Cari dengan kata kunci

Tradisi Perahu Naga di Hari Raya Peh Cun

perahu_naga_1200.jpg

Tradisi Perahu Naga di Hari Raya Peh Cun

Setiap tanggal 5 bulan 5 dalam penanggalan Khongcu Lek, masyarakat peranakan Tionghoa yang berada di seputaran Sungai Cisadane mempunyai hajat. Hajat yang dimeriahkan dengan berbagai acara dan tradisi peranakan tersebut berkaitan dengan perayaan peh cun. Masyarakat Tionghoa mengenal pehcun sebagai hari Twan Yang.

Tradisi
Tagar:

Setiap tanggal 5 bulan 5 dalam penanggalan Khongcu Lek, masyarakat peranakan Tionghoa yang berada di seputaran Sungai Cisadane mempunyai hajat. Hajat yang dimeriahkan dengan berbagai acara dan tradisi peranakan tersebut berkaitan dengan perayaan peh cun. Masyarakat Tionghoa mengenal peh cun sebagai hari Twan Yang. Pada hari tersebut, di waktu Twan Ngo yaitu sekitar pukul 11.00 – 13.00 diyakini sebagai waktu yang baik untuk memetik tanaman obat. Selain itu, pada waktu Twan Ngo masyarakat Tionghoa juga melaksanakan sembahyang Twan Yang dan melakukan berbagai tradisi lainnya.

Tradisi lomba perahu naga merupakan salah satu dari berbagai tradisi dalam perayaan peh cun di Sungai Cisadane. Munculnya tradisi perahu naga tidak lepas dari kebudayaan sungai di Zaman Dinasti Ciu. Menurut buku berjudul Hari Raya Twan Yang (Hari Kehidupan) yang diterbitkan oleh perkumpulan keagamaan dan sosial Boen Tek Bio, tradisi lomba perahu naga berawal dari peristiwa di Sungai Bek Lo.

Peristiwa Sungai Bek Lo mengisahkan seorang menteri besar yang dikenal tangguh dan berpengaruh bernama Qu Yuan. Qu Yuan juga dikenal lantaran berhasil mempersatukan enam negeri ke dalam Negeri Cho untuk menyerang Negeri Chien. Orang-orang Negeri Chien kemudian menyerang balik dengan menyebarkan fitnah kepada Qu Yuan. Qu Yuan akhirnya terusir dari negerinya. Qu Yuan pun mengalami pengkhiatan dari negerinya sendiri.

Setelah lama, Qu Yuan akhirnya mendengar kabar bahwa Ibukota Negeri Cho hancur diserang Negeri Chien. Dalam tangis kelu dan amarah bisu, setelah sembahyang Twan Yang, Qu Yuan membacakan sajaknya yang berjudul “Li Sao” yang berarti “Jatuh Dalam Kesukaran” di depan banyak orang. Orang-orang tertegun mendengar sajak Qu Yuan yang mencurahkan perasaan cinta terhadap tanah air dan rakyatnya.

Selesai membacakan sajak, Qu Yuan dengan menggunakan perahu pergi ke Sungai Bek Lo. Dia menjauh dari keramaian orang lalu menceburkan diri ke dalam arus sungai yang mengalir deras. Beberapa orang yang sempat melihatnya berusaha menolong dan mencari, tapi usaha tersebut gagal.

Setelah kejadian itu, pada tahun kedua perayaan Twan Yang, seorang nelayan bernama Gi Hu membawa tempurung bambu berisi beras lalu menyebarkannya ke sungai sebagai bentuk penghormatan terhadap Qu Yuan. Pada tahun-tahun berikutnya, diadakan lomba perahu naga (Liong Cun) sebagai bentuk peringatan kembali atas usaha mencari jenazah Qu Yuan. Tradisi inilah yang menjadi cikal bakal lomba perahu naga yang selalu diadakan saat perayaan peh cun.

Lomba perahu naga dalam perayaan peh cun di Sungai Cisadane diikuti oleh empat kelompok. Mereka diadu pacu menggunakan perahu naga mengarungi Sungai Cisadane. Garis lintasan yang ditempuh para peserta sepanjang 500 meter. Dalam satu hari, akan dipertandingkan dua kelompok. Kelompok yang menjadi pemenang kemudian akan diadu oleh pemenang lainnya untuk memperebutkan gelar juara. Kelompok yang menjadi juara berhak atas hadiah sejumlah uang yang telah disediakan oleh panitia.

Lomba perahu naga pada perayaan Peh cun sudah mengakar dan menjadi tradisi. Diadakannya lomba perahu naga setiap tahun di Sungai Cisadane diharapkan mampu menumbuhkan rasa cinta masyarakat terhadap akar kebudayaannya sambil membentuk tim perahu naga yang mampu bersaing dalam kejuaraan dunia. [AhmadIbo/IndonesiaKaya]

Tagar:
Informasi Selengkapnya
  • Janitra Panji Satria

  • Indonesia Kaya

Berlangganan buletin Indonesia Kaya

Daftar ke buletin email Indonesia Kaya untuk mengikuti berita dan acara terkini.