Di masyarakat Minangkabau, setiap bagian tubuh kerbau memiliki fungsi. Selain dagingnya diolah menjadi beragam hidangan, kulitnya juga dapat dibuat menjadi kerupuk atau disamak untuk diolah menjadi berbagai barang keperluan sehari-hari. Selain daging dan kulitnya yang multiguna, tanduk kerbau juga memiliki fungsi tersendiri bagi masyarakat Minang, khususnya di daerah pedesaan.
Masyarakat Minangkabau memanfaatkan tanduk kerbau sebagai instrumen musik yang dikenal dengan nama pupuik tanduak. Alat musik ini dibuat dengan cara memotong ujung tanduk hingga membentuk rongga sampai ke pangkalnya. Pupuik tanduak dibunyikan dengan cara ditiup sehingga menghasilkan suara melengking yang menyerupai bunyi terompet.
Alat musik ini dibuat dengan cara memotong ujung tanduk hingga membentuk rongga sampai ke pangkalnya.
Meski termasuk alat musik tradisional, pupuik tanduak memiliki karakter yang sederhana. Instrumen ini hanya menghasilkan satu nada sehingga tidak digunakan sebagai aransemen pengiring tarian atau lagu. Karena itulah, fungsinya lebih dominan sebagai alat komunikasi daripada sebagai instrumen pertunjukan.
Di pedesaan Minangkabau, bunyi pupuik tanduak menjadi penanda yang mudah dikenali masyarakat. Alat ini dibunyikan sebagai penanda waktu Subuh dan Magrib, sehingga kehadirannya lekat dengan kehidupan sehari-hari warga kampung.
Alat musik tiup ini juga digunakan sebagai isyarat ketika pemuka kampung hendak menyampaikan pengumuman kepada warga.
Selain menjadi penanda waktu, alat musik tiup ini juga digunakan sebagai isyarat ketika pemuka kampung hendak menyampaikan pengumuman kepada warga. Dari tanduk kerbau yang sederhana, lahirlah instrumen yang memperlihatkan bagaimana masyarakat Minangkabau memanfaatkan setiap bagian kerbau sesuai dengan fungsinya dalam kehidupan sehari-hari.








