Cari dengan kata kunci

Ondel-Ondel, Bukan Sekadar Boneka Raksasa

ondel-ondel_1290

Ondel-Ondel, Bukan Sekadar Boneka Raksasa

Muncul sebagai sarana penolak bala. Kini, menjadi seni pertunjukan rakyat yang menghibur.

Tradisi
Tagar:

SIAPA tak kenal ondel-ondel? Sepasang boneka raksasa dengan tinggi sekitar 2,5 meter yang menghiasi gedung-gedung atau kantor pemerintahan di ibukota. Sosok mereka juga hadir dalam pesta-pesta rakyat, hajatan masyarakat Betawi, dan terutama perayaan ulang tahun Kota Jakarta.

Sebagai pertunjukan rakyat, ondel-ondel biasanya diiringi tanjidor atau kelompok orkes kampung, yang terdiri dari beberapa alat musik, seperti gendang tepak, gendang kempul, gong, kenong kemong, krecek, terompet, bas, dan sukong. Tapi ada juga seniman yang juga memadukannya dengan alat musik modern. Pementasan ondel-ondel biasanya juga diiringi oleh pertunjukan pencak silat Betawi.

Ondel-ondel mengenakan pakaian adat Betawi dengan warna mencolok. Tubuh bagian depannya diberi rongga kecil sebagai celah bagi pemain untuk melihat ke luar. Dengan demikian ondel-ondel tak kehilangan arah dan mampu bergoyang sesuai irama dan melakukan gerakan memutar tubuh dengan cepat (ngibing).

Belum jelas benar kapan ondel-ondel muncul dalam kehidupan masyarakat Betawi. Banyak yang menyebut ondel-ondel semula bernama barongan dan dianggap perwujudan danyang desa. Ketika dilanda wabah penyakit, mereka menggelar ritual mengarak barongan keliling kampung untuk tujuan menolak bala dan mendapatkan keselamatan. Sebelum diarak, dilakukan proses pengasapan (ukup) agar prosesi berjalan lancar.

“Barongan dijadikan perwujudan leluhur penjaga kampung. Kerena fungsi barongan yang sakral untuk pelindung kampung dan penghalau segala musibah, barongan harus terlihat berwibawa dan menakutkan,” catat Mita Purbasari Wahidiyat dalam “Ondel-ondel Sebagai Ruang Negosiasi Kultural Masyarakat Betawi”, disertasi pada Institut Seni Indonesia Yogyakarta tahun 2019.

Karena fungsinya sebagai penolak bala, pembuatan ondel-ondel biasanya melalui proses ritual tertentu. Sebelum proses pembuatan, pengrajin menyediakan aneka sesaji berupa kemenyan, kembang tujuh rupa dan bubur sumsum. Tujuannya agar pembuatan ondel-ondel berjalan lancar dan roh yang bersemayam di boneka adalah roh baik.

“Pembuatan ondel-ondel dengan menerapkan ritual seperti itu masih berlangsung hingga 1980-an. Namun setelah masa itu, proses ritual tersebut mulai ditinggalkan sejalan dengan bergesernya fungsi ondel-ondel,” catat Kemdikbud.

Betawi sebagai suku yang mendiami Jakarta juga tak imun dari pengaruh luar. Bahkan akar kebudayaan Betawi berasal dari akulturasi berbagai suku dan bangsa, seperti Jawa, Sunda, Ambon, bahkan Portugis, Tionghoa, dan Arab. Barongan Betawi salah satunya.

Mita Purbasari Wahidiyat menyebut kemiripan rupa barongan Betawi dengan barong Bali. Pengaruh dari Bali tampak pada warna wajah, motif hiasan kembang kelapa, dan pakaian yang berwarna-warni. Ada juga pengaruh barongsai dari Tiongkok. Terlihat dari teknik menggerakkannya, alat musik, dan penggunaan petasan agar pertunjukan lebih meriah.

Pengaruh bangsa lain dicatat Paramitha Rahayu Abdurachman dalam Bunga Angin Portugis di Nusantara: Jejak-Jejak Kebudayaan Portugis di Indonesia. Menurutnya, keberadaan ondel-ondel di Indonesia serupa dengan perayaan boneka di Portugal. Boneka itu hadir dalam pawai keagamaan yang diiringi kelompok musik (tangedores), yang membawa berbagai alat musik seperti tambur Turki (besar), tambur sedang (pandore), seruling, dan bermacam terompet.

“Boneka ini berpakaian bermacam-macam dan persis serupa ondel-ondel Betawi zaman dulu, dan yang menandak-nandak diiringi musik tanjidor,” tulis Paramitha. Baik tanjidor maupun ondel-ondel kemudian menjadi khazanah budaya Betawi.

Yang pasti, keberadaan boneka raksasa dicatat beberapa pedagang Eropa. Menurut Peta Budaya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), W. Scot, seorang pedagang asal Inggris mencatat bahwa ondel-ondel sudah ada pada 1605.

Nama ondel-ondel ditengarai muncul dan menjadi populer saat Benyamin Sueb menyanyikan lagu “Ondel-ondel” pada 1970-an. Sejak itulah kata ondel-ondel menggantikan barongan.

Perubahan juga terjadi pada fungsi ondel-ondel. Ondel-ondel mulai hadir dalam bentuk seni pertunjukan maupun dekorasi setelah Gubernur Ali Sadikin mencanangkan ondel-ondel sebagai ikon Jakarta. Wajah ondel-ondel yang semula menakutkan dan berbau mistis pun berubah jadi manis dan bersahabat. Ritual pengasapan dihilangkan. Ondel-ondel juga mulai menghiasi gedung-gedung atau kantor pemerintahan di Jakarta.

Pengaruh Islam kemudian mempengaruhi kostum ondel-ondel. Tangan pada ondel-ondel pria, misalnya, tak lagi selalu berbentuk seperti mahkota tapi menyerupai kopiah. Selempang dan ikat pinggang berwarna cerah digantikan sarung kotak-kotak yang diletakkan di leher (cukin) dan dililitkan di balik pakaian.

“Penggunaan aksesoris cukin dengan ikat pinggang bermotif kotak-kotak ini mengingatkan pada penampilan pemuda pesantren dan jagoan silat Betawi Si Pitung,” catat Mita Purbasari Wahidiyat.

Kini, meski memiliki bentuk yang hampir sama, corak dan warna ondel-ondel beraneka raga sehingga terlihat menarik.

Ondel-ondel umumnya dibuat dari kayu, bisa kayu randu, kapuk, cempaka, kenanga, atau rambutan, dengan bagian tubuh menggunakan dongdang –sejenis kurungan ayam yang terbuat dari bambu. Diameter tubuh ondel-ondel sekitar 1,5 meter, sementara tingginya bisa mencapai 4 meter.

Wajah ondel-ondel dibagi menjadi dua. Wajah laki-laki berwarna merah. Hal itu karena fungsi awalnya untuk menakut-nakuti setan atau roh-roh jahat. Sedangkan wajah perempuan berwarna putih yang menggambarkan sifat keibuan yang lembut. Tapi banyak yang meyakini warna merah dan putih dipilih untuk mewakili bendera kebangsaan Indonesia; merah berarti memiliki semangat juang dan pemberani sementara putih melambangkan kesucian.

Agar terkesan menarik, kepala ondel-ondel diberi rambut dengan menggunakan ijuk. Tak lupa ditambahkan hiasan berbagai pernak-pernik.*

Nyok kite nonton ondel-ondel!*

Tagar:
Informasi Selengkapnya
  • Indonesia Kaya

  • Tim Indonesia Exploride

  • Mita Purbasari Wahidiyat. “Ondel-ondel Sebagai Ruang Negosiasi Kultural Masyarakat Betawi”, disertasi pada Institut Seni Indonesia Yogyakarta, 2019.
    “Ondel-ondel”, https://petabudaya.belajar.kemdikbud.go.id/Repositorys/ondelondel/
    Paramitha Rahayu Abdurachman. Bunga Angin Portugis di Nusantara: Jejak-Jejak Kebudayaan Portugis di Indonesia

Berlangganan buletin Indonesia Kaya

Daftar ke buletin email Indonesia Kaya untuk mengikuti berita dan acara terkini.