Cari dengan kata kunci

1574_thumb_Anyaman_daun_pandan_yang_diubah_menjadi_kerajinan_tikar_yang_indah_khas_buatan_masyarakat_Desa_Tepal_Sumbawa.jpg

Beranyam Tikar, Kerajinan Tangan Para Wanita Sumbawa

Beranyam tikar yang awalnya dipandang sebelah mata, kini menjadi mata pencarian utama para wanita Sumbawa.

Tradisi

Tak suka menganggur, adalah kata yang tepat untuk menggambarkan para wanita di Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, tepatnya di Desa Tepal. Saat musim kemarau, para ibu giat menanam hingga memanen sawah dan kebun. Sedangkan di musim penghujan, tak ada lagi pekerjaan yang tersisa untuk dilakukan. Sehingga mereka akan menyibukkan diri dengan beranyam di sela waktu senggang setelah mengurus rumah dan keluarga.

Kegiatan beranyam telah diwariskan dari generasi ke generasi, dari para ibu kepada anak perempuannya untuk menciptakan warisan yang tak hanya terlihat indah tapi juga bisa digunakan sehari-hari dan dinikmati kegunaannya bagi seluruh keluarga. Begitu melekat hingga anyaman menjadi bagian yang tak terpisahkan dari rumah masyarakat Sumbawa.

Kegiatan beranyam begitu melekat hingga menjadi bagian yang tak terpisahkan dari rumah masyarakat Sumbawa.

Dari semua jenis anyaman di berbagai media, tipe yang paling dasar dan sering dibuat adalah anyaman tikar. Mungkin karena fungsinya untuk tempat berkumpul seluruh keluarga, semakin besar tikar, semakin banyak pula keluarga yang bisa bergabung. Atau bisa juga karena proses pembuatannya yang begitu menyenangkan.

Tak dipungkiri, kegiatan beranyam tikar jadi ajang untuk mempererat hubungan sosial dan persaudaraan di Desa Tepal. Para perempuan berkumpul, berbagi pengalaman, dan saling memberi dukungan dalam menjalani kehidupan selama proses beranyam. Kegiatan ini menciptakan ikatan yang kuat di antara para wanita, terlebih antara ibu dengan anak perempuannya.

Maka tak heran jika beranyam adalah salah satu keterampilan utama yang diajarkan untuk para wanita. Karena lewat beranyam wanita bisa meluangkan waktu untuk bersosialisasi dan menghasilkan sesuatu yang berguna untuk digunakan keluarganya. Bahkan tak jarang, kemampuan beranyam jadi tolak ukur kedewasaan seorang perempuan.

Tak jarang, kemampuan beranyam akan dijadikan tolak ukur kedewasaan seorang perempuan.

Tahapan Beranyam Tikar

Proses beranyam tikar dimulai dari pemilihan bahan baku. Biasanya, para ibu Suku Samawa–suku asli Sumbawa–akan memetik daun pandan bersama-sama. Setelah memilih daun yang bagus, daun-daun dipotong dan disayat hingga berbentuk sulur panjang. Barulah kemudian daun-daun dijemur hingga kaku dan warnanya berubah dari hijau menjadi cokelat pucat.

Daun bisa saja langsung digunakan, tapi para ibu tentu saja memilih untuk mewarnainya terlebih dahulu agar karyanya terlihat menarik saat selesai nanti. Biasanya daun pandan akan diwarnai hijau, merah, merah muda, ungu, atau putih. Setelah pewarna kering sempurna, proses beranyam bisa dimulai.

Wanita-wanita terampil mulai melibatkan tangan mereka menjalin daun satu per satu. Daun dijalin tumpang-tindih dengan teknik yang harmonis, sehingga membentuk pola-pola yang sering kali terinspirasi dari keindahan di sekitar mereka. Bisa berupa bentuk geometris, flora, fauna, maupun figuratif (manusia).

Setelah proses beranyam selesai, tikar hasil karya para ibu yang memiliki nilai kerajinan tangan tinggi siap digunakan atau dijual. Tikar bisa digunakan sebagai alas duduk, terutama saat ada acara adat, atau bisa juga sebagai alas tidur. Dedikasi para wanita tersemat di dalamnya, kuat terjalin seperti hubungan para ibu yang saling mendukung dan bercengkerama dalam setiap juntaian daun.

Dedikasi para wanita tersemat di dalamnya, kuat terjalin seperti hubungan para ibu yang saling mendukung dan bercengkerama dalam setiap juntaian daun.

Penggunaan Hasil Anyaman

Selain keindahannya, kerajinan tangan anyaman dari Sumbawa juga memiliki nilai fungsi dan ekonomi. Demi membantu penghasilan keluarga, wanita-wanita Sumbawa menggunakan keahlian mereka beranyam tikar untuk mengembangkan berbagai produk kekinian mulai dari keranjang, hiasan dinding, topi, hingga tas.

Anyaman dari Sumbawa terkenal kuat dan tahan lama, masyarakat asli pun sering membuatnya menjadi keranjang penyimpan hasil panen yang bisa membawa beban puluhan kilogram. Sedangkan hiasan dinding, topi, dan tas akan dibuat dengan gabungan warna-warna terang agar terlihat menarik dan memiliki daya jual.

Anyaman dari Sumbawa terkenal kuat dan tahan lama.

Setelah menjadi populer (bahkan hingga ke mancanegara), hasil anyaman para wanita Suku Samawa bahkan bisa menjadi sumber penghidupan keluarga dan mata pencarian utama. Mereka bisa menjualnya ke pasar, sentra kerajinan, atau ke pemilik usaha untuk dijual di kota besar bahkan diekspor. Ini memberikan kesempatan bagi para wanita untuk mempertahankan budaya dan tradisi, sambil mendapatkan penghasilan layak untuk keluarga.

Kerajinan tangan anyaman dari Sumbawa adalah suatu kebanggaan dan kekayaan yang patut diapresiasi. Keterampilan para ibu yang terlihat dalam setiap jalinan adalah cermin dari ketekunan dan dedikasi wanita dalam menghidupi keluarganya. Para ibu dari Suku Samawa adalah penerus budaya yang berharga, mengajarkan tentang kekuatan, cinta pada keluarga, dan keindahan dalam kesederhanaan.

Informasi Selengkapnya
  • Indonesia Kaya

  • Indonesia Kaya

  • IDN Times
    Museum NTB
    Indonesia Kaya
    Akurat
    Direktori Pariwisata