Cari dengan kata kunci

Habema, Danau di Atas Awan

danau_habema_1290.jpg

Habema, Danau di Atas Awan

Jalan yang berliku, penuh kerikil tajam, dan menanjak terjal telah kulalui. Langit yang terbentang biru dan awan putih yang bergulung menemani setiap langkah yang kutapaki. Udara dingin berpadu dengan hangatnya sinar mentari memberikan semangat bagiku untuk mencapai titik agung itu.

Pariwisata
Tagar:

“Jalan yang berliku, penuh kerikil tajam, dan menanjak terjal telah kulalui. Langit yang terbentang biru dan awan putih yang bergulung menemani setiap langkah yang kutapaki. Udara dingin berpadu dengan hangatnya sinar mentari memberikan semangat bagiku untuk mencapai titik agung itu. Sebuah sumber kehidupan di puncak tinggi bumi Papua”.

Begitulah kira-kira gambaran perjalanan yang akan dilewati saat menuju Habema. Sebuah danau yang dianggap keramat dan menjadi sumber kesuburan serta kehidupan oleh masyarakat Dani di sekitarnya. Tidak hanya keunggulan dalam hal mistis, secara nyata pun danau ini unggul dalam banyak hal. Dengan ketinggian kurang lebih 3.225 meter di atas permukaan laut, tidak heran bila danau ini didaulat sebagai salah satu danau tertinggi di Indonesia.

Nama asli danau Habema sebenarnya adalah Yuginopa, sedangkan nama Habema diambil dari nama seorang perwira Belanda, yaitu Letnan Habema yang ikut mengawal tim ekpedisi ke puncak Trikora pada tahun 1909. Luas danau ini kurang lebih sekitar 224,35 hektar dengan keliling 9,79 kilometer dan berada di kawasan Taman Nasional Lorentz Papua.

Berjarak sekitar 48 kilometer dari kota Wamena, menuju danau Habema bukanlah perkara mudah. Jalan yang terjal, serta kontur tanah yang berbukit-bukit membuat siapapun yang ingin mencapai danau butuh kendaraan dengan penggerak 4 roda. Mungkin bila jalanan rata, dengan menggunakan mobil,  48 kilometer akan dicapai dengan waktu yang relatif singkat, sekitar 1,5 sampai 2 jam saja. Namun, karena kondisi alam yang cukup ekstrim, maka menuju Habema dengan menggunakan mobil dapat memakan waktu hingga 3 jam.

Begitu lamanya waktu yang ditempuh tidak akan terasa bila kita menikmati setiap pemandangan yang dilewati selama perjalanan. Hamparan bukit dengan pohon-pohon tinggi dan udara yang sejuk akan memanjakan mata di sepanjang jalan. Apalagi, bila kita berangkat dini hari dan mendapat kesempatan menikmati matahari terbit di antara pegunungan yang berangkai indah. Pemandangan yang langka dan terasa begitu berkesan.

Lelah selama perjalanan akan terbayar ketika sampai di Habema. Pemandangan yang begitu indah, megah dan sangat mempesona akan menyambut kita. Hamparan padang rumput di sekitar danau dan tanaman-tanaman endemik Papua seperti Rumah Semut atau anggrek hitam akan membuat kita bersyukur menjadi bagian dari alam indah Papua. Bila beruntung, berbagai jenis burung khas Papua, seperti Cendrawasih pun dapat kita temui atau paling tidak kita dapat menikmati kicauannya.

Sejauh mata memandang, lansekap pegunungan akan menjadi menu utama, hingga mata kita tertuju pada sebuah danau luas yang berlatarkan gunung bersalju nan indah. Sesaat kita akan terdiam dan menyadari bahwa inilah danau Habema. Sangat indah seperti di lukisan, apalagi danau tersebut berlatarkan Gunung Trikora (dahulu bernama Puncak Wilhelmina) yang menjulang tinggi dengan hamparan salju khatulistiwa di puncaknya. Panorama ini akan membuat kita seolah tidak sedang berada di Indonesia.

Rasa kagum ini sangat wajar untuk dirasakan, mengingat keadaan alam di sekitar danau Habema yang sungguh berbeda dari kondisi alam Indonesia pada umumnya. Suhu udara yang mencapai 0 derajat pada malam hari dan 10 derajat pada siang hari, hamparan padang rumput yang luas, jenis tumbuhan pegunungan yang sangat unik, lingkungan yang sepi penduduk, hingga salju yang terlihat jelas di puncak Trikora membuat Habema menjadi spesial dibandingkan wilayah pegunungan lain di nusantara. [@phosphone/IndonesiaKaya]

Tagar:
Informasi Selengkapnya
  • Elsa Dwi Lestari

  • Indonesia Kaya

Berlangganan buletin Indonesia Kaya

Daftar ke buletin email Indonesia Kaya untuk mengikuti berita dan acara terkini.