Cari dengan kata kunci

Candi Cangkuang, Situs Hindu yang Masih Utuh di Jawa Barat

1585_thumb_12._Candi_dan_makam_tokoh_penyebar_agama_Islam_yang_bersebelahan_menunjukkan_toleransi_beragama_masyarakat_sekitar.jpg

Candi Cangkuang, Situs Hindu yang Masih Utuh di Jawa Barat

Sebuah peninggalan umat Hindu abad VIII berdiri kokoh di wilayah Garut. Tepatnya di Kampung Pulo, Desa Cangkuang, Kecamatan Leles.

Pariwisata

Sebuah peninggalan umat Hindu abad VIII berdiri kokoh di wilayah Garut. Tepatnya di Kampung Pulo, Desa Cangkuang, Kecamatan Leles. Candi tersebut adalah Candi Cangkuang, satu-satunya candi yang masih utuh di wilayah Jawa Barat.

Berjarak 19 kilometer atau sekitar 45 menit dari pusat Kota Garut, Candi Cangkuang ditemukan oleh seorang ahli purbakala bernama Drs. Uka Tjandra Sasmita pada tahun 1966. Penemuan candi tak lepas dari keterangan yang terdapat di Bataviach Genoot Schap karya Vorderman. Dalam notulen yang ditulis pada tahun 1893 itu, disebutkan bahwa terdapat makam kuno dan arca di wilayah Desa Cangkuang.

Tim peneliti yang berasal dari empat wilayah (Provinsi Banten, Jawa Barat, DKI Jakarta, dan Lampung) melakukan penelitian dan penggalian mulai tahun 1967 hingga tahun 1968. Dalam tahap pertama penelitian, batu-batu yang tersebar dikumpulkan kembali untuk diteliti dan dipelajari sebelum membangun candi hingga menjadi utuh. Pemugaran dilakukan pada tahun 1974 sampai 1976. Peresmian candi ini dilakukan pada tahun 1976 oleh Menteri Pendidikan saat itu, Prof. Dr. Syarif Thayeb.

Kompleks Candi Cangkuang berdiri di atas lahan seluas 125 hektare, termasuk danau yang terdapat di sekitar candi. Untuk tiba di lokasi candi, pengunjung harus menaiki rakit yang menyeberangkan pengunjung melintasi danau.

Terbuat dari bambu dan digerakkan dengan cara tradisional, para pengunjung akan menikmati pemandangan danau hingga pegunungan yang memutari kawasan candi. Keindahan Gunung Haruman, Gunung Kaledong, Gunung Mandalawangi, dan Gunung Guntur akan menjadi panorama yang apik untuk disaksikan. Perjalanan melintasi danau akan memerlukan waktu sekitar 10 menit.

Sampai di wilayah candi, pengunjung akan diajak berjalan memutar sambil melewati kompleks pemukiman adat Kampung Pulo. Di kampung ini, hanya terdapat enam bangunan yang ditinggali enam kepala keluarga. Jumlah ini tidak pernah berubah dari masa ke masa.

Candi Cangkuang yang diberi nama sesuai daerah tempat ditemukannya ini berbentuk bujur sangkar dengan ukuran 4,5 x 4,5 meter dan ketinggian mencapai 8,5 meter. Cangkuang merupakan nama tanaman sejenis pandan yang banyak tumbuh di daerah ini.

Pada bagian dalam candi, terdapat arca Dewa Syiwa dan pada bagian selatan candi terdapat makam kuno milik penyebar Islam di wilayah tersebut, Arif Muhammad. Konon, Arif Muhammad adalah utusan dari Mataram yang mendapatkan tugas untuk menyerang tentara VOC di Batavia pada abad XVII. Setelah serangannya gagal, Arif Muhammad singgah di Cangkuang dan menyebarkan agama Islam di daerah ini. Saat itu, masyarakat sekitar mayoritas memeluk agama Hindu.

Selain candi dan makam kuno, kompleks ini pun dilengkapi museum. Di museum ini, terdapat penjelasan mengenai alasan candi dan makam dibuat berdampingan. Tidak hanya itu. Berbagai kitab Islam seperti Al-Quran, Fiqih, dan Tauhid juga menjadi koleksi museum ini.

Informasi Selengkapnya
  • Rifky

  • Indonesia Kaya

Berlangganan buletin Indonesia Kaya

Daftar ke buletin email Indonesia Kaya untuk mengikuti berita dan acara terkini.