Kampung Tugu, Jejak Portugis yang Masih Hidup di Utara Jakarta - Indonesia Kaya

Cari dengan kata kunci

kampung tugu 2-resized-to-1800x1202

Kampung Tugu, Jejak Portugis yang Masih Hidup di Utara Jakarta

Lebih dari tiga abad, kampung di Jakarta Utara yang dihuni keturunan Portugis ini menjaga identitasnya melalui keroncong dan tradisi turun-temurun yang tetap hidup hingga kini.

Pariwisata

Di tengah hiruk-pikuk Jakarta Utara, berdiri sebuah kampung yang menyimpan kisah jauh lebih tua daripada usia Republik Indonesia. Di sini, jejak Portugis tidak hanya hidup dalam nama keluarga atau catatan sejarah, tetapi juga dalam musik, tradisi, dan cerita yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Namanya Kampung Tugu.

Terletak di Kelurahan Tugu, Kecamatan Koja, Jakarta Utara, kampung ini menjadi rumah bagi masyarakat Tugu—komunitas keturunan Portugis yang telah menetap di wilayah tersebut sejak abad ke-17. Di tengah perubahan kota yang terus bergerak, mereka tetap menjaga warisan budaya yang diwariskan para leluhur.

Indonesia Kaya berkesempatan mengunjungi Kampung Tugu dan berbincang dengan Arthur James Michiels, salah satu warga yang aktif melestarikan sejarah dan budaya Tugu. Percakapan berlangsung di Rumah Tugu, sebuah rumah kayu tua yang menjadi salah satu penanda sejarah komunitas Tugu sekaligus ruang pelestarian berbagai tradisi yang masih bertahan hingga sekarang.

Dari tempat inilah kisah Kampung Tugu mulai terurai.

Dari Batavia ke Hutan Rawa

Kisah Kampung Tugu bermula jauh sebelum Jakarta menjelma menjadi kota metropolitan seperti hari ini.

Leluhur Orang Tugu diyakini berasal dari komunitas Mardijkers atau Kaum Merdeka, yaitu bekas budak dan keturunan masyarakat dari berbagai wilayah Portugis di Asia yang kemudian dibebaskan oleh VOC. Sebagian berasal dari Malaka, India, Sri Lanka, hingga kawasan Timur Nusantara. Meski telah memperoleh kebebasan, mereka tetap membawa bahasa, budaya, dan tradisi yang berakar dari Portugis.

Leluhur Orang Tugu diyakini berasal dari komunitas Mardijkers atau Kaum Merdeka.

Pada abad ke-17, sebagian dari mereka menetap di Batavia. Namun kehidupan di kota pelabuhan itu tidak selalu berjalan mudah. Dalam ingatan yang diwariskan turun-temurun di Kampung Tugu, sebagian kecil komunitas tersebut memilih meninggalkan Batavia setelah mengalami perlakuan yang tidak menyenangkan pasca-perubahan agama dari Katolik menjadi Protestan. Mereka kemudian mencari tempat yang lebih aman untuk memulai kehidupan baru.

“1661 datang. Buat bersembunyi,” ucap Arthur.

Tempat yang mereka tuju saat itu sangat berbeda dengan Kampung Tugu yang dikenal sekarang. Wilayah ini masih berupa hutan lebat yang dikelilingi rawa-rawa, jauh dari pusat Batavia dan sulit dijangkau.

“Ini, kan, hutan. Dikelilingi oleh rawa-rawa,” lanjutnya.

Kondisi alam yang terpencil justru menjadikannya tempat yang ideal untuk berlindung. Di tengah bentang hutan dan rawa itulah para leluhur orang Tugu membangun komunitas kecil yang perlahan tumbuh dan bertahan dari generasi ke generasi.

Selama bertahun-tahun keberadaan mereka nyaris tak diketahui. Baru sekitar tahun 1675 komunitas ini ditemukan oleh Belanda. Sebagian memilih pergi, sementara mereka yang bertahan mulai membentuk sebuah permukiman yang kemudian berkembang menjadi Kampung Tugu.

Dari sebuah tempat persembunyian di pinggiran Batavia, lahirlah sebuah kampung yang mampu menjaga identitas budayanya selama lebih dari tiga abad. Hingga kini, jejak perjalanan para leluhur itu masih terasa dalam tradisi, musik, dan kehidupan masyarakat Tugu yang terus bertahan di tengah perubahan Jakarta.

Gereja, Sekolah, dan Awal Sebuah Kampung

Perjalanan Kampung Tugu memasuki babak baru pada tahun 1678.

“1678 itu dibangun gereja. Gereja yang juga berfungsi sebagai sekolah. Sarana publik udah ada,” ucap Arthur.

Keberadaan gereja menjadi penanda penting lahirnya kehidupan komunitas yang lebih terorganisasi. Selain berfungsi sebagai tempat ibadah, gereja juga menjadi ruang belajar dan pusat aktivitas sosial masyarakat.

Keberadaan gereja menjadi penanda penting lahirnya kehidupan komunitas yang lebih terorganisasi.

Arthur menuturkan bahwa setelah sebagian warga pergi, mereka yang bertahan kemudian membentuk sebuah jemaat. Beberapa tahun kemudian, pada 1678, berdirilah gereja yang menjadi pusat kehidupan masyarakat Tugu.

Dalam sejarah Kampung Tugu, nama Pendeta Melchior Leydekker juga memiliki peran penting. Ia dikenal sebagai tokoh gereja yang memimpin jemaat Tugu pada masa awal sekaligus penerjemah Alkitab ke dalam bahasa Melayu pada awal abad ke-18, sebuah karya yang memberi pengaruh besar terhadap perkembangan bahasa Melayu tulis di Nusantara.

Hingga kini, Gereja Tugu masih menjadi salah satu bangunan bersejarah paling penting di kawasan tersebut.

Satu Nama, Beragam Cerita

Asal-usul nama Tugu memiliki beberapa versi.

Ada yang mengaitkannya dengan kata “menunggu”, merujuk pada masa ketika para leluhur masyarakat Tugu hidup dalam persembunyian. Ada pula yang menghubungkannya dengan Prasasti Tugu peninggalan Kerajaan Tarumanegara yang ditemukan di wilayah Jakarta Utara.

Namun bagi masyarakat Tugu, ada penjelasan lain yang terasa lebih dekat dengan identitas mereka.

Arthur menuturkan bahwa sebagian warga meyakini nama Tugu berasal dari kata yang berakar dari Portugis. Menurut cerita yang ia dengar dari seorang tamu asal Portugal bernama Julio Ferreira yang berkunjung ke Kampung Tugu pada 2015, orang Portugal kerap menyebut diri mereka sebagai tuga, sebuah istilah slang yang merujuk pada identitas Portugis.

Orang Portugal kerap menyebut diri mereka sebagai tuga, sebuah istilah slang yang merujuk pada identitas Portugis.

“Kalau orang Portugal nyebut dirinya tuga,” ucap Arthur.

Dalam ingatan yang hidup di tengah masyarakat Tugu, istilah tersebut kemudian diyakini mengalami perubahan pengucapan hingga menjadi “Tugu”. Karena itulah, bagi sebagian warga, nama kampung ini bukan sekadar penanda wilayah, melainkan juga jejak hubungan panjang dengan akar budaya Portugis yang telah diwariskan selama berabad-abad.

Dan meski tidak ada kesepakatan tunggal mengenai asal-usul nama tersebut, versi inilah yang banyak diyakini oleh masyarakat setempat hingga sekarang.

Kampung yang Pernah Menjadi Tujuan Wisata Budaya

Dalam ingatan Arthur, Kampung Tugu dahulu adalah kampung yang teduh. Pohon asam, kelapa, dan mangga tumbuh di berbagai sudut kampung, membuat suasananya terasa jauh berbeda dibanding Jakarta saat ini.

“Di situ pohon asam sama pohon kelapa. Di situ pohon mango. Wah, adem banget,” ucapnya.

Ia bahkan memiliki satu kalimat sederhana yang menggambarkan rasa cintanya pada kampung tersebut. “Jakarta boleh panas, kampung gue jangan.”

Selain dikenal karena sejarahnya, Kampung Tugu juga pernah menjadi salah satu tujuan wisata budaya Jakarta. Pada era Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin, kawasan ini mendapat perhatian sebagai bagian dari upaya memperkenalkan kekayaan budaya ibu kota.

“Makanya jalan dibangun oleh Pak Ali Sadikin. Itu, kan, buat daerah tujuan wisata,” cerita Arthur.

Hingga kini, Kampung Tugu masih kerap menerima kunjungan pelajar dan komunitas yang ingin mengenal sejarah serta budayanya. Arthur menyebut berbagai sekolah datang untuk belajar tentang keroncong dan kehidupan masyarakat Tugu.

Salah Satu Rumah Tertua Keroncong

Jika ada satu hal yang paling melekat dengan Kampung Tugu, jawabannya adalah keroncong.

Jika ada satu hal yang paling melekat dengan Kampung Tugu, jawabannya adalah keroncong.

Bagi masyarakat Tugu, musik ini bukan sekadar hiburan, tapi juga bagian dari identitas yang diwariskan selama berabad-abad. Arthur sendiri telah memainkan keroncong sejak akhir 1980-an dan membawanya ke berbagai daerah di Indonesia hingga mancanegara.

“Pengalaman saya, kan, main keroncong dari tahun 88. Ke mana aja udah pernah,” ucapnya.

Menurut Arthur, bentuk awal keroncong yang dimainkan masyarakat Tugu berbeda dengan keroncong yang banyak dikenal saat ini.

“Itu keroncong baru tau musik jenis kayak gitu baru ada tahun 50. Aslinya, ya, di-strum kayak kita main,” ujarnya.

Dalam berbagai penelitian sejarah musik, Kampung Tugu kerap disebut sebagai salah satu komunitas yang memiliki hubungan erat dengan perkembangan awal musik keroncong di Indonesia. Keyakinan yang sama juga hidup di tengah masyarakat Tugu.

“Padahal udah kajian-kajian ilmiah di kampus-kampus udah bilang keroncong dari Kampung Tugu,” jelas Arthur.

Di tengah perubahan zaman, masyarakat Tugu terus berupaya menjaga tradisi tersebut melalui regenerasi.

“Sekarang orang kita ngebina dari anak-anak kecil,” lanjutnya.

Di Kampung Tugu, anak-anak diperkenalkan pada musik keroncong sejak dini, belajar memainkan alat musik, bernyanyi, hingga tampil dalam berbagai kegiatan budaya.

Rabo-rabo, Mengekor dari Rumah ke Rumah

Perayaan Tahun Baru di Kampung Tugu memiliki tradisi yang unik bernama rabo-rabo.

Arthur menjelaskan bahwa kata “rabo” berarti “ekor”. Makna itu tercermin dalam cara tradisi ini dilakukan.

Perayaan dimulai dari satu rumah. Warga berkumpul, memainkan keroncong, bernyanyi, dan mengucapkan selamat Tahun Baru. Setelah itu, rombongan berpindah ke rumah berikutnya.

Keluarga dari rumah yang telah dikunjungi akan ikut berjalan bersama menuju rumah selanjutnya. Semakin banyak rumah yang didatangi, semakin panjang pula rombongan yang terbentuk.

“Nah, ini kelompok keluarga di sini. Jadi makin lama makin panjang,” ucap Arthur.

Dahulu, ketika sebagian besar masyarakat Tugu masih tinggal berdekatan, tradisi ini bahkan dapat berlangsung selama berhari-hari. Selain menjadi perayaan tahun baru, rabo-rabo juga menjadi ruang silaturahmi yang mempererat hubungan antarwarga.

Mandi-mandi, Tradisi Minta Maaf yang Diucapkan Lewat Bedak

Jika rabo-rabo menjadi pembuka rangkaian perayaan tahun baru, maka mandi-mandi menjadi penutupnya.

Nama tradisi ini sering membuat orang salah paham. Meski mengandung kata “mandi”, tradisi ini tidak dilakukan dengan air. Arthur menjelaskan bahwa istilah tersebut berasal dari kata “mandar”, yang dalam pelafalan Portugis dibaca “mandai”. Dalam kebiasaan berbahasa masyarakat Tugu, bunyi “e” di akhir kata kemudian berubah menjadi “i”, sehingga lahirlah sebutan mandi-mandi.

Menjelang berakhirnya rangkaian perayaan Tahun Baru, warga saling mengoleskan bedak ke wajah satu sama lain sebagai simbol saling memaafkan. Bedak yang menempel di pipi menjadi penanda bahwa segala kesalahan dan ganjalan yang mungkin terjadi sepanjang tahun telah dilepaskan.

Menjelang berakhirnya rangkaian perayaan Tahun Baru, warga saling mengoleskan bedak ke wajah satu sama lain sebagai simbol saling memaafkan.

Orang yang dicoret bedak kemudian membalas dengan cara yang sama. Dalam satu momen sederhana, kedua pihak saling memberi dan menerima maaf sebelum memasuki tahun yang baru.

Bagi masyarakat Tugu, mandi-mandi menjadi simbol pembersihan hati dan jiwa.

“Karena kita sudah bersih jiwa kita,” ucap Arthur.

Dengan hati yang bersih, masyarakat Tugu percaya mereka dapat memasuki tahun yang baru dengan harapan dan langkah yang lebih baik.

Ritual Natal yang Kini Tinggal Kenangan

Tidak semua tradisi di Kampung Tugu masih bertahan hingga hari ini.

Salah satu yang paling diingat Arthur adalah tradisi malam Natal pada masa kecilnya. Setelah ibadah tengah malam selesai, anak-anak akan berkumpul lalu berjalan dari rumah ke rumah sambil membawa obor.

“Misalnya dulu malam Natal. Malam Natal itu kita anak-anak ngumpul. Misalnya di gereja. Itu setelah jam 12 malam,” ucapnya.

Saat itu listrik belum menerangi kampung seperti sekarang.

“Dan serunya itu pakai obor. Malam gak ada listrik,” ujar Arthur.

Tradisi tersebut kini sudah tidak lagi dilakukan. Namun ingatannya masih hidup dalam cerita warga yang pernah mengalaminya.

Menjaga Warisan yang Tak Terlihat

Kampung Tugu hari ini tidak sepenuhnya sama seperti dahulu. Banyak rumah lama telah berubah, sebagian warga menyebar ke berbagai wilayah, dan kehidupan kota terus bergerak di sekelilingnya.

Namun di balik perubahan itu, ada hal-hal yang tetap dijaga. Keroncong masih dimainkan. Rabo-rabo masih dirayakan. Mandi-mandi masih menjadi simbol saling memaafkan. Cerita tentang para leluhur terus diwariskan kepada generasi berikutnya.

Lebih dari tiga abad setelah para leluhurnya datang mencari perlindungan di tengah hutan dan rawa, Kampung Tugu masih menjaga apa yang tak terlihat oleh mata: ingatan, tradisi, dan rasa kebersamaan. Di tengah Jakarta yang terus berubah, kampung kecil ini mengingatkan bahwa sejarah tidak selalu hidup di museum. Kadang ia hidup dalam lagu yang terus dimainkan, kisah yang terus diceritakan, dan tradisi yang tetap dirayakan dari generasi ke generasi.

Informasi Selengkapnya
  • Indonesia Kaya

  • Indonesia Kaya