Cari dengan kata kunci

Kebersamaan dalam Selembar Kain

Batik_sasambo_1200.jpg

Kebersamaan dalam Selembar Kain

Sasak, Samawa, dan Mbojo mengembangkan batik unik. Motifnya muncul dari khazanah budaya lokal.

Kesenian

ALKISAH, dahulu kala hidup seorang putri raja yang cantik dan baik hati. Namanya Putri Mandalika. Banyak pangeran terpikat dan ingin meminangnya. Untuk mencari petunjuk, Putri Mandalika pun bertapa. Setelah itu dia mengundang seluruh pelamar untuk berkumpul di Pantai Seger –kini lebih dikenal dengan Pantai Kuta Lombok.

Hari itu pun tiba. Mengenakan busana indah berbahan sutra, Putri Mandalika berdiri di atas Bukit Seger ditemani para pengawal. Keputusan disampaikannya: menerima semua lamaran, demi menjaga ketentraman dan kedamaian pulau. Lalu, secara tiba-tiba, dia menjatuhkan diri ke laut dan hanyut ditelan ombak.

Semua orang mencari tapi tak satu pun menemukan sang putri. Mereka justru menemukan cacing laut berwarna-warni yang disebut nyale dan dipercaya sebagai jelmaan Putri Mandalika.

Dari legenda tersebut, penduduk sekitar membuat Upacara Nyale atau Bau Nyale setahun sekali. Bukan hanya itu, kisah Putri Mandalika diabadikan dalam selembar kain menjadi sebuah motif batik sasambo. Motif ini melambangkan perempuan yang berani, cerdas, dan memiliki sikap.

Sasambo merupakan akronim dari tiga etnis yang mendiami bumi Nusa Tenggara Barat (NTB): Sasak di Lombok, Samawa di Sumbawa, dan Mbojo di Bima. Ketiga etnis yang mendiami dua pulau besar di NTB ini, Lombok dan Sumbawa, memiliki adat dan budaya berbeda. Tapi warga di ketiga etnis sepakat untuk bersama-sama menciptakan kerajinan tangan tradisional yang indah dengan nama batik sasambo. Batik sasambo diharapkan dapat menjadi sarana mempererat kerukunan dan kebersamaan ketiga etnis tersebut.

Sejarah batik sasambo masih muda. Pengakuan UNESCO tentang kain batik sebagai warisan budaya dunia mendorong pemerintah daerah NTB untuk mengembangkan dan menghasilkan batik sendiri.

Produk pertama batik yang dikenal dengan batik motif sasambo diperkenalkan ke publik pada 2010. Disusul kebijakan menjadikan batik sasambo sebagai pakaian wajib pegawai negeri dan seragam sekolah. Kegiatan membatik juga diperkenalkan di sekolah seperti Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 5 Mataram dan Pondok Pesantren di Kabupaten Lombok Barat.

Keberadaan batik sasambo berakar dari Jawa. Diyakini budaya membatik ditinggalkan Kerajaan Majapahit saat melakukan ekspedisi Majapahit ke Kerajaan Selaparang di wilayah Nusa Tenggara. Namun kegiatan membatik tak berkembang karena masyarakat lebih suka membuat kain tenun. Sisa-sisa dari budaya batik tampak pada ikat kepala khas NTB yang disebut capuq.

Teknik pembuatan batik sasambo tak berbeda dari daerah lainnya. Sedikit yang membedakan, sebelum proses membatik, kain terlebih dahulu ditenun kemudian baru dibatik. Hal ini wajar karena NTB lebih dikenal dengan tradisi tenunnya.

Batik sasambo juga masih diproses dengan menggunakan teknik tradisional. Keahlian tangan sang perajin dibutuhkan untuk membuat pola, motif, dan warna pada batik sasambo. Ada yang unik ketika pelepasan warna di batik sasambo. Potongan besi yang ujungnya telah dipanaskan akan ditempel pada kain untuk melepas bahan lilin sebagai pemisah warna di batik sasambo.

Untuk motif, batik sasambo memiliki empat motif utama, yakni motif sasambo, motif mada sahe (mata sapi), motif kakando (tunas bambu), dan uma lengge (rumah adat). Motif mada sahe menampilkan ragam hias mata sapi dengan warna dasar kain hitam dan motif wajik dan zig-zag. Motif kakando memadukan ragam hias garis dan bunga dengan warna dominan merah marun. Motif uma lengge menampilkan ragam hias rumah adat dengan warna dominan hitam dan oranye.

Motif-motif utama itu bisa dipadupadankan dengan motif pengisi sesuai dengan kekhasan masing-masing etnis. Misal, motif uma legge diisi motif berupa untaian padi dan tari tradisional buja kadanda atau mpa’a manca yang merupakan tarian meminta doa restu dan keselamatan sebelum berjuang atau berperang.

Kendati belum setua tradisi membatik di Jawa, batik sasambo tumbuh dengan pesat. Para perajin mengembangkan beragam corak dan motif yang khas sesuai khazanah budaya dan alam sekitar. Misal, motif kelotok sapo (gantung leher sapi), motif rumah panggung, motif lumbung raja bima, kerang, hingga daun bebele.

Motif batik sasambo yang paling dan terkenal adalah motif kangkung yang berwarna merah dan berpadu warna kuning keemasan. Motif ini mengambil inspirasi dari makanan tanaman menjalar yang mudah dijumpai di Lombok dan menjadi makanan khas pelecing kangkung.

Batik dari masing-masing etnis dapat dibedakan dari corak dan warna yang dihasilkan. Pulau Lombok mengangkat motif bunga, daun, kesenian daerah, hingga monumen. Sementara Pulau Sumbawa cenderung suka motif etnis dan budaya.

Batik sasambo didominasi warna-warna cerah seperti merah, kuning, biru. dan hijau. Warna merah melambangkan energi, semangat, dan keberanian dalam menempuh kehidupan.Warna kuning melambangkan kebahagiaan dan menarik perhatian. Warna biru melambangkan peruntungan yang baik, optimisme, cinta, dan kedamaian. Sementara warna hijau melambangkan kesuburan, daya tahan, keseimbangan, dan persahabatan.

Kain yang halus dan motif artistik bisa menjadi penentu harga jual batik sasambo, mulai dari ratusan ribu hingga jutaan rupiah. Lamanya proses pembuatan pun membuat harga batik sasambo menjadi sangat mahal. Hal ini wajar bila melihat kain yang dihasilkan dan proses pembuatan yang rumit.

Batik sasambo memang belum dikenal luas di Indonesia. Tapi ia telah ikut memperkaya khazanah budaya Indonesia dan warisan budaya dunia.*

Informasi Selengkapnya
  • Indonesia Kaya

  • Indonesia Kaya

  • Batik Sasambo di Desa Rembitan, Pujut, Lombok Tengah. Artikel Amalia Ika Safitri cs terbit di jurnal Undiksha volume 7 tahun 2019
    Pembelajaran Motif Batik Sasambo. Skripsi dari Nurul Wahdaniah yang diselesaikan di Universitas Negeri Yogyakarta

Berlangganan buletin Indonesia Kaya

Daftar ke buletin email Indonesia Kaya untuk mengikuti berita dan acara terkini.