Langit Kota Solo, Jawa Tengah, siang itu tampak cerah setelah berhari-hari cuaca menyelimuti kota dengan hujan. Tak jauh dari pusat kota, sebuah rumah dengan galeri kecil menjadi titik bersejarah seorang diva dan maestro keroncong, Waldjinah. Di ruang tengah sebuah rumah yang diberi nama Galeri Walang Kekek, Waldjinah duduk anggun dalam balutan busana bernuansa hitam dan emas yang elegan.
Kepalanya dililit turban merah marun khas, disematkan bros berhiaskan batu-batu berwarna. Busananya dipadukan dengan hiasan payet atau bordiran berkilau di bagian bahu dan lengan, sementara sebuah selendang batik melingkar anggun di lehernya. Riasan wajahnya tampil halus, mencerminkan ketelatenan seorang perempuan Jawa yang menjunjung tinggi tradisi. Di usia 79 tahun, Waldjinah tetap berbusana rapi, menyambut tamu dengan pakaian terbaik, dan berbicara dengan semangat yang utuh.
Di sampingnya, cucu perempuan yang setia, Clavinova Devy, menemaninya dengan senyum tenang. Ruangan dikelilingi lemari kaca berisi kain batik yang tersusun rapi dan ratusan penghargaan yang menempel di dinding bersanding bingkai-bingkai foto yang merekam jejak panjang perjalanan seorang Ratu Keroncong. Setiap sudutnya menyimpan cerita, bukan hanya tentang kesenian, tapi juga tentang kesetiaan yang terus hidup.
“Saya waktu kecil sudah belajar nyanyi,” ucap Waldjinah pelan membuka pintu masa lalu, “Nyanyi saya diajari Ibu saya dengan lagu-lagu Jawa, jadi Dandang Gulo, Semut Ireng, dan [lagu] bahasa jowonan. Sambil dimomong.”
Nyanyi saya diajari Ibu saya dengan lagu-lagu Jawa, jadi Dandang Gulo, Semut Ireng, dan (lagu) bahasa jowonan.
Waldjinah kecil tumbuh dalam keluarga sederhana. Ia dibesarkan oleh seorang ayah bernama Sri Hadjid Wirjo Rahardjo yang bekerja sebagai buruh perusahaan batik. Sedangkan ibunya, Kamini, seorang pedagang jajanan di pasar yang gemar menyanyikan lagu-lagu langgam Jawa sebelum Waldjinah tidur. Dari sanalah benih cinta pada musik keroncong tumbuh dalam dirinya.
Di dalam keluarga, Waldjinah merupakan anak bungsu dari sepuluh bersaudara. Nama “Waldjinah” mengandung makna “kesepuluh” yang diberikan oleh kedua orang tuanya. Waldjinah menuturkan bahwa awalan “wal” pada namanya dipilih karena ia lahir pada bulan Syawal, sementara kata “jinah” dalam bahasa Jawa berarti satuan persepuluh. Nama tersebut pun melekat dan menemani perjalanan Waldjinah sejak kecil hingga meniti karier di panggung musik keroncong.
Meski tak dibesarkan dalam keluarga seniman, bakat Waldjinah justru tumbuh secara alami. Munadi, sang kakak kedua Waldjinah menjadi sosok penting yang mengantarkan Waldjinah menekuni potensi dalam dirinya. Cerita masa kecil ini juga diceritakan ulang oleh Nova. Menurutnya, berkat dukungan dari sang kakak, eyang Waldjinah berhasil mengikuti beragam lomba menyanyi. Usia Waldjinah baru 12 tahun saat itu, tetapi bakat dan keberaniannya telah memukau orang-orang di sekitarnya.
“Bakat beliau (Waldjinah) ditemukan dan didukung penuh oleh keluarga apalagi oleh kakak kedua, Munadi. Beliau (Munadi) sangat men-support eyang untuk mengejar dan mengajari ikut lomba-lomba umur 12 tahun dan selalu menang,” cerita Nova.
Dari satu panggung ke panggung lain, Waldjinah tumbuh sebagai penyanyi muda yang kian dikenal luas. Namanya semakin mencuri perhatian ketika pada tahun 1958 ia dinobatkan sebagai Ratu Kembang Katjang, setelah memenangkan ajang Bintang Radio Indonesia yang diselenggarakan oleh Radio Republik Indonesia (RRI). Sejak saat itu, Waldjinah mulai diperhitungkan sebagai salah satu sosok penting dalam dunia langgam Jawa dan musik keroncong Tanah Air.
Karier Waldjinah kemudian mencapai titik emas saat usianya 19 tahun. Lagu Walang Kekek, dengan suara khas dan lengkingan tinggi yang ia bawakan, meledak di pasaran. Lagu itu diakui Waldjinah pertama kali diciptakannya ketika berada di dalam kereta. Walau dinyanyikan dalam bahasa Jawa dengan diksi berpantun jenaka, lagu Walang Kekek dapat dimaknai sebagai nasihat agar tidak meremehkan kaum perempuan.
Tahun 1965 menjadi tahun yang tak terlupakan. Waldjinah berhasil menjuarai Festival Keroncong Piala Presiden langsung dari tangan Presiden Soekarno. Pada momen itu, Waldjinah ingat dirinya sedang mengandung anak kelima. Ada sebuah pesan yang dititipkan presiden kepada Waldjinah.
“Saat itu eyang usia 20 tahun, menang juara pertama, dan dalam keadaan mengandung anak kelima beliau. Anak kelima beliau dinamakan Adi Bintang Nurcahyo, nama yang diberikan Presiden Soekarno sendiri,” lanjut Nova menceritakan masa lalu yang Waldjinah.
Sejak saat itu, nama Waldjinah seolah terus membawa berkah. Karier menyanyi langgam Jawa dan keroncong tak hanya dimainkan di Indonesia saja, tetapi mengantarkan Waldjinah untuk menyambangi panggung musik di luar negeri. Satu dari banyak panggung yang berkesan adalah panggung pertama Waldjinah di Suriname yang memiliki kesan tersendiri baginya.
Sebuah negara merdeka di Amerika Selatan ini pernah menjadi titik perhentian Waldjinah untuk pertama kalinya tampil menyanyikan lagu-lagu andalannya. Menariknya, sebagai sebuah penghargaan atas popularitas lagu-lagu Waldjinah, nama Waldjinah diabadikan menjadi nama sebuah jalan di salah satu Kampung Jawa di Suriname. Waldjinah ingat betul bagaimana setiap pertunjukannya di luar negeri selalu mendapat respons positif dari penikmat musik keroncong di sana.
Sebagai sebuah penghargaan atas popularitas lagu-lagu Waldjinah, nama Waldjinah diabadikan menjadi nama sebuah jalan di salah satu Kampung Jawa di Suriname.
“Kalau (pentas) di luar negeri, pasti dikomentari, semuanya ditulis oleh majalah luar negeri,” tambah Waldjinah tersenyum.
Batik Jadi Saksi Karier Waldjinah
Selain dikenal sebagai diva sekaligus maestro musik keroncong, Waldjinah juga aktif dalam pelestarian budaya batik. Bagi Waldjinah, batik bukan sekadar kain, melainkan warisan darah dan kenangan yang melekat erat dalam keluarganya. Kedekatannya dengan batik telah terjalin sejak ia berusia lima tahun. Kini, keluarga Waldjinah mengelola Galeri Batik Walang Kekek sebagai wujud pelestarian warisan budaya leluhur keluarga.
Selain dikenal sebagai diva sekaligus maestro musik keroncong, Waldjinah juga aktif dalam pelestarian budaya batik.
“Sebenarnya mbakyu saya yang mengelola, yang membatik pertama itu mbakyu saya,” ucap Waldjinah, “Saya ambil nama Walang Kekek dari judul lagu saya yang terkenal.”
Nova menambahkan bahwa kakak Waldjinah, Eyang Hadi, adalah seorang pembatik sekaligus pengajar batik yang telah mengenalkan batik hingga luar negeri. Sebagian besar koleksi batik Waldjinah merupakan batik hasil buah tangan sang kakak.
Musik dan batik dalam kehidupan Waldjinah tak pernah berjalan sendiri. Pada tahun 2016, dalam sebuah pertunjukan keroncong bertajuk “Keroncong Pesona Indonesia Persembahan untuk Waldjinah” yang digelar di Graha Bhakti Budaya (GBB), Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, Presiden Joko Widodo hadir dan memberikan penghargaan atas pengabdian Waldjinah dalam pelestarian kebudayaan Indonesia. Peristiwa tersebut menjadi dorongan kuat bagi keluarga untuk kembali merawat koleksi batik yang selama ini tersimpan dan nyaris terlupakan.
“Maka kami membangun Galeri Walang Kekek ini di tahun 2018 dengan berbekal 1000 pola langka dari nenek moyang kami, kita kembangkan dan mulai jalan setelah pandemi,” cerita Nova sambil menunjukkan beberapa motif langka khas dari koleksi batik Walang Kekek.
Beberapa yang menjadi motif kesukaan Waldjinah adalah sidomukti, sidoluhur, juga motif kanthil seperti yang dipakainya ketika bertemu Presiden Soekarno. Menurut Nova, motif kanthil favorit Waldjinah memiliki arti cinta sejati. Motif ini merupakan motif yang diciptakan oleh tokoh R.A. Kartini dan digambar ulang oleh Eyang Hadi, kakak Waldjinah.
Lebih dari sekadar galeri batik, Nova meyakini bahwa Galeri Walang Kekek telah menjelma menjadi museum perjalanan hidup Waldjinah. Ribuan koleksi batik langka di dalamnya menyimpan nilai sejarah yang berakar dari apa yang telah dirintis oleh keluarganya. Keyakinan ini sejalan dengan perjalanan karier Waldjinah di panggung musik, di mana ia kerap tampil mengenakan kain batik buatan keluarga. Secara tak langsung, koleksi batik di Galeri Walang Kekek pun menjadi saksi bisu perjalanan panjang karier Waldjinah.
“Jadi kalau saya menyanyi pasti pakai kain (batik) terus, dari kecil bahkan umur 10 tahun sudah pakai kain. Itu jadi identitas,” ungkap Waldjinah.
“Galeri Walang Kekek itu seperti museum kecil yang menyimpan memorinya eyang,” kata Nova menambahkan.
Tekad Seorang Maestro
Perkembangan musik langgam Jawa setidaknya muncul di Kota Solo pada tahun 1950-an sebagai hasil modifikasi alat musik keroncong agar dapat menyerupai suara gamelan Jawa. Antara tahun 1960 hingga 1970, langgam Jawa mencapai puncak popularitasnya. Sebuah penelitian berjudul “Perkembangan Musik Keroncong Langgam Jawa di Kota Solo Tahun 1950-1991” yang ditulis oleh Noryuliyanti, mahasiswi Universitas Sebelas Maret, mencatat bahwa studio rekaman Lokananta di Solo mengalami peningkatan produksi album langgam Jawa dengan 8 album pada tahun 1960 dan 17 album pada tahun 1970. Era di mana Waldjinah tak pernah lepas dari musik keroncong.
Enam dekade lebih, suara Waldjinah menjadi napas dalam industri musik keroncong dan langgam Jawa. Dalam perjalanannya, tak kurang dari 1.700 lagu dan 200 album telah Waldjinah lahirkan. Tak hanya merilis lagu di dalam negeri, tetapi juga hingga luar negeri. Misalnya saja album Ratu Jawa yang direkam dan rilis tahun 1994 bersama produser Katsunori Tanaka dengan perpaduan musik keroncong dan nuansa musik tradisional Okinawa, Jepang.
Dalam perjalanannya, tak kurang dari 1.700 lagu dan 200 album telah Waldjinah lahirkan.
Di dalam negeri, Waldjinah pernah berbagi panggung dan suara dengan Mus Mulyadi, mengisi ruang waktu bersama Chrisye, hingga menyapa generasi baru lewat kolaborasi dengan Anggun C. Sasmi, Denny Caknan, Soimah, Tulus, dan musisi lainnya. Lagu-lagu legendaris Gesang, Ismail Marzuki, dan Andjar Any, tak hanya dinyanyikan kembali, tapi dihidupkan ulang dalam suara Waldjinah yang khas.
Mencintai musik dan batik, keduanya adalah tekad paling tulus yang telah dijalani Waldjinah. Di tengah usia senja yang tenang namun tetap bersinar, tak sedikit pun goyah hati Waldjinah untuk tetap menyuarakan harapannya akan masa depan musik langgam Jawa, keroncong, dan budaya batik. Baginya, tiga hal itu adalah warisan budaya yang tak boleh hilang tertelan zaman.
“Saya memegang ini beneran, jangan sampai terlepas. Misalnya keroncong, itu kesenangan saya juga supaya terus termotivasi (berkarya). Kalau saya punya anak kecil, saya ajari juga musik keroncong,” ungkap Waldjinah.
Memiliki prinsip akan tanggung jawab, berani mengambil konsekuensi, dan berpegang teguh dalam melestarikan budaya, diakui Nova menjadi karakter eyangnya. Semasa masih aktif dalam kerja kesenian, Waldjinah selalu merasa bertanggung jawab untuk melestarikan budaya bangsa. Itulah yang kemudian hari menyiratkan pesan khusus bahwa musik keroncong harus tetap lestari hingga generasi selanjutnya. Pesan khusus ini menjelma harapan Waldjinah untuk membuat museum batik dan sekolah musik.
Pada tahun 2022 lalu, Presiden RI memberikan “Gelar Tanda Kehormatan Bidang Satyalancana Kebudayaan” kepada Waldjinah. Penghargaan ini diberikan sebagai pengakuan atas peran dan kontribusi Waldjinah dalam bidang kebudayaan, khususnya dalam melestarikan musik keroncong.
Segala kebaikan yang telah ditanam sejak kecil, selalu Waldjinah selipkan harapan akan menumbuh semakin jauh membaik dari hari sebelumnya di masa depan. Walaupun usia hampir menapaki delapan dekade, Waldjinah telah menjadi bukti hidup bahwa usia bukan alasan untuk berhenti bermimpi demi budaya.
Walaupun usia hampir menapaki delapan dekade, Waldjinah telah menjadi bukti hidup bahwa usia bukan alasan untuk berhenti bermimpi demi budaya.
Apa yang dicita-citakan oleh Waldjinah, bukan hanya menjadi mimpi seorang maestro atau seniman, tetapi mimpi yang harus diyakini oleh setiap orang yang mencintai kesenian dan kebudayaan yang dimiliki oleh bangsa Indonesia.
“Saya pinginnya ini maju semua, ya batik, ya keroncong,” tutup Waldjinah dengan teguh.









