Cari dengan kata kunci

Ada Buaya di Tengah Kota Jayapura

penangkaran_buaya_1290.jpg

Ada Buaya di Tengah Kota Jayapura

Jayapura adalah sebuah kota besar yang sudah dikenal cukup modern. Berbagai bangunan besar dan gedung-gedung tinggi pun mulai bermunculan di kota ini. Jumlah penduduk pun terus berkembang seiring semakin majunya perekonomian.

Pariwisata
Tagar:

Jayapura adalah sebuah kota besar yang sudah dikenal cukup modern. Berbagai bangunan besar dan gedung-gedung tinggi pun mulai bermunculan di kota ini. Jumlah penduduk pun terus berkembang seiring semakin majunya perekonomian. Namun, siapa sangka di tengah modernisasi di Jayapura terdapat sebuah peternakan yang mengembangbiakkan hewan luar biasa. Tempat ini adalah sebuah peternakan sekaligus penangkaran buaya.

Letaknya hanya 30 menit dari pusat kota Jayapura, tepatnya di wilayah distrik Entrop. Peternakan ini sebenarnya dimiliki oleh sebuah perusahaan perdagangan yang cukup besar di Jayapura. Salah satu perdagangan yang dilakukan perusahaan ini adalah perdagangan buaya, baik itu kulitnya atau dagingnya. Hewan buaya memang dilindungi di Indonesia, namun perusahaan ini memiliki izin resmi dari pemerintah daerah dengan catatan harus mampu mengembangbiakkannya. Dari hasil perjanjian ini, maka kita dapat mengetahui sebab berdirinya peternakan dan penangkaran buaya di Entrop ini.

Memasuki wilayah penangkaran, hal pertama yang terlihat adalah petak-petak kolam yang cukup banyak. Sekitar 40 kolam besar terlihat berjajar rapih dengan beberapa kolam kecil di sekitarnya. Namun, kolam yang berfungsi hanya sekitar 20 kolam dan sisanya sedang dalam perbaikan. Setiap kolam berisi sekitar 200-300 ekor buaya yang dipisahkan sesuai ukurannya dan secara keseluruhan ada sekitar 5000 ekor buaya di tempat ini. Pemisahan ini perlu dilakukan untuk memudahkan pengelompokkan buaya yang sudah layak dijual, karena ukuran yang boleh diperdagangkan harus lebih dari 12 inci.

Buaya yang dikembangbiakkan di tempat ini adalah buaya yang berasal dari sungai Mamberamo. Perusahaan dagang pemilik peternakan ini bekerjasama dengan sejumlah masyarakat setempat yang memang sudah mulai berburu buaya sejak nenek moyang mereka. Perusahaan biasanya akan membeli indukan buaya dan mulai mengembangbiakkannya di tempat ini. Ada dua jenis buaya yang diternakan, yaitu Crocodylus Kokoreo yang berasal dari muara sungai dan Crocodylus Nvajuni yang berasal dari Papua Nugini. Kedua jenis ini merupakan buaya besar yang dapat berkembang hingga berukuran 10 meter panjangnya.

Berbicara mengenai ukuran, buaya yang boleh diperdagangkan adalah buaya yang sudah besar dan berukuran lebih dari 12 inci. Setiap inci dari buaya ini akan dihargai sekitar Rp. 30.000 ketika sudah masuk bursa penjualan buaya. Oleh karena itu, semakin panjang dan besar buaya akan semakin mahal juga harga yang dikenakan. Para pembeli kebanyakan adalah pengrajin kerajinan kulit buaya, sehingga mereka membeli buaya-buaya ini hanya untuk diambil kulitnya. Selain itu, buaya ini pun dibeli untuk diambil dagingnya untuk dibuat abon, dendeng atau sate. Uniknya, bagian pangkur buaya juga banyak dibeli terutama oleh para kaum pria karena dipercaya merupakan obat kuat yang sangat berkhasiat.

Penangkaran buaya di Entrop tidak hanya berfungsi sebagai penunjang aktifitas perdagangan perusahaan yang memilikinya saja. Tempat ini juga telah menjadi salah satu obyek wisata yang menarik untuk dikunjungi bagi para wisawatan. Selain dapat mengenal lebih jauh lagi tentang buaya yang banyak sekali ditemukan di Papua, para wisatawan juga dapat membeli berbagai produk yang berbahan dasar buaya.
(@phosphone / Indonesia Kaya)

Jayapura adalah sebuah kota besar yang sudah dikenal cukup modern. Berbagai bangunan besar dan gedung-gedung tinggi pun mulai bermunculan di kota ini. Jumlah penduduk pun terus berkembang seiring semakin majunya perekonomian. Namun, siapa sangka di tengah modernisasi di Jayapura terdapat sebuah peternakan yang mengembangbiakkan hewan luar biasa. Tempat ini adalah sebuah peternakan sekaligus penangkaran buaya.

Letaknya hanya 30 menit dari pusat kota Jayapura, tepatnya di wilayah distrik Entrop. Peternakan ini sebenarnya dimiliki oleh sebuah perusahaan perdagangan yang cukup besar di Jayapura. Salah satu perdagangan yang dilakukan perusahaan ini adalah perdagangan buaya, baik itu kulitnya atau dagingnya. Hewan buaya memang dilindungi di Indonesia, namun perusahaan ini memiliki izin resmi dari pemerintah daerah dengan catatan harus mampu mengembangbiakkannya. Dari hasil perjanjian ini, maka kita dapat mengetahui sebab berdirinya peternakan dan penangkaran buaya di Entrop ini.

Memasuki wilayah penangkaran, hal pertama yang terlihat adalah petak-petak kolam yang cukup banyak. Sekitar 40 kolam besar terlihat berjajar rapih dengan beberapa kolam kecil di sekitarnya. Namun, kolam yang berfungsi hanya sekitar 20 kolam dan sisanya sedang dalam perbaikan. Setiap kolam berisi sekitar 200-300 ekor buaya yang dipisahkan sesuai ukurannya dan secara keseluruhan ada sekitar 5000 ekor buaya di tempat ini. Pemisahan ini perlu dilakukan untuk memudahkan pengelompokkan buaya yang sudah layak dijual, karena ukuran yang boleh diperdagangkan harus lebih dari 12 inci.

Buaya yang dikembangbiakkan di tempat ini adalah buaya yang berasal dari sungai Mamberamo. Perusahaan dagang pemilik peternakan ini bekerjasama dengan sejumlah masyarakat setempat yang memang sudah mulai berburu buaya sejak nenek moyang mereka. Perusahaan biasanya akan membeli indukan buaya dan mulai mengembangbiakkannya di tempat ini. Ada dua jenis buaya yang diternakan, yaitu Crocodylus Kokoreo yang berasal dari muara sungai dan Crocodylus Nvajuni yang berasal dari Papua Nugini. Kedua jenis ini merupakan buaya besar yang dapat berkembang hingga berukuran 10 meter panjangnya.

Berbicara mengenai ukuran, buaya yang boleh diperdagangkan adalah buaya yang sudah besar dan berukuran lebih dari 12 inci. Setiap inci dari buaya ini akan dihargai sekitar Rp. 30.000 ketika sudah masuk bursa penjualan buaya. Oleh karena itu, semakin panjang dan besar buaya akan semakin mahal juga harga yang dikenakan. Para pembeli kebanyakan adalah pengrajin kerajinan kulit buaya, sehingga mereka membeli buaya-buaya ini hanya untuk diambil kulitnya. Selain itu, buaya ini pun dibeli untuk diambil dagingnya untuk dibuat abon, dendeng atau sate. Uniknya, bagian pangkur buaya juga banyak dibeli terutama oleh para kaum pria karena dipercaya merupakan obat kuat yang sangat berkhasiat.

Penangkaran buaya di Entrop tidak hanya berfungsi sebagai penunjang aktifitas perdagangan perusahaan yang memilikinya saja. Tempat ini juga telah menjadi salah satu obyek wisata yang menarik untuk dikunjungi bagi para wisawatan. Selain dapat mengenal lebih jauh lagi tentang buaya yang banyak sekali ditemukan di Papua, para wisatawan juga dapat membeli berbagai produk yang berbahan dasar buaya. [@phosphone/IndonesiaKaya]

Tagar:
Informasi Selengkapnya
  • Elsa Dwi Lestari

  • Indonesia Kaya

Berlangganan buletin Indonesia Kaya

Daftar ke buletin email Indonesia Kaya untuk mengikuti berita dan acara terkini.