Cari dengan kata kunci

Museum Asmat, Museum yang Dibangun dengan Gaya Rumah Kariwari

museum_asmat_1200.jpg

Museum Asmat, Museum yang Dibangun dengan Gaya Rumah Kariwari

Suku Asmat merupakan salah satu suku asli di Papua yang terkenal dengan seni ukirnya yang menawan. Berbagai seni ukir tersebut merupakan representasi kedekatan mereka dengan ruh leluhur, ruh yang akan melindungi mereka dari segala bentuk penyakit dan marabahaya.

Pariwisata

Suku Asmat merupakan salah satu suku asli di Papua yang terkenal dengan seni ukirnya yang menawan. Berbagai seni ukir tersebut merupakan representasi kedekatan mereka dengan ruh leluhur, ruh yang akan melindungi mereka dari segala bentuk penyakit dan marabahaya. Selain seni ukir, Suku Asmat juga memiliki corak kebudayaan yang masih tradisional, hal tersebut terlihat dari berbagai perkakas yang semuanya berasal dari alam.

Untuk melindungi dan melestarikan berbagai benda dan kebudayaan asli masyarakat suku Asmat, Taman Mini Indonesia Indah menghadirkan Museum Asmat. Museum yang menempati lahan seluas 6500 m2 ini dibangun dengan menggunakan gaya rumah Kariwari, yaitu rumah pemujaan suku Tobati-Enggros yang merupakan penduduk asli di tepian Danau Sentani.

Museum Asmat terdiri dari tiga bangunan utama, bagian badannya menyerupai rumah panggung segi delapan. Bagian atapnya dibuat kerucut dengan ketinggian sekitar 25 m. Sementara bagian luar atap terbuat dari bahan GRC yang diberi aksen sehingga menyerupai daun rumbia. Secara umum, bangunan Museum Asmat dibuat modern dengan tanpa meninggalkan sisi tradisional rumah Asmat itu sendiri.

Ketiga bangunan Museum Asmat digunakan sebagai ruang pamer berbagai benda dan kebudayaan asli suku Asmat. Mulai dari alat-alat bercocok tanam, alat dapur, alat pemujaan, seni ukir, hingga alat-alat musik. Bangunan pertama Museum Asmat menjelaskan tentang hubungan antara manusia Asmat dengan lingkungannya. Dalam ruangan ini tersimpan pakaian adat suku Asmat, berbagai perhiasan, dan diorama yang menunjukkan hubungan antara suku Asmat dengan lingkunganya, seperti diorama yang menunjukkan tata cara pembuatan sagu suku Asmat.

Bangunan kedua Museum Asmat menjelaskan tentang hubungan antara masyarakat suku Asmat dengan kebudayaannya. Pada bagian ini banyak terpajang senjata tradisional suku Asmat yang digunakan dalam berburu dan mencari makanan. Selain itu, pada bagian ini juga dijelaskan berbagai benda yang berhubungan dengan ruh nenek moyang, seperti perahu arwah dan patung mbis.

Sementara bangunan ketiga Museum Asmat menjelaskan tentang hubungan antara masyarakat suku Asmat dengan kreativitasnya. Di ruangan ini terpajang berbagai hasil karya masyarakat suku Asmat yang sudah terpengaruh budaya kontemporer, seperti berbagai alat musik dan aksesoris lainnya.

Selain menyimpan berbagai benda dan kebudayaan Asmat, museum ini juga dilengkapi dengan fasilitas audio-visual sehingga pengunjung dapat dengan mudah memahami informasi yang didapatnya. Tidak hanya itu, menariknya, Museum Asmat juga menyediakan tempat khusus bagi pengunjung untuk berfoto dengan latar belakang budaya suku Asmat. Dibuka setiap hari kecuali Senin mulai pukul 08.00 hingga 16.00, Museum Asmat terbuka untuk siapa saja yang ingin berkunjung dan menambah pengetahuan tentang salah satu kebudayaan asli nusantara. [AhmadIbo/IndonesiaKaya]

Informasi Selengkapnya
  • Elsa Dwi Lestari

  • Indonesia Kaya

Berlangganan buletin Indonesia Kaya

Daftar ke buletin email Indonesia Kaya untuk mengikuti berita dan acara terkini.