Tari Kethek Ogleng Pacitan, Tarian Kera Sarat Kisah Cinta - Indonesia Kaya

Cari dengan kata kunci

tari_kethek_1290.jpg

Tari Kethek Ogleng Pacitan, Tarian Kera Sarat Kisah Cinta

Di balik gerak jenaka manusia kera, tarian ini menceritakan perjalanan penyamaran dan pertemuan dua kekasih dari Tanah Jawa.

Kesenian

Kethek ogleng adalah sebuah tari yang gerakannya menirukan tingkah laku kethek (kera). Tari kethek ogleng dipentaskan oleh 3 penari wanita dan seorang penari laki-laki sebagai manusia kera. Tari diawali dengan ketiga penari wanita masuk panggung terlebih dulu, kemudian 2 penari berlaku sebagai dayang-dayang dan seorang penari memerankan sebagai putri Dewi Sekartaji, Putri Kerjaan Jenggala, Sidoarjo. Sedangkan seorang penari laki-laki berperan sebagai Raden Panji Asmorobangun dari Kerajaan Dhaha Kediri.

Awalnya, tari ini ditarikan oleh masyarakat Desa Tokawi, Kecamatan Nawangan, Pacitan. Dengan menceritakan kisah Raden Asmorobangun dan Dewi Sekartaji yang keduanya saling mencintai dan bercita-cita ingin membangun kehidupan harmonis dalam sebuah keluarga.

Awalnya, tari ini ditarikan oleh masyarakat Desa Tokawi, Kecamatan Nawangan, Pacitan.

Namun, Raja Jenggala, ayahanda Dewi Sekartaji, mempunyai keinginan untuk menikahkan Dewi Sekartaji dengan pria pilihannya. Ketika Dewi Sekartaji tahu akan dinikahkan dengan laki-laki pilihan ayahnya, diam-diam Dewi Sekartaji meninggalkan Kerajaan Jenggala tanpa sepengetahuan sang ayah dan seluruh orang di kerajaan.

Pada malam hari, sang putri berangkat bersama beberapa dayang menuju ke arah barat. Kabar perginya Dewi Sekartaji pun terdengar oleh Raden Panji yang segera bergegas mencari kekasihnya. Di tengah perjalanan, ia singgah di rumah seorang pendeta yang menyarankannya pergi ke barat dengan menyamar sebagai seekor kera. Sementara itu, Dewi Sekartaji telah menyamar sebagai Endang Rara Tompe, mendaki gunung, lalu beristirahat di sebuah daerah dan memutuskan menetap di sana.

Gerakan manusia kera (kethek dalam bahasa Jawa) yang melompat ke sana kemari dan berguling-guling menggambarkan keakraban persahabatan mereka.

Tempat tersebut tidak jauh dari keberadaan Raden Panji. Keduanya pun bertemu, saling bermain, dan menjadi akrab tanpa mengetahui penyamaran masing-masing. Dalam gerakan tari, peristiwa ini digambarkan melalui kemunculan manusia kera di atas panggung yang menemui Endang Rara Tompe beserta kedua pengawalnya. Gerakan manusia kera (kethek dalam bahasa Jawa) yang melompat ke sana kemari dan berguling-guling menggambarkan keakraban persahabatan mereka.

Tarian ini diakhiri dengan gerakan Endang Rara Tompe yang menaiki manusia kera dan berakhir dengan persatuan keduanya, sambil kedua dayang memegangi sang Dewi Sekartaji. Dalam ceritanya, setelah pertemuan itu Endang Rara Tompe mengubah perwujudannya sebagai Dewi Sekartaji dan manusia kera berubah menjadi Raden Panji Asmorobangun. Keduanya kembali ke kerajaan Jenggala untuk melangsungkan pernikahan.

Inti dari tari kethek ogleng ini merupakan tari tradisional yang telah dikembangkan secara kekinian.

“Konsep yang kami gambarkan lebih pada gerak artistik dari pada sekedar menggambarkan makna filosofi pada makna tarian tersebut. Kami kembangkan tarian ini sedemikian rupa agar enak dilihat, sedikit keluar dari tarian dasar aslinya. Dengan gerakan kreasi sehingga yang cukup menarik untuk ditonton dan tidak meninggalkan cerita aslinya,” tutur Anang, Ketua Sanggar Tari Krido Rahayu Pacitan.

Inti dari tari kethek ogleng ini merupakan tari tradisional yang telah dikembangkan secara kekinian. “Satu komposisi jika kita tata menjadi apik, maka kita ambil mengembangkan konsep tarian yang telah ada sebelumnya,” terang Anang kepada tim Indonesiakaya.

Informasi Selengkapnya
  • Elsa Dwi Lestari

  • Indonesia Kaya