Jejak Budaya: Seminggu Menyusuri Jakarta Lewat Nama-Nama Pasar - Indonesia Kaya

Cari dengan kata kunci

Pasar seminggu jakarta

Jejak Budaya: Seminggu Menyusuri Jakarta Lewat Nama-Nama Pasar

Jauh sebelum Jakarta dipenuhi mal dan layanan belanja daring, satu pekan di kota ini pernah ditentukan oleh perjalanan para pedagang dari satu pasar ke pasar berikutnya.

Pariwisata

Tak banyak yang menyadari bahwa nama-nama seperti Pasar Senen, Pasar Rebo, atau Pasar Minggu bukan sekadar penanda lokasi. Dahulu, nama-nama itu benar-benar menunjukkan hari ketika pasar tersebut beroperasi.

Rasa penasaran itulah yang membawa tim Indonesia Kaya menyusuri pasar-pasar bernama hari di Jakarta. Perjalanan ini menelusuri bagaimana nama-nama tersebut tetap bertahan, meski sebagian pasar telah berganti nama, berubah fungsi, bahkan menghilang.

Menurut Perumda Pasar Jaya, tradisi penamaan pasar berdasarkan hari bermula pada masa kolonial Belanda. Saat itu jumlah pedagang masih terbatas, sementara transportasi belum berkembang seperti sekarang. Agar kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi, pemerintah bersama para tuan tanah mengatur jadwal pasar secara bergilir.

Dalam sistem tersebut, setiap pasar hanya beroperasi pada satu hari tertentu. Para pedagang pun berpindah dari satu pasar ke pasar lainnya sesuai jadwal sehingga dapat terus berdagang di kawasan yang berbeda sepanjang pekan.

Kini, pasar-pasar tersebut telah buka setiap hari. Namun, nama-namanya tetap menjadi bagian dari identitas Jakarta, menyimpan jejak sejarah yang masih dapat ditelusuri hingga sekarang.

Minggu: Pasar Minggu, Jejak Hasil Bumi yang Masih Bertahan

Pasar Minggu

Jl. Ragunan Raya, Kel. Pasar Minggu, Kec. Pasar Minggu, Kota Jakarta Selatan

Perjalanan tim Indonesia Kaya dimulai dari Pasar Minggu. Dahulu, kawasan ini dikenal sebagai tempat berkumpulnya hasil bumi dan buah-buahan. Meski kini buka setiap hari, identitas tersebut masih terasa melalui deretan kios buah yang menjadi salah satu ciri khas pasar ini.

Bagi seorang pedagang buah yang telah berjualan sejak 2018, Pasar Minggu dapat dirangkum dalam dua kata sederhana: “Tempat hidup.”

Bagi seorang pedagang buah yang telah berjualan sejak 2018, Pasar Minggu dapat dirangkum dalam dua kata sederhana: “Tempat hidup.”

Ia mengakui jumlah pembeli memang berkurang sejak pandemi karena semakin banyak masyarakat berbelanja di swalayan maupun secara daring. Namun, suasana khas pasar tradisional masih tetap terasa. Tradisi tawar-menawar, saling menyapa pelanggan, hingga kebiasaan memberi bonus kepada pelanggan setia masih menjadi bagian dari keseharian pasar.

Suasana serupa juga dirasakan para pembeli. Salah seorang pengunjung yang rutin datang mengaku memilih Pasar Minggu karena kebutuhan sehari-hari tersedia lengkap dengan harga yang terjangkau. Ia juga masih mengingat masa kecil ketika menemani orang tuanya berbelanja sayur dan kue di pasar ini.

Baginya, daya tarik Pasar Minggu bukan hanya terletak pada kelengkapan barang yang dijual. Saat berbelanja ikan di los (area berjualan terbuka tanpa sekat permanen), misalnya, ia masih bisa berdiskusi langsung dengan pedagang mengenai cara mengolah ikan yang dibelinya—interaksi sederhana yang sulit ditemukan ketika berbelanja secara daring.

Aktivitas pasar pun memiliki ritmenya sendiri. Menurutnya, los sayur mulai ramai sekitar pukul 23.00. Aktivitas tersebut menjadi salah satu pemandangan yang masih dapat dijumpai di Pasar Minggu hingga kini, menunjukkan bahwa denyut pasar tradisional tetap hidup di tengah perubahan zaman.

Senin: Pasar Senen, Dari Ruang Pergerakan hingga Surga Thrifting

Pasar Senen

Jl. Pasar Senen Raya, Kel. Senen, Kec. Senen, Kota Jakarta Pusat

Jika dahulu para pedagang melanjutkan perjalanan ke Pasar Senen setiap hari Senin, kini kawasan tersebut lebih dikenal sebagai pasar kue subuh dan thrifting di Jakarta. Namun, di balik keramaian itu, Pasar Senen menyimpan sejarah yang panjang.

Jika dahulu para pedagang melanjutkan perjalanan ke Pasar Senen setiap hari Senin, kini kawasan tersebut lebih dikenal sebagai pasar kue subuh dan thrifting di Jakarta.

Pada era pra-kemerdekaan sekitar 1930-an, kawasan Pasar Senen menjadi tempat berkumpul para intelektual muda serta pejuang bawah tanah dari STOVIA. Tokoh-tokoh seperti Chairul Saleh, Adam Malik, Sukarno, dan Mohammad Hatta kerap menggelar pertemuan di kawasan ini.

Memasuki masa pendudukan Jepang pada 1942 hingga era 1950-an, Pasar Senen beralih menjadi salah satu pusat aktivitas para seniman Angkatan Pujangga Baru yang kemudian dikenal sebagai “Seniman Senen”. Dari lingkungan inilah lahir sejumlah nama besar, seperti Ajip Rosidi, Sukarno M. Noor, Wim Umboh, dan H.B. Jassin.

Pada dekade 1970–1990-an, Senen berkembang sebagai salah satu pusat ekonomi dan hiburan di Jakarta. Kehadiran bioskop legendaris Rex dan Grand semakin mengukuhkan kawasan ini sebagai salah satu tujuan hiburan masyarakat. Pada masa Gubernur Ali Sadikin, pembangunan “Proyek Senen” yang dilengkapi gedung parkir melingkar (gedung parkir pertama di Jakarta)—semakin menghidupkan aktivitas di kawasan tersebut.

Meski fungsi dan perannya terus berubah dari masa ke masa, nama “Senen” tetap menjadi pengingat bahwa kawasan ini berawal dari pasar bergilir yang mengatur ritme perdagangan Batavia.

Selasa: Pasar Selasa yang Kini Bernama Pasar Koja

Pasar Koja (dahulu Pasar Selasa)

Jl. Bhayangkara, Kel. Tugu Utara, Kec. Koja, Kota Jakarta Utara

Tak semua pasar bernama hari masih mempertahankan nama aslinya. Dahulu, kawasan ini dikenal sebagai Pasar Selasa karena hanya beroperasi pada hari Selasa. Kini, masyarakat lebih mengenalnya sebagai Pasar Koja.

Dahulu, kawasan ini dikenal sebagai Pasar Selasa karena hanya beroperasi pada hari Selasa.

Pergantian nama tersebut menunjukkan bahwa perkembangan kota dapat mengubah identitas sebuah pasar. Meski demikian, kisah tentang sistem pasar bergilir tetap menjadi bagian dari sejarah kawasan ini.

Perubahan nama tidak menghapus ingatan akan aktivitas perdagangan yang pernah membentuk kawasan tersebut. Dari sinilah perjalanan para pedagang berlanjut menuju pasar berikutnya dalam siklus perdagangan yang berlangsung sepanjang pekan.

Rabu: Pasar Rebo yang Kini Menjadi Pasar Cijantung

Pasar Cijantung (dahulu Pasar Rebo)

Jl. Beringin No. 2, Kel. Gedong, Kec. Pasar Rebo, Kota Jakarta Timur

Perjalanan berlanjut ke kawasan yang dahulu dikenal sebagai Pasar Rebo.

Kini, masyarakat lebih mengenalnya sebagai Pasar Cijantung. Meski begitu, nama “Rebo” tidak benar-benar hilang. Hingga sekarang, nama tersebut masih digunakan sebagai nama kecamatan di Jakarta Timur.

Perubahan ini menunjukkan bahwa perkembangan kota dapat mengubah nama sebuah pasar, tetapi tidak selalu menghapus jejak sejarahnya. Nama “Rebo” tetap menjadi pengingat bahwa kawasan ini pernah menjadi bagian dari sistem pasar bergilir yang menghubungkan para pedagang dari satu hari ke hari berikutnya.

Kamis: Pasar Kemis yang Kini Dikenal sebagai Pasar Jatinegara

Pasar Jatinegara (dahulu Pasar Kemis)

Jl. Matraman Raya, Kel. Bali Mester, Kec. Jatinegara, Kota Jakarta Timur

Tak banyak yang mengetahui bahwa Pasar Jatinegara dahulu dikenal sebagai Pasar Kemis.

Seiring berkembangnya kawasan, nama Jatinegara perlahan lebih dikenal masyarakat dibanding nama lamanya. Meski demikian, kawasan ini tetap menjadi bagian dari rangkaian pasar yang dahulu saling terhubung melalui sistem perdagangan bergilir.

Perubahan tersebut memperlihatkan bagaimana sebuah kawasan terus berkembang mengikuti zamannya, sementara cerita tentang pasar bernama hari tetap menjadi bagian dari sejarah Jakarta.

Jumat: Jejak Pasar Jumat di Lebak Bulus

Terminal Lebak Bulus (dahulu Pasar Jumat)

Jl. Pasar Jumat Raya, Kel. Lebak Bulus, Kec. Cilandak, Kota Jakarta Selatan

Perjalanan tim Indonesia Kaya berlanjut ke kawasan Lebak Bulus. Sulit membayangkan bahwa area yang kini identik dengan terminal dan stasiun MRT ini dahulu merupakan lokasi Pasar Jumat, pasar yang hanya beroperasi setiap hari Jumat.

Kini, aktivitas jual beli di pasar tersebut sudah tidak lagi ditemukan. Namun, namanya masih bertahan melalui Jalan Pasar Jumat Raya, menjadi pengingat bahwa kawasan ini pernah menjadi bagian dari sistem pasar bergilir.

Menurut Perumda Pasar Jaya, perkembangan tata kota memang dapat mengubah fungsi sebuah pasar. Sebuah pasar bisa berubah fungsi atau bahkan menghilang, tetapi nama yang terlanjur melekat pada suatu kawasan sering kali tetap dipertahankan sebagai penanda sejarah.

Sabtu: Pasar Sabtu yang Kini Bernama Pasar Tanah Abang

Pasar Tanah Abang (dahulu Pasar Sabtu)

Jl. KH Fachrudin, Kel. Kampung Bali, Kec. Tanah Abang, Kota Jakarta Pusat

Perjalanan selama sepekan ditutup di Tanah Abang.

Dahulu, kawasan ini dikenal sebagai Pasar Sabtu. Seiring berkembangnya permukiman dan semakin banyaknya masyarakat Jawa yang tinggal di sekitarnya, nama Tanah Abang perlahan lebih dikenal dibanding nama lamanya.

Seiring berkembangnya permukiman dan semakin banyaknya masyarakat Jawa yang tinggal di sekitarnya, nama Tanah Abang perlahan lebih dikenal dibanding nama lamanya.

Kini, Pasar Tanah Abang berkembang menjadi salah satu pusat perdagangan terbesar di Jakarta. Meski nama Pasar Sabtu tak lagi digunakan, kisah tentangnya tetap menjadi bagian dari perjalanan sejarah kawasan ini.

Lebih dari Sekadar Nama

Kini, pasar-pasar di Jakarta telah buka setiap hari. Para pedagang tak lagi berpindah dari satu pasar ke pasar berikutnya mengikuti jadwal mingguan seperti pada masa lalu.

Namun, warisan tersebut masih terasa hingga sekarang. Ada nama yang tetap melekat sebagai nama pasar, ada yang berubah menjadi nama kawasan, dan ada pula yang bertahan sebagai nama jalan.

Mungkin benar seperti yang diungkapkan seorang pedagang saat diminta menggambarkan Pasar Minggu dalam dua kata: “Tempat hidup.” Karena, lebih dari sekadar tempat jual beli, pasar-pasar bernama hari menyimpan kisah tentang bagaimana Jakarta pernah tumbuh, bergerak, dan saling terhubung.

Di tengah hiruk-pikuk Jakarta modern, nama-nama seperti Pasar Minggu, Pasar Senen, Pasar Jatinegara, hingga Tanah Abang masih mengingatkan bahwa ritme kota ini pernah dibentuk oleh perjalanan para pedagang dari satu hari ke hari berikutnya.

Informasi Selengkapnya