Cari dengan kata kunci

Ulap Doyo, Nilai Kearifan Lokal dalam Tenun Warisan Dayak Benuaq

ulap_doyo_1200.jpg

Ulap Doyo, Nilai Kearifan Lokal dalam Tenun Warisan Dayak Benuaq

Pulau Kalimantan memiliki kekayaan budaya berupa berbagai jenis tekstil tradisional yang menyimpan keunikan dan kekhasan tersendiri. Salah satu produk tekstil tradisional tersebut adalah tenun ulap doyo.

Kesenian

Pulau Kalimantan memiliki kekayaan budaya berupa berbagai jenis tekstil tradisional yang menyimpan keunikan dan kekhasan tersendiri. Salah satu produk tekstil tradisional tersebut adalah tenun ulap doyo. Kain tenun ini menjadi semacam identitas bagi Suku Dayak Benuaq yang mendiami sebagian wilayah Kalimantan Timur. Bahan baku, proses pembuatan, dan motif yang spesifik dari tenun ini menjadi warisan budaya tak ternilai dari masyarakat Dayak Benuaq.

Ulap doyo merupakan jenis tenun ikat berbahan serat daun doyo (Curliglia latifolia). Daun ini berasal dari tanaman sejenis pandan yang berserat kuat dan tumbuh secara liar di pedalaman Kalimantan, salah satunya di wilayah Tanjung Isuy, Jempang, Kutai Barat.

Agar dapat digunakan sebagai bahan baku tenun, daun ini harus dikeringkan dan disayat mengikuti arah serat daun hingga menjadi serat yang halus. Serat-serat ini kemudian dijalin dan dilinting hingga membentuk benang kasar.

Benang daun doyo kemudian diberi warna menggunakan pewarna alami dari tumbuhan. Warna yang umum ditemukan antara lain merah dan cokelat. Warna merah berasal dari buah glinggam, kayu oter, dan buah londo. Adapun warna cokelat diperoleh dari kayu uwar.

Tenun ulap doyo diduga telah ada sejak berabad-abad silam, bahkan diduga usianya hampir sama dengan usia keberadaan Kerajaan Hindu Kutai. Hal ini dikuatkan dengan temuan antropologi yang menyebutkan ada korelasi antara motif pada tenun ulap doyo dengan strata sosial dari kelompok masyarakat pemakainya.

Secara umum, motif dalam kain ulap doyo terinspirasi flora dan fauna yang ada di tepian Sungai Mahakam atau tema peperangan antara manusia dengan naga. Motif yang terdapat pada kain pun menjadi identitas si pemakai. Motif waniq ngelukng, misalnya, yang digunakan oleh masyarakat biasa, sedangkan motif jaunt nguku digunakan kalangan bangsawan atau raja. Pembedaan strata sosial ini mengindikasikan adanya sistem kasta yang berlaku dalam masyarakat, seperti yang terdapat pada Hindu.

Proses pembuatan tenun ulap doyo diwariskan secara turun temurun melalui suatu proses yang unik. Kaum wanita Dayak Benuaq mulai menguasai proses pembuatan tenun ini sejak usia belasan tahun secara spontan, tanpa melalui proses latihan. Mereka menguasai tehnik ini hanya dengan melihat proses kerja para wanita yang lebih tua seperti ibu dan sesepuh mereka secara berulang-ulang. Karena transfer keterampilan yang berlangsung secara unik ini, hampir dipastikan sulit menemukan orang yang menguasai tehnik tenun ulap doyo di luar Suku Dayak Benuaq. [Ardee/IndonesiaKaya]

Informasi Selengkapnya
  • NULL

  • Indonesia Kaya

Berlangganan buletin Indonesia Kaya

Daftar ke buletin email Indonesia Kaya untuk mengikuti berita dan acara terkini.