Cari dengan kata kunci

Tari Legong Lasem , Tarian Klasik yang Melegenda

tari_legong_lasem_ie_1290

Tari Legong Lasem , Tarian Klasik yang Melegenda

Semula hanya pertunjukan dalam pura dan puri. Kini, keindahan tari legong lasem dari Bali dapat dinikmati siapa saja.

Kesenian
Tagar:

TIGA gadis bermahkota bunga itu saling melenggak-lenggok gerakan klasik khas Bali. Dua orang sebagai tokoh legong, sedangkan satu lagi berperan menjadi condong alias pengemban putri raja. Kerlingan mata yang ekspresif berpadu dengan koreo nan lincah. Kisah-kisah kolosal tentang kerajaan disisipkan dalam tarian. Alunan gamelan gong kebyar menambah keeksotisan tari legong lasem ini.

Tari legong merupakan salah satu ikon Bali di mata dunia. Konon, kata “legong” sendiri berasal dari gabungan kata “leg” yang berarti gerak tari yang luwes atau lentur atau lemah gemulai, dan kata “gong” yang artinya gamelan. Jadi bisa dikatakan kalau gerakan-gerakan tari legong ini, terutama gerakan aksennya, bersenyawa dengan bunyi gamelan yang mengiringinya.

Asal-usul tari legong memiliki banyak versi. Salah satu versi popular mengacu pada Babad Dalem Sukawati, yang menyebut ide tarian ini berasal dari Raja Sukawati I Dewa Agung Made Karna sekira awal abad ke-18. Ketika bersemedi, raja melihat sembilan bidadari menari di surga dengan mengenakan topeng, busana yang indah, dan hiasan kepala dari emas. Selesai bersemedi, raja menciptakan koreografi tari yang diiringi gamelan semar pegulingan seperti yang dilihatnya saat bersemedi.

“Genre tarian ini dikenal dengan berbagai macam: topeng sanghyang, sanghyang legong, topeng legong, legong ratu dari, dan legong dedari,” sebut Stephen Davies dalam “The Origins of Balinese Legong” dimuat Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde (BKI) Vol. 164 No. 2/3, 2008.

Ada banyak kemiripan antara tari topeng sanghyang dan legong, dari segi kostum, langkah dan gerakan tarian, maupun musik pengiringnya. Namun, perbedaannya jauh lebih mencolok daripada kesamaannya. Alih-alih topeng sanghyang, Stephen Davies lebih yakin bahwa sumber utama tari legong adalah andir, tarian untuk pemuda tampan tanpa topeng, yang diciptakan I Gusti Ngurah Jelantik dari Blahbatuh, kini sebuah kecamatan di Gianyar, pada pertengahan abad ke-19.

Raja Gianyar I Dewa Manggis tertarik untuk membuat tarian untuk putri berdasarkan andir. Adaptasi dibuat oleh penari Anak Agung Rai Perit dan musisi I Dewa Ketut Belacing sekira tahun 1889.

Selain andir, legong mendapat pengaruh dari tarian lain seperti sanghyang dedari, topeng sanghyang, gambuh, calonarang. Menurut Stephen Davies, legong kemudian memiliki penampilan dan karakter khas dengan penambahan condong, yang juga terdapat pada drama gambuh, arja, wayang wong, dan calonarang.

“Saat ini condong biasa menari hanya di legong lasem, tapi dulu ia dimasukkan semua tarian legong,” sebut Davies.

Tari legong memang memiliki banyak varian, seperti legong candra kanta, legong kuntul, legong goak macok, legong kupu-kupu tarum, dan lain-lain. Nama variannya disesuaikan dengan cerita yang dikisahkan. Tapi yang popular dan kerap ditampilkan dalam pertunjukan wisata adalah tari legong lasem.

Legong lasem diciptakan oleh I Dewa Gde Rai Perit, seorang seniman dan bangsawan dari Gianyar, pada akhir abad ke-19. Disebut legong lasem karena tarian ini mengambil kisah dari cerita Panji tentang kasih tak sampai Prabu Lasem terhadap Diah Rangkesari.

Legong awalnya bersifat sakral karena dipentaskan di halaman pura dan puri (istana) pada hari-hari tertentu. Konon, para penarinya pun harus masih murni dan belum mengalami menstruasi. Namun kemudian legong keluar dari keraton dan dipentaskan di desa-desa, terutama pada upacara di pura, serta pada festival seni di Bali.

Menurut Rizki Prihartiningrum dan Yohanes Hanan Pamungkas dalam “Perkembangan Tari Legong Keraton Gaya Peliatan Tahun 1928-1954” di jurnal Avatara Vol. 2 No. 2, Juni 2014, pergeseran ini terjadi karena banyak penari yang menikah dan keluar dari istana. Apalagi setelah adanya serangan dari Belanda pada awal abad ke-19, banyak puri di Bali yang dibakar dan dimusnahkan.

“Raja kemudian mengizinkan tarian ini keluar dari tembok istana agar kesenian ini tidak begitu saja menghilang,” sebut Rizki dan Yohanes.

Di luar keraton, para penari kemudian mengajarkan tarian ini kepada gadis-gadis di desa. Tari legong pun berkembang pesat. Dari waktu-waktu, tari legong lasem mengalami perubahan bentuk dan struktur penyajiannya. Banyak desa di Bali mengembangkan tarian ini dengan berbagai gaya khas masing-masing. Salah satunya yang aktif adalah Desa Peliatan, Kecamatan Ubud, Kabupaten Gianyar. Tarian ini juga mulai berubah fungsi menjadi hiburan rakyat yang dipentaskan di luar puri, yaitu halaman atau lapangan terbuka.

Biasanya tarian ini dipentaskan oleh dua orang gadis atau lebih. Tarian legong lasem biasanya terlebih dahulu, meskipun tidak selalu, menampilkan tokoh condong sebagai pembuka tarian. Ciri khas lain dari tarian ini adalah penarinya menggunakan kipas, kecuali tokoh condong.

Struktur penyajian tari legong lasem yang lengkap terdiri dari lima bagian. Meliputi papeson (pembukaan), pengawak (bagian utama), pengencet (pengembangan dari bagian utama), pengipuk (bagian percintaan atau pertempuran), dan pekaad (penutup).

Dalam bentuk lengkapnya, tari legong lasem berlangsung hingga 60 menit. Namun untuk kepentingan pariwisata biasanya dipotong menjadi sekitar 15 menit. Alih-alih gadis belia, sebagian besar penarinya berusia pertengahan dua puluhan. Gamelan pelegongan atau semar pegulingan yang secara tradisional mengiringi legong sudah jarang ditemui dan digantikan gamelan gong kebyar.

Michel Picard, pakar wisata yang meneliti masyarakat Bali dalam Bali: Pariwisata Budaya dan Budaya Pariwisata menyebut legong menyebar dengan cepat ke berbagai penjuru Bali dan dipengaruhi oleh kebyar. Gamelan pelenongan digantikan dengan gamelan gong kebyar. Iramanya dipercepat dan koreografinya diperbaharui. Dari semua kisah kolosal, legong lasem merupakan tari legong yang paling diminati di kalangan wisatawan.

“Legong tidak diragukan lagi adalah tarian yang paling terkenal di antara semua tarian Bali,” kata Picard.

Menyaksikan tari legong lasem yang klasik, eksotis, dan mengagumkan tentu saja menjadi hiburan tersendiri. Kostum berwarna cerah dengan lukisan daun-daun dan aksesori yang indah menambah kesan megah. Membuat tari legong lasem memiliki daya tarik tersendiri bagi wisatawan.*

Tagar:
Informasi Selengkapnya
  • Indonesia Kaya

  • Tim Indonesia Exploride

  • Michel Picard. Bali: Pariwisata Budaya dan Budaya Pariwisata. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG), 2006.
    Rizki Prihartiningrum dan Yohanes Hanan Pamungkas. “Perkembangan Tari Legong Keraton Gaya Peliatan Tahun 1928-1954”, jurnal Avatara Vol. 2 No. 2, Juni 2014.
    Stephen Davies. “The Origins of Balinese Legong”, Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde (BKI) Vol. 164 No. 2/3, 2008.

Berlangganan buletin Indonesia Kaya

Daftar ke buletin email Indonesia Kaya untuk mengikuti berita dan acara terkini.