotis: Dari Global ke Lokal, Kembali ke Global” dalam I. Wibowo dan Thung Ju Lan, Setelah Air Mata Kering: Masyarakat Tionghoa Pasca-Peristiwa Mei 1998. Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2010.

    Amilda Sani. “Atraksi Barongsai: Dari Klenteng ke Mall, Sebuah Fenomena Desakralisasi Simbol Ritual Agama”, jurnal Tamaddun Vol. 17 No. 2, 2017.

    Arina Restian. Pembelajaran Seni Tari di Indonesia dan Mancanegara. Malang: UMMPress, 2017.

    Irwan Abdullah dkk. Agama dan Kearifan Lokal dalam Tantangan Global. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2008.
    R.M. Soedarsono. Seni Pertunjukan Indonesia di Era Globalisasi. Yogyakarta:Gadjah Mada University Press, 2002.

Berlangganan buletin Indonesia Kaya

Daftar ke buletin email Indonesia Kaya untuk mengikuti berita dan acara terkini.