Rantako, Penanda Ritual Musim Tanam Suku Dayak Salako - Indonesia Kaya

Cari dengan kata kunci

rantako_1290.jpg

Rantako, Penanda Ritual Musim Tanam Suku Dayak Salako

Meriam kecil pusaka Dayak Salako di Singkawang ini menjadi penanda dimulainya musim tanam dalam ritual Ngabayotn.

Kesenian

Meriam kecil ini menjadi penanda dimulainya musim tanam di Desa Bagak Sahwa, Kecamatan Singkawang Timur, Kabupaten Singkawang, Kalimantan Barat. Bernama Rantako, meriam kecil ini konon merupakan peninggalan Inggris yang kemudian dijadikan pusaka oleh masyarakat Dayak Salako Binua Garantuk’ng.

Musim tanam yang oleh masyarakat Dayak Salako disebut Ngabayotn ini dilaksanakan setiap 1 Juni. Ritual Ngabayotn menjadi penanda berakhirnya masa panen sekaligus dimulainya kembali penanaman. Biasanya, perayaan ini digelar di rumah Parauman Adat, Desa Bagak Sahwa.

Meriam kecil ini menjadi penanda dimulainya musim tanam.

Suku Dayak dikenal memiliki kecintaan yang tinggi terhadap alam. Bagi para tetua Dayak, menjaga kelestarian alam merupakan bentuk menjalankan amanah dari Jubata Nek Panitah (Sang Pencipta). Suku Dayak Salako Binua Garantuk’ng, misalnya, memiliki ritual sakral yang dilakukan setelah masa panen sekaligus menjadi tanda dimulainya masa tanam. Ritual ini bertujuan mengembalikan spirit padi yang telah disimpan di lumbung agar kembali berkumpul dengan keluarga yang akan menanam benih padi. Selain itu, ritual Ngabayotn juga bertujuan menghormati arwah leluhur yang telah meninggal.

Ketika ritual Ngabayotn dimulai, seorang imam yang dikenal sebagai Panarokng memimpin pemanjatan doa. Dalam ritual ini, seekor babi kurban atau bantanan beserta perlengkapan lainnya disiapkan di ruang tengah Parauman Adat. Saat doa dipanjatkan, terdengar ledakan kecil yang berasal dari Rantako yang sengaja dinyalakan.

Ritual ini bertujuan mengembalikan spirit padi yang telah disimpan di lumbung agar kembali berkumpul dengan keluarga yang akan menanam benih padi

“Dentuman Rantako itu sebagai pertanda bahwa pemanjatan doa telah dilakukan,” ungkap Polinus, pemilik Rantako yang merupakan warisan dari neneknya. Dentuman Rantako juga menandai berakhirnya ritual adat yang kemudian dilanjutkan dengan tarian. Melalui ritual tersebut, masyarakat Dayak Salako menyambut musim tanam dengan penuh harapan. Doa-doa dipanjatkan kepada Jubata Nek Panitah, Sang Pencipta dalam kepercayaan masyarakat Dayak Salako, agar memberkahi penanaman benih padi.

Informasi Selengkapnya
  • Elsa Dwi Lestari

  • Indonesia Kaya