Sukong, Alat Musik Betawi dengan Akar Tradisi Tionghoa - Indonesia Kaya

Cari dengan kata kunci

1271_thumb_Tali_busur_pada_alat_musik_sukong_terbuat_dari_ekor_kuda_jantan.jpg

Sukong, Alat Musik Betawi dengan Akar Tradisi Tionghoa

Salah satu alat musik yang biasa digunakan untuk mengiringi kesenian Betawi seperti ondel-ondel dan pementasan lenong.

Kesenian

Budaya Betawi tumbuh dari pertemuan berbagai budaya di Nusantara. Salah satu wujud paling nyata dari proses akulturasi ini hadir dalam kesenian gambang keromong, yang sejak awal memadukan unsur lokal dan pengaruh asing. Di dalamnya, sukong menempati posisi penting sebagai alat musik gesek berakar dari tradisi Tionghoa yang menyatu dengan identitas musikal Betawi.

Dalam pertunjukan gambang kromong, sukong dimainkan berdampingan dengan alat musik Nusantara seperti gambang dan kecrek. Kehadirannya tidak sekadar melengkapi ansambel, tetapi juga memberi lapisan bunyi yang khas. Sebagai alat musik gesek, sukong berperan membawa garis melodi, sekaligus menjadi penanda kuat bagaimana tradisi Tionghoa berasimilasi secara alami dalam kesenian Betawi.

Sukong menempati posisi penting sebagai alat musik gesek berakar dari tradisi Tionghoa yang menyatu dengan identitas musikal Betawi.

Dari segi bentuk dan teknik permainan, sukong memiliki kemiripan dengan rebab yang dikenal luas di berbagai wilayah Nusantara. Namun, sukong berukuran lebih kecil dan hanya memiliki dua untai dawai. Badannya dibuat dari batok kelapa, sementara busurnya berasal dari batang pohon yang lentur, dengan rambut gesek dari ekor kuda jantan berwarna putih keemasan. Kesederhanaan bahan ini menunjukkan kedekatan sukong dengan tradisi kerajinan rakyat yang memanfaatkan sumber daya sekitar.

Dalam praktiknya, sukong kerap mengiringi berbagai kesenian Betawi, mulai dari arak-arakan ondel-ondel hingga pementasan lenong. Melalui gesekan dawai, alat musik ini membangun suasana dan menghidupkan lagu-lagu Betawi seperti Kicir-kicir dan Jali-jali, menjadikannya elemen penting dalam narasi musikal pertunjukan.

Sukong tidak hanya merepresentasikan fungsi musikal, tetapi juga menjadi simbol pertemuan lintas budaya yang telah berlangsung lama.

Sebagai bagian dari budaya Betawi yang plural, sukong tidak hanya merepresentasikan fungsi musikal, tetapi juga menjadi simbol pertemuan lintas budaya yang telah berlangsung lama. Namun, seiring perubahan zaman, keberadaan sukong kian jarang ditemui. Produksinya terbatas dan jumlah pemainnya terus menyusut, membuat alat musik tradisional ini masuk dalam kategori terancam punah. Karena itu, upaya pelestarian sukong menjadi penting agar suara dan makna yang dikandungnya tetap hidup dalam perjalanan budaya Betawi.

Informasi Selengkapnya
  • Indonesia Kaya

  • Indonesia Kaya