Cari dengan kata kunci

Melestarikan Lingkungan dengan Sembahyang Twan Yang

sembahyang_twan_yang_1200.jpg

Melestarikan Lingkungan dengan Sembahyang Twan Yang

Nusantara sejak dulu terkenal dengan keanekaragaman ras dan kepercayaan. Meski demikian, masyarakat nusantara tetap hidup harmonis dan mampu menjadikan segala perbedaan sebagai kekayaan budaya. Hal tersebut bukanlah hisapan jempol belaka.

Tradisi
Tagar:

Nusantara sejak dulu terkenal dengan keanekaragaman ras dan kepercayaan. Meski demikian, masyarakat nusantara tetap hidup harmonis dan mampu menjadikan segala perbedaan sebagai kekayaan budaya. Hal tersebut bukanlah hisapan jempol belaka. Salah satu contoh bukti nyata keharmonisan dalam perbedaan tersebut terlihat dari animo masyarakat yang selalu meramaikan perayaan pehcun di Sungai Cisadane.

Perayaan pehcun merupakan tradisi leluhur yang masih dipegang teguh oleh peranakan Tionghoa yang bermukim di sekitar Sungai Cisadane. Dalam perayaan pehcun, digelar berbagai tradisi dan kesenian peranakan, seperti lomba perahu naga, tradisi melempar bebek, hingga persembahyangan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Sembahyang Twan Yang merupakan salah satu tradisi yang selalu dilaksanakan setiap perayaan pehcun. “Twan yang” secara etimologi berasal dari kata “twan” dan “yang”. “Twan” mempunyai makna lurus, terkemuka yang menjadi pokok, atau sumber, sedangkan “yang” berarti matahari dan segala hal yang memiliki sifat positif. Secara harfiah, “twan yang” dapat diartikan ketika matahari memancarkan cahayanya yang paling terang.

Berdasarkan makna tersebut, sembahyang Twan Yang dilakukan di tengah hari atau di waktu Twan Ngo, yaitu sekitar pukul 11.00–13.00 pada tanggal 5 bulan 5 penanggalan Khongcu Lek. Menurut Cing Eng, salah seorang dari perkumpulan Boen Tek Bio, sembahyang Twan Yang tidak hanya memiliki makna memuliakan Tuhan dan menghormati leluhur, tapi juga bermaksud menghormati semesta alam.

Mitos seputar perayaan pehcun mengatakan sembahyang Twan Yang yang dilakukan di tengah hari panas bukan tanpa sebab. Pada saat itu, diyakini jarak antara bumi dan matahari sangat dekat. Karenanya, banyak terjadi bencana. Untuk menangkal datangnya bencana itulah dahulu dilakukan sembahyang Twan Yang. Pada waktu Twan Ngo, manusia diingatkan untuk menjaga lingkungan sekaligus melestarikan alam agar tetap bersih dan lestari. [AhmadIbo/IndonesiaKaya]

Tagar:
Informasi Selengkapnya
  • Janitra Panji Satria

  • Indonesia Kaya

Berlangganan buletin Indonesia Kaya

Daftar ke buletin email Indonesia Kaya untuk mengikuti berita dan acara terkini.