Cari dengan kata kunci

Tifa Papua, Nada Ritmik Khas Bumi Papua

tifa_1290.jpg

Tifa Papua, Nada Ritmik Khas Bumi Papua

Tak sekadar bebunyian dalam gelaran seni namun juga pelengkap dalam ritual sakral.

Kesenian

Suara tak bernada itu nyaring terdengar di telinga. Tak hanya satu. Ada beberapa suara dan saling bersahutan. Sekilas terdengar seperti gendang, alat musik pukul. Namun suara ini lebih ringan terdengar daripada gendang. Suara ritmik ini keluar dari sebuah alat musik khas Papua yang bernama tifa.

Bagi masyarakat Papua, tifa adalah simbol identitas dan kebanggaan. Selain itu, tifa merupakan simbol persatuan, kearifan lokal, dan kerukunan. Tifa biasa dimainkan dalam upacara-upacara besar dan peringatan tertentu. Tifa juga dimainkan untuk mengiringi tari gatsi, afaitaneng, aluyen, aniri, antoroni, dan tarian tradisional lainnya.

Menurut I Wayan Rais dkk dalam “Tifa from the Land of Papua: Text and Context”, dimuat jurnal Asia Life Sciences 28 (2) 2019, untuk tujuan seremonial, tifa hanya dapat dimainkan oleh laki-laki. Pemain harus memahami pola dasar dan improvisasi tifa dengan baik karena berkaitan dengan gerakan menyanyi dan menari. Tifa adalah sarana berhubungan dengan Tuhan, leluhur dan kekuatan alam lainnya.

Asal-usul tifa Papua terkait erat dengan cerita rakyat. Setiap suku mewarisi tifa secara turun-temurun dan memiliki cerita lisan tentang tifa yang dikaitkan dengan mitos tentang sukunya serta hubungan mereka dengan alam dan lingkungan. Tak heran jika ada berbagai versi asal-usul tifa di Papua.

Ambil contoh mitos tentang asal-usul tifa di Biak. Suatu hari, di sebuah desa di Biak, sebuah pesta besar akan digelar. Seluruh penduduk antusias menyumbang dan berpartisipasi dalam pesta tersebut. Kecuali seorang bocah yatim yang miskin. Dengan sedih, dia pergi ke hutan dan duduk di bawah pohon. Dia menangis dan berdoa kepada leluhurnya agar mendapatkan jalan keluar sehingga tak menanggung malu karena tak bisa berpartisipasi seperti penduduk desa lainnya. Tiba-tiba terdengar suara seekor kadal “memukul” dadanya dari atas pohon. Kadal itulah yang menawarkan diri untuk menolong anak yatim itu. Caranya, dengan mengambil kulitnya untuk dijadikan sireb atau tifa dalam bahasa Biak. Sejak itu tifa selalu dimainkan dalam acara pesta dan kegiatan tradisi lokal lainnya.

Tifa adalah alat musik pukul berbentuk tabung. Ia terbuat dari kayu tebal dan bulat. Biasanya memakai kayu lenggua. Kayu khas Papua ini terkenal kuat dan memiliki kualitas nomor satu. Agar tifa semakin menarik, pembuatnya biasa memberikan ornamen-ornamen ukiran di sepanjang badan alat musik tersebut. Ukiran ini umumnya bercerita tentang hal-hal seputar kehidupan dan ungkapan syukur sang pembuat tifa.

Ukir-ukiran motif pada tifa beraneka ragam. Motif ukiran ini menandakan kepemilikan tifa berdasarkan marga. Jadi, hanya seseorang dengan marga yang sama saja yang boleh memainkan tifa dengan motif tertentu. Tifa ini diwariskan turun-temurun dari ayah ke anak sampai beberapa generasi. Bahkan ada tifa yang berumur sampai ratusan tahun.

Untuk menghasilkan suara yang diinginkan, bagian tengah kayu dilubangi dan dibiarkan kosong. Salah satu sisinya kemudian ditutup dengan kulit biawak atau soa-soa dan diikat dengan tali rotan. Biji damar ditempelkan di kulit biawak atau soa-soa agar suaranya makin nyaring. Di beberapa wilayah lain kulit rusa dan kanguru dipakai sebagai lapisan penutup lubang. Semakin kering lapisan kulit, semakin enak didengar suara yang dihasilkan. Pada bagian permukaan kulit diberikan sarang madu yang dibentuk kecil-kecil dan berbentuk kerucut, fungsinya adalah sebagai pengatur nada.

Sebelum digunakan, tifa terlebih dahulu dipanaskan di atas api. Hal ini bertujuan agar kulit pembungkus tifa menjadi kering (menghilangkan kelembaban kulit pembungkus) agar suara yang dihasilkan terdengar nyaring.

Secara umum karakteristik suara tifa sama dengan gendang. Namun warna dari suara ini ditentukan oleh ukuran tifa itu sendiri. Sementara kualitas suaranya ditentukan setelan lapisan kulit yang akan dipukul.

Tifa secara umum merupakan alat musik khas Indonesia Timur. Keberadaannya dapat ditemukan baik di Papua maupun Maluku. Namun, tifa dari kedua wilayah ini memiliki perbedaan mencolok pada bentuknya. Tifa asli Papua memiliki bentuk menyerupai permen dan memiliki pegangan di sampingnya. Sedangkan Tifa asli Maluku hanya berbentuk tabung biasa tanpa ada gagang untuk pegangan.

Aloysius Y. Nafurbenan dan Subardi dalam Mengenal Peralatan Musik Papua menyebut tifa memiliki beberapa jenis seperti tifa jekir, tifa potong, tifa dasar, dan tifa bas. Semua ditentukan oleh daerah asal dan memiliki ciri masing-masing. Pembagian jenis tifa tersebut dibedakan dari warna suara, sehingga saat dimainkan bersama, jenis-jenis tifa tersebut harus disesuaikan dengan warna suara dan fungsi masing-masing.

Seiring waktu, berkembang pula apa yang dikenal sebagai tifa syawat. Menurut Ismail Suardi Wekke dan Yuliana Ratna Sari dalam “Tifa Syawat dan Entitas Dakwah dalam Budaya Islam: Studi Suku Kokoda Sorong Papua Barat” di jurnal Thaqafiyyat, Vol. 13, No. 1, Juni 2012, tifa syawat diperkenankan dari Kokas, sebuah distrik di Kabupaten Fakfak, Papua Barat, oleh pendakwah Islam ke wilayah Kokoda untuk menyampaikan pesan-pesan keagamaan. Tifa syawat kemudian biasa digunakan dalam acara keagamaan, muludan, hingga acara pernikahan dan khitanan.

Tifa syawat adalah orkes musik dengan tetabuhan yang terdiri dari tifa, gong kecil, adrat, dan suling. Tifa jelas merupakan alat musik asli Papua. Gong merupakan alat musik asli dari Kokoda. Sedangkan adat dan suling dibawa oleh para dai dari luar. Adrat adalah alat musik pukul yang memiliki lima sampai 12 jenis dan ritme yang berbeda-beda. Sedangkan suling merupakan alat musik pelengkap. Biasanya tifa syawat dimainkan untuk mengiringi tarian tradisional, yakni tarian kasuari, yaitu menari dengan gerakan melambai-lambaikan tangan.

Sebagai alat musik pukul, tifa begitu populer dan terkenal hingga mancanegara. Sebuah alat musik yang memiliki banyak cerita dan kandungan budaya yang kental. Tifa, alunan nada ritmik yang sama sejak dulu hingga kini terus memberikan warna bagi indahnya bumi Papua.*

Informasi Selengkapnya
  • Indonesia Kaya

  • Indonesia Kaya

  • I Wayan Rais dkk. “Tifa from the Land of Papua: Text and Context”, jurnal Asia Life Sciences 28 (2) 2019.
    Ismail Suardi Wekke dan Yuliana Ratna Sari. “Tifa Syawat dan Entitas Dakwah dalam Budaya Islam: Studi Suku Kokoda Sorong Papua Barat”, jurnal Thaqafiyyat, Vol. 13, No. 1, Juni 2012.
    Aloysius Y. Nafurbenan dan Subardi. Mengenal Peralatan Musik Papua. Jayapura: UPTD Taman Budaya Provinsi Papua, 2009.

Berlangganan buletin Indonesia Kaya

Daftar ke buletin email Indonesia Kaya untuk mengikuti berita dan acara terkini.