Cari dengan kata kunci

Lenggak-Lenggok Batik Betawi

849_thumb_batik_betawi.jpg

Lenggak-Lenggok Batik Betawi

Sejarah Jakarta tergores dalam kain batik yang penuh warna. Sejak lama jadi pakaian keseharian perempuan Betawi.

Kesenian

BATIK Betawi begitu menawan kala diperagakan None-none Jakarta. Motifnya pucuk rebung. Coraknya mirip batik pesisiran tapi dengan warna-warna cerah seperti merah, biru, ungu, hijau muda, dan oranye. Begitu memikat siapapun yang memandang.

Sejak 1970-an batik Betawi motif pucuk rebung sudah menjadi seragam wajib None Jakarta karena dianggap sudah lama ada dan dikenal masyarakat Betawi. Hal ini menandakan batik sudah menjadi bagian dari kultur masyarakat Betawi yang dianggap sebagai etnis dan penduduk asli Jakarta.

Serupa dengan batik-batik di berbagai daerah di Indonesia, Jakarta yang notabene merupakan pusat budaya Betawi memiliki kekhasan corak kain batik yang kerap disebut dengan batik Betawi. Umumnya memiliki warna cerah serta motif yang diambil dari nilai nilai budaya masyarakat.

Di masa lalu, batik menjadi pakaian keseharian perempuan Betawi kala pergi ke pasar, pelesiran, hajatan, hingga mengaji. Kala itu mereka memesan batik dari luar daerah. Demi memenuhi pasar, pengusaha batik Tionghoa mendatangkan pengrajin dari Pekalongan maupun Solo dan membangun industri batik di Jakarta. Sentra industri batik tumbuh di Bendungan Hilir, Karet Tengsin, Kebon Kacang, dan Palmerah. Dari sinilah motif batik Betawi lahir; yang mengikuti dan mengadaptasi beragam motif batik pesisiran yang popular.

Batik Betawi memiliki ciri khas yang membedakannya dari batik kebanyakan, yakni pada warna dan motifnya. Merah, hijau, oranye, dan kuning adalah warna-warna cerah yang umum digunakan dalam batik Betawi. Sedangkan untuk motifnya seringkali mengambil inspirasi dari sejarah Jakarta dan potret kehidupan sehari-hari.

Salah satu motif yang identik dengan batik Betawi adalah pucuk rebung. Ia merupakan motif khas batik pesisir yang menggambarkan pucuk batang bambu. Motif ini memang merupakan adaptasi dari songket Melayu dan tumpal pada batik Lasem. Tapi bagi masyarakat Betawi, motif pucuk rebung dianggap sakral karena memiliki nilai filosofis, yakni melambangkan keseimbangan hidup: bahwa antara manusia, alam sekitarnya, dan sang maha pencipta saling bersinergi.

Motif tumpal juga ikonik dan klasik. Berbentuk geometris segitiga yang memagari bagian kepala dan badan kain. Motif ini merupakan pengembangan dari bentuk cagak yang menjadi bagian dari ragam hias pada leher periuk tanah. Ragam hias ini sudah ada sejak zaman neolitikum. Bentuk cagak maupun tumpal sebenarnya bentuk lain dari gunung. Nenek moyang orang Betawi menganggap gunung mempunyai kekuatan. Jadi bentuk cagak dan tumpal mempunyai arti kekuatan sekaligus penolak bala.

Memasuki pertengahan abad ke-20, muncul kreasi baru batik Betawi yang selaras dengan perkembangan zaman. Sungai Ciliwung, nusa kelapa, rasamala, salakanegara, dan ondel-ondel adalah beberapa motif awal batik Betawi dengan asal-usul dan filosofi masing-masing.

Motif nusa kelapa mengambil ide dari peta Ceila buatan Pangeran Panembong pada masa Prabu Siliwangi (1482-1521), yang menunjukkan nenek moyang orang Betawi menyebut kampung halaman mereka sebagai Nusa Kelapa. Motif rasamala menggambarkan alam Sunda Kelapa (nama lama Jakarta) yang masih hutan belantara dan ditumbuhi pepohonan rasamala, sebutan untuk pohon jati yang kulit kayunya wangi. Motif salakanegara menggambarkan kerajaan pertama di Tanah Betawi yang didirikan Aki Tirem pada 130 M dan kepercayaan pada kekuatan Gunung Salak yang terletak di selatan Jakarta.

Motif ondel-ondel mengangkat bentuk ondel-ondel sebagai boneka yang dapat menolak bala. Motif Sungai Ciliwung mengambil ide dari kehidupan masyarakat yang tinggal di tepian Sungai Ciliwung. Pemakainya berharap memperoleh rezeki yang lancar seperti aliran air Sungai Ciliwung.

Industri batik di Jakarta sempat meredup karena tergerus pembangunan kota. Batik Betawi kemudian seolah terlupakan.

Pada awal-awal jadi gubernur Jakarta, Ali Sadikin sendiri senang memakai pakaian favoritnya, baju barong tagalog Filipina. Suatu ketika dia mendapatkan sebuah batik yang khusus dibuat Saridjah Niung Bintang Soedibio atau popular dipanggil Ibu Sud, pencipta lagu anak-anak sekaligus seniman batik. Bang Ali senang.

Pada suatu acara Bang Ali mengenakan batik itu sekaligus mencanangkan batik sebagai busana untuk acara-acara resmi di Balai Kota. Dia juga menetapkan bahwa None Jakarta harus menggunakan kain batik bermotif tumpal atau pucuk rebung. Langkah Bang Ali kemudian diikuti secara nasional. Sejak itu batik menjadi simbol budaya dan identitas bangsa.

Kebijakan Bang Ali menjadi langkah awal untuk menghidupkan kembali batik Betawi sekaligus industri batik di Jakarta. Industri batik di Jakarta kembali bergeliat. Upaya mengembangkan batik Betawi pun tumbuh. Ikon-ikon Jakarta dihadirkan dalam motif batik seperti Si Pitung, bajaj, Monas, delman, tanjidor, dan sebagainya.

Tak ada aturan khusus dalam pemakaian batik Betawi. Tapi khusus untuk motif tumpal, supaya terlihat disaranan memakainya di bagian depan.

Batik Betawi dengan beragam motif itu kini diproduksi di Kampung Batik Betawi Terogong di kawasan Cilandak, Jakarta Selatan.

Harga selembar batik tulis khas Betawi ini biasanya dibanderol antara Rp600.000 sampai tak terhingga.

Batik Betawi tulis semakin langka di pasaran. Namun jika beruntung, Anda bisa menemukannya di pameran-pameran.*

Informasi Selengkapnya
  • Indonesia Kaya

  • Indonesia Kaya

  • Busana Betawi: sejarah dan prospek pengembangan karya Yasmine Zaki Shahab, Heriyanti O., Agus Dermawan T

    BATAVIA 1740–Menyisir Jejak Betawi karya Windoro Adi   

    Inspirasi Batik Betawi: Gaya Apik Batik Betawi karya Kelg. Batik Betawi & Debbie S.

Berlangganan buletin Indonesia Kaya

Daftar ke buletin email Indonesia Kaya untuk mengikuti berita dan acara terkini.