Jayapura: Gerbang Awal Semua Petualangan di Bumi Timur Papua - Indonesia Kaya

Cari dengan kata kunci

Kota_Jayapura_1290.jpg

Jayapura: Gerbang Awal Semua Petualangan di Bumi Timur Papua

Dari jejak sejarah, desa wisata di tengah laut, hingga wajah kota metropolitan di timur Indonesia, Jayapura hadir sebagai gerbang awal petualangan Papua yang penuh pesona.

Pariwisata

“Para penumpang yang terhormat, sekitar dua puluh menit lagi pesawat akan segera mendarat di Bandar Udara Sentani, Papua. Waktu setempat menunjukkan pukul dua belas lewat sepuluh menit, dua jam lebih cepat dari Jakarta,” demikian pengumuman pramugari terdengar samar, disertai pemandangan pepohonan hijau dan lautan biru yang tampak dari balik jendela pesawat. Pendaratan di Bandara Sentani menandai awal perjalanan di Provinsi Papua, dengan Jayapura sebagai tujuan pertama, ibu kota provinsi sekaligus gerbang pembuka petualangan di bumi Papua.

Jayapura merupakan kota modern yang terletak di Teluk Yos Sudarso. Namanya berarti “Kota Kemenangan” dalam bahasa Sanskerta. Di balik kesibukan kota ini, tersimpan sejarah panjang yang tercermin dari pergantian nama yang pernah dialami. Mulai dari Hollandia pada masa pemerintahan Belanda, kemudian Kota Baru saat berada di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa, Sukarnopura setelah bergabung dengan Indonesia, hingga akhirnya resmi bernama Jayapura pada 1968, serupa dengan kota Jaipur di Rajasthan, India.

Namanya berarti “Kota Kemenangan” dalam bahasa Sanskerta.

Rangkaian pergantian nama tersebut menunjukkan nilai sejarah yang kuat dan menjadikan kota ini menarik untuk ditelusuri lebih dalam. Setiap fase penamaan merekam jejak perjalanan politik dan sosial yang membentuk identitasnya hingga kini.

Perjalanan menuju pusat kota dari Bandara Sentani memakan waktu sekitar 1–1,5 jam menggunakan kendaraan bermotor, mengingat letak bandara berada di luar wilayah kota. Sepanjang perjalanan, panorama Pegunungan Cycloops yang megah dan hamparan Danau Sentani menjadi pemandangan utama. Kondisi jalan yang beraspal baik membuat perjalanan terasa nyaman, seiring dengan berbagai pembenahan infrastruktur dan perkembangan sosial-ekonomi yang terus dilakukan sebagai ibu kota provinsi.

Setelah perjalanan berakhir, tibalah di Jayapura. Memasuki wilayah kota, pemandangan gedung-gedung tinggi dan sejumlah proyek pembangunan langsung terlihat. Wajahnya mencerminkan kota metropolitan yang tengah berkembang pesat. Aktivitas kendaraan bermotor yang padat, kemunculan restoran cepat saji di sepanjang jalan, serta pembangunan hotel-hotel baru menjadi penanda dinamika perkotaan. Kehadiran pusat perbelanjaan besar di pusat kota semakin menegaskan kemajuan signifikan di ujung timur Indonesia, sekaligus menunjukkan daya tariknya bagi dunia investasi dan perdagangan.

Sebagai kota dengan sejarah yang luar biasa, Jayapura memiliki banyak daya tarik untuk dikembangkan, terutama wisata sejarah.

Tidak hanya dunia bisnis, pemerintah setempat pun tengah mengembangkan berbagai pariwisata yang menarik di Jayapura. Sebagai kota dengan sejarah yang luar biasa, Jayapura memiliki banyak daya tarik untuk dikembangkan, terutama wisata sejarah. Penelusuran sejarah yang kami lakukan pertama adalah mengunjungi Pantai Base-G. Pantai yang sangat terkenal di Jayapura ini adalah sebuah saksi sejarah pendaratan pasukan sekutu yang dipimpin oleh Jenderal Douglas McArthur pada saat Perang Dunia ke-2. Sesuai namanya, Base-G merupakan titik pendaratan armada ke tujuh milik sekutu ketika mempersiapkan penyerangan terhadap pasukan Jepang yang sudah menguasai wilayah Pasifik.

Tidak hanya Base-G, pantai lain yang masih satu jalur pun terdapat di pusat kota Jayapura. Pantai ini bernama Hamadi dan terletak satu wilayah dengan Pasar Hamadi yang menjadi pusat perdagangan tradisional warga Jayapura. Konon, Pantai Hamadi merupakan sebuah wilayah pertahanan tentara sekutu dan hingga kini kami masih dapat menyaksikan sisa peninggalannya yang berupa deretan tembok besar di sepanjang pantai. Seperti halnya Pantai base-G, Pantai Hamadi pun merupakan tempat wisata favorit bagi warga Jayapura ketika akhir pekan atau hari libur.

Seperti halnya Pantai base-G, Pantai Hamadi pun merupakan tempat wisata favorit bagi warga Jayapura ketika akhir pekan atau hari libur.

Setelah menyusuri pantai-pantai bersejarah, saatnya mengisi perut dengan mencicipi kuliner khas setempat. Pasar Dok-9 yang terletak tak jauh dari Pantai Base-G menjadi tujuan berikutnya. Di tempat ini tersaji ikan asar, kuliner khas yang telah dikenal luas hingga mancanegara. Berbahan dasar ikan cakalang asap, keistimewaannya terletak pada teknik pengasapan diagonal, berbeda dari metode umum yang disusun horizontal. Cara ini menghasilkan tekstur yang lebih kering dan rasa gurih, sekaligus membuat ikan mampu bertahan lebih lama tanpa tambahan pengawet.

Perjalanan dari Bandara Sentani menuju pusat kota memakan waktu sekitar 1–1,5 jam dengan kendaraan bermotor. Jarak tempuh terasa cukup panjang karena bandara berada di luar wilayah kota. Meski demikian, perjalanan terbayar oleh pemandangan alam yang memikat, berupa panorama Pegunungan Cycloops yang megah serta bentangan luas Danau Sentani. Kondisi jalan beraspal yang baik turut membuat perjalanan terasa nyaman.

Sebagai ibu kota provinsi, wilayah ini menunjukkan berbagai pembenahan, baik dari sisi infrastruktur maupun perkembangan sosial-ekonomi masyarakat. Upaya tersebut tampak jelas sepanjang jalur menuju kota, mencerminkan arah pembangunan yang terus bergerak maju.

Memasuki kawasan perkotaan, deretan gedung tinggi dan sejumlah proyek pembangunan langsung menyambut pandangan.

Memasuki kawasan perkotaan, deretan gedung tinggi dan sejumlah proyek pembangunan langsung menyambut pandangan. Wajahnya mencerminkan kota metropolitan yang tengah tumbuh pesat. Aktivitas lalu lintas yang padat, kemunculan restoran cepat saji, pembangunan hotel-hotel baru, hingga hadirnya pusat perbelanjaan besar di pusat kota menjadi penanda kemajuan signifikan. Tak heran jika kawasan di ujung timur Indonesia ini mulai menarik perhatian dunia investasi dan perdagangan.

Menjelajahi kota ini pun tidak memerlukan waktu lama. Wilayah yang memadukan pegunungan dan lautan seluas sekitar 940.000 hektare memungkinkan penjelajahan dalam waktu setengah hari dengan kendaraan bermotor. Salah satu titik yang kerap disinggahi adalah Pantai Dok-2, tepat di depan Kantor Gubernur Papua. Pantai kecil ini dikenal sebagai ruang berkumpul warga, baik saat mendukung tim sepak bola kesayangan maupun menyuarakan aspirasi. Menjelang sore, Teluk Yos Sudarso menyuguhkan pemandangan pelabuhan, gedung perkantoran, dan permukiman yang mulai bermandikan cahaya lampu, menciptakan suasana yang memikat.

Pandangan tertuju pada sebuah bukit di sisi barat yang tampak sangat mencolok. Sebuah tulisan “Jayapura City” menyala terang, mengingatkan pada tulisan Hollywood yang termasyhur. Letaknya yang menjulang menimbulkan dugaan bahwa bukit tersebut merupakan salah satu titik tertinggi di kota ini, sekaligus tempat terbaik untuk menikmati panorama dari ketinggian.

Sebuah tulisan “Jayapura City” menyala terang, mengingatkan pada tulisan Hollywood yang termasyhur.

Sekitar 15 menit perjalanan membawa langkah menuju bukit yang dipenuhi pemancar alat komunikasi, lokasi tulisan “Jayapura City” berada. Dari titik ini, hampir seluruh kawasan kota dapat terlihat jelas, sebagaimana tulisan yang sebelumnya tampak dari Pantai Dok-2. Saat malam tiba, gemerlap lampu yang menyala di berbagai penjuru menghadirkan pemandangan menawan dan meninggalkan kesan yang sulit dilupakan.

Penduduknya berjumlah sekitar 350.000 jiwa dan tersebar di seluruh wilayah kota. Komposisinya merupakan perpaduan antara masyarakat asli Papua dan para pendatang, terutama transmigran asal Jawa, Bugis, serta suku-suku lain di Indonesia. Dalam catatan sejarah, masyarakat asli wilayah ini diyakini bermula dari Teluk Youtefa yang bersebelahan dengan Teluk Yos Sudarso. Di kawasan tersebut terdapat dua desa tua, Tobati dan Enggros, yang kini berkembang sebagai desa wisata. Letaknya yang berada di tengah lautan, berpadu dengan keramahan serta tawa riang warganya, menjadi daya tarik utama kedua desa ini.

Kota di ujung timur Indonesia ini menyimpan begitu banyak pesona bagi siapa pun yang singgah. Ragam pengalaman yang ditawarkan seolah merangkum awal dari petualangan panjang di tanah Papua. Potensi besar terlihat di berbagai sektor, seiring pencapaian pembangunan yang terus berkembang. Tak banyak yang menyangka, di timur jauh Nusantara tumbuh sebuah kota metropolitan yang indah dan dinamis. Indonesia pun terasa lebih luas, dengan kawasan ini layak disebut sebagai gerbang awal petualangan di bumi timur Papua.

Informasi Selengkapnya
  • Elsa Dwi Lestari

  • Indonesia Kaya