Cari dengan kata kunci

Semarak Perayaan Pehcun di Sungai Cisadane

hari_raya_pehcun_1200.jpg

Semarak Perayaan Pehcun di Sungai Cisadane

Qu Yuan menceburkan diri ke sungai ketika mendengar Negeri Cho hancur. Hal itu dilakukan karena kecintaan yang sangat mendalam kepada negerinya. Diriwayatkan, Qu Yuan merupakan menteri besar yang hidup pada zaman Dinasti Ciu. Sikap patrioismenya yang tinggi mampu mempersatukan enam negeri yang pada mulanya bercerai.

Tradisi
Tagar:

Qu Yuan menceburkan diri ke sungai ketika mendengar Negeri Cho hancur. Hal itu dilakukan karena kecintaan yang sangat mendalam kepada negerinya. Diriwayatkan, Qu Yuan merupakan menteri besar yang hidup pada zaman Dinasti Ciu. Sikap patrioismenya yang tinggi mampu mempersatukan enam negeri yang pada mulanya bercerai. Tapi sayang, Qu Yuan mendapat fitnah dan terusir dari negerinya sendiri.

Selain menjadi bangsawan, Qu Yuan masyhur sebagai sastrawan. Konon, sebelum menceburkan diri ke Sungai Bek Lo, Qu Yuan sempat membacakan sajaknya yang berjudul “Li Sao” di depan orang banyak. Sajak tersebut berisi kegundahan hati atas berbagai praktik korupsi dan kejahatan hukum yang marak terjadi di negerinya. Peristiwa penceburan diri inilah yang kemudian menjadi latar sejarah perayaan pehcun di berbagai negara di dunia.

Perayaan pehcun menjadi festival penting dalam sejarah dan kebudayaan Tionghoa. Perayaan yang selalu diperingati setiap tanggal 5 bulan 5 dalam penanggalan Khongcu Lek tersebut selalu dirayakan di berbagai negara, termasuk Indonesia. Di Indonesia, perayaan pehcun rutin dilaksanakan di berbagai daerah, seperti Semarang, Yogyakarta, hingga Tangerang.

Perayaan pehcun di Sungai Cisadane, Tangerang, merupakan salah satu yang tertua di Indonesia. Sudah ada sejak tahun 1910, perayaan yang digelar rutin oleh perkumpulan Boen Tek Bio ini selalu diisi oleh berbagai ritual dan tradisi unik. Sebelum diadakan di Sungai Cisadane, perayaan ini diadakan di kawasan Kota, Jakarta. Tapi karena sungai di sana mengalami pendangkalan, perayaan pehcun dipindahkan ke Sungai Cisadane.

Dalam perayaan ini, diadakan berbagai tradisi yang tidak lepas dari kebudayaan sungai, seperti lomba perahu naga, lomba menangkap bebek, lempar bacang, hingga mendirikan telur di waktu Twan Ngo.

Seiring perjalanan waktu, perayaan pehcun yang semakin mengakar di masyarakat Tangerang membuat perayaan ini menjadi festival yang menarik. Penyelenggaraannya pun menjadi daya tarik bagi wisatawan untuk datang ke kota ini. Tapi yang terpenting, perayaan pehcun merupakan sikap menghayati kembali nilai-nilai patriotisme Qu Yuan sambil terus melestarikan Sungai Cisadane agar tetap asri dan bersih. [AhmadIbo/IndonesiaKaya]

Tagar:
Informasi Selengkapnya
  • Elsa Dwi Lestari

  • Indonesia Kaya

Berlangganan buletin Indonesia Kaya

Daftar ke buletin email Indonesia Kaya untuk mengikuti berita dan acara terkini.