Cimande, Desa yang Mewariskan Pencak Silat sebagai Cara Hidup - Indonesia Kaya

Cari dengan kata kunci

Pencak silat cimande

Cimande, Desa yang Mewariskan Pencak Silat sebagai Cara Hidup

Di desa yang terletak di Kabupaten Bogor ini, pencak silat tumbuh lebih dari sekadar bela diri—menyatu dengan adat dan nilai yang terus dijaga masyarakatnya.

Pariwisata

Suasana Kampung Tarikolot di Desa Cimande, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor, terasa hangat dan akrab ketika tim Indonesia Kaya tiba di Padepokan Saung Penca Cimande. Para murid terlihat tengah berlatih, mengulang gerakan demi gerakan di tengah keseharian kampung yang berada di kaki Gunung Pangrango.

Pemandangan itu langsung memperlihatkan satu hal: di Cimande, pencak silat bukan sekadar cerita dari masa lalu. Ia masih dipelajari, dipraktikkan, dan diteruskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Desa Cimande mungkin lebih dahulu dikenal masyarakat luas lewat pengobatan patah tulang dan minyak urutnya. Namun, pertemuan dengan Abah Didi Supriadi, pimpinan padepokan, membuka cerita yang lebih utuh. Menurutnya, kehidupan budaya Cimande tidak dapat dilepaskan dari tiga hal yang saling berhubungan: penca silat, pengobatan tradisional, serta balur atau minyak Cimande.

Kehidupan budaya Cimande tidak dapat dilepaskan dari tiga hal yang saling berhubungan: penca silat, pengobatan tradisional, serta balur atau minyak Cimande.

Cimande juga berkembang sebagai desa wisata berbasis budaya. Pengunjung tidak hanya datang untuk melihat, tetapi juga dapat mengenal tradisinya lebih dekat, bahkan berguru langsung kepada para pewarisnya. Padepokan menjadi salah satu ruang tempat pengetahuan itu tetap hidup dan terbuka untuk dipelajari.

Nama Cimande sendiri mulanya merujuk pada sungai yang mengalir di sekitar desa. Dalam penuturan masyarakat setempat, nama tersebut dikaitkan dengan ungkapan Sunda cai iman anu hade, yang berarti “air iman yang baik”. Seiring waktu, Cimande juga melekat pada salah satu aliran pencak silat tertua di Jawa Barat dan Indonesia.

Penca Cimande, Jurus Silat yang Dimulai dari Duduk

Percakapan dengan Abah Didi dimulai dari sebuah istilah sederhana: penca.

Dalam bahasa Sunda, pencak silat biasa disebut penca. Karena itulah masyarakat Cimande tetap menggunakan penyebutan tersebut—tanpa huruf “k”—ketika berbicara tentang tradisi silat mereka. Namun, kekhasan penca Cimande tentu tidak berhenti pada namanya.

Dalam bahasa Sunda, pencak silat biasa disebut penca.

Ketika tim Indonesia Kaya berkesempatan mencoba beberapa gerakan bersama Abah Didi, posisi pertama yang diambil justru bukan berdiri atau memasang kuda-kuda, melainkan duduk.

Begitulah penca Cimande dipelajari. Seorang murid harus lebih dahulu menguasai 33 jurus dalam posisi duduk. Baru setelah seluruh jurus tersebut selesai dipelajari, latihan berlanjut dalam posisi berdiri dan masuk ke pengaturan langkah kaki. Menurut Abah Didi, pola inilah yang menjadi salah satu ciri khas penca Cimande dibandingkan silat dari daerah lain.

Ketika ditanya mengapa harus dimulai dari duduk, Abah Didi menjawabnya dengan perumpamaan sederhana: manusia lahir pun tidak langsung menjadi dewasa. Ada proses yang harus dijalani.

Makna “proses” itu terasa saat beberapa gerakan dasar dicoba. Tangan kanan dan kiri mesti bergerak seimbang. Posisi keduanya tidak boleh timpang. Gerakan yang tampak sederhana ketika dilihat ternyata membutuhkan ketelitian ketika dilakukan sendiri.

Pengalaman kemudian berlanjut bersama Wafi, salah satu murid padepokan. Kali ini latihan dilakukan dalam posisi berdiri, mulai dari kuda-kuda dan langkah kaki hingga simulasi serangan dan pertahanan.

Di titik ini, penca mulai terlihat bukan hanya sebagai rangkaian teknik. Ada disiplin yang dibangun perlahan, ada ketekunan yang dibutuhkan untuk mengulang setiap gerak, dan ada proses yang harus dijalani sebelum seorang murid dapat melangkah ke tahap berikutnya.

Penca Cimande pun tidak hanya hidup di ruang latihan. Para murid membawanya ke arena pertandingan dan menampilkannya sebagai seni pertunjukan tradisional. Dari padepokan hingga panggung, penca terus menemukan ruang untuk hadir tanpa kehilangan akar budayanya.

Ta’leq, Adab di Balik Ilmu Penca

Namun, kemampuan menggerakkan tubuh bukan satu-satunya hal yang dipelajari dalam penca Cimande.

Sebelum mendalami ilmunya, seorang murid terlebih dahulu mengenal ta’leq—sumpah sekaligus aturan yang menjadi pegangan dalam kehidupan sehari-hari. Ada sekitar 14 butir dalam ta’leq Cimande, yang mengatur bagaimana seorang murid harus membawa diri, bukan hanya saat berada di padepokan, tetapi juga ketika hidup di tengah masyarakat.

Artinya, ta’leq bukan sekadar syarat sebelum memasuki latihan. Nilai-nilai di dalamnya harus ikut dijalankan sepanjang proses mempelajari penca. Hal inilah yang membuat belajar penca di Cimande juga berarti belajar tentang adab dan tanggung jawab terhadap ilmu yang dimiliki.

Belajar penca di Cimande juga berarti belajar tentang adab dan tanggung jawab terhadap ilmu yang dimiliki.

Ta’leq pula yang tetap dijaga sebagai salah satu pegangan untuk meneruskan nilai-nilai Cimande kepada generasi berikutnya. Jurus dapat diwariskan melalui gerakan tubuh, tetapi sikap hidup diteruskan melalui prinsip yang menyertainya.

Salah satu prinsip yang beberapa kali disampaikan Abah Didi merangkum pandangan itu dengan sederhana: “Jangan cuma bisa merusak, tapi juga harus bisa memperbaiki.”

Di Cimande, prinsip tersebut tidak berhenti sebagai nasihat. Kemampuan bela diri dapat menimbulkan cedera—mulai dari keseleo, bengkak, hingga patah tulang—sehingga pengetahuan untuk memulihkan tubuh pun berkembang beriringan dengan ilmu tentang bagaimana tubuh bertahan.

Di sinilah cerita tentang pencak silat bertemu dengan sisi Cimande yang selama ini juga dikenal luas: pengobatan tradisional.

Ketika Ilmu Bela Diri Bertemu Pengobatan

Tidak semua pesilat Cimande wajib mempelajari ilmu pengobatan. Namun, mereka yang ingin mendalaminya perlu terlebih dahulu memahami penca. Dalam tradisi ini, ilmu silat menjadi dasar sebelum seseorang belajar lebih jauh tentang pengobatan.

Hubungan itulah yang kemudian ikut menjelaskan keberadaan rumah-rumah tabib di Cimande. Tempat-tempat pengobatan tersebut tidak dikelola secara kolektif, melainkan secara mandiri oleh warga yang telah menguasai ilmunya. Mereka yang telah menguasai seluruh jurus silat dapat melanjutkan pembelajaran ke ilmu pengobatan.

Teknik urutnya pun masih berkaitan dengan pengetahuan penca Cimande. Proses pengobatan biasanya dilengkapi dengan balur atau minyak Cimande yang memberi rasa hangat dan membantu mengurangi rasa sakit ketika tubuh diurut.

Bahkan, nama balur pun memiliki ceritanya tersendiri. Masyarakat memaknainya dari ungkapan Sunda ngalobakeun dulur—memperbanyak saudara. Sebuah filosofi yang membuat tradisi pengobatan tidak hanya berkaitan dengan pemulihan tubuh, tetapi juga hubungan antarsesama dan semangat saling membantu.

Masyarakat memaknainya dari ungkapan Sunda ngalobakeun dulur—memperbanyak saudara.

Balur tradisional Cimande disebut dibuat dari air tebu dan gula. Secara turun-temurun, kedua bahan tersebut dipercaya masyarakat setempat membantu menguatkan otot dan tulang.

Menjaga pengobatan tradisional juga tidak berarti menutup diri terhadap layanan medis modern. Pada kasus patah tulang yang disertai luka atau pendarahan, misalnya, pasien justru tidak disarankan langsung menjalani urut dan perlu mendapatkan penanganan dokter terlebih dahulu.

Penca dan pengobatan akhirnya kembali bertemu pada prinsip yang sama: tidak cukup mengetahui bagaimana tubuh dapat terluka, tetapi juga memahami bagaimana ia dapat dipulihkan. Dari sini pula terlihat mengapa pencak silat bagi masyarakat Cimande tidak berhenti pada kemampuan bela diri. Ada tanggung jawab yang ikut diwariskan bersama ilmunya.

Menjaga Penca Tetap Punya Penerus

Di Padepokan Saung Penca Cimande, proses pewarisan itu masih berlangsung hari demi hari. Jurus dipelajari, nilai diteruskan, dan generasi baru datang menggantikan generasi sebelumnya. Namun, menjaga agar mata rantai tersebut tetap tersambung, tetap menjadi tantangan tersendiri.

Di sinilah Kasepuhan Cimande, masyarakat adat yang turut menjaga warisan budaya leluhur desa, mengambil peran. Melalui padepokan, kesempatan berguru dibuka seluas-luasnya tanpa dipungut biaya. Anak-anak pun dapat belajar penca secara gratis, agar pengetahuan, adab, dan nilai yang menyertainya tetap memiliki penerus.

Upaya tersebut terasa semakin penting ketika minat generasi muda lokal tidak lagi sebesar dahulu. Abah Didi bercerita bahwa ketertarikan untuk mempelajari penca justru banyak datang dari luar negeri, bahkan jumlah pembelajarnya disebut lebih banyak dibandingkan dari lingkungan lokal. Meski demikian, regenerasi di Cimande belum berhenti. Murid-murid muda masih datang untuk berlatih, mengikuti pertandingan, hingga membawa penca ke panggung sebagai seni pertunjukan tradisional.

Dari padepokan, jejak penca Cimande pun menjangkau ruang yang lebih luas. Menurut Abah Didi, tradisi ini telah mendapat dukungan pemerintah melalui Dinas Kebudayaan dan kerap dibawa ke berbagai turnamen nasional maupun internasional. Penca Cimande juga disebut sering mendapat undangan ke kedutaan di luar negeri.

Perjalanan panjang itu mendapat makna tersendiri ketika pencak silat Indonesia diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO. Bagi Abah Didi, pengakuan tersebut menjadi sebuah kebanggaan. Meski ia mengakui dampaknya belum banyak dirasakan secara langsung oleh Desa Cimande, pengakuan itu tetap menjadi bagian penting dari perjalanan menjaga penca agar tetap hidup dari generasi ke generasi.

Penca Cimande di Tangan Generasi Baru

Menjaga tradisi di Cimande ternyata tidak selalu berarti menjauh dari perkembangan zaman. Smartphone yang kini lekat dengan keseharian anak-anak justru coba diarahkan menjadi sarana untuk mengenalkan budaya mereka. Padepokan mendorong generasi muda memanfaatkannya untuk membuat dan menyebarkan konten tentang penca Cimande—menggunakan teknologi hari ini untuk meneruskan tradisi yang telah hidup jauh sebelumnya.

Cara mewariskannya boleh berubah, tetapi nilai yang dibawa tetap sama.

Harapan terhadap keberlanjutan penca Cimande pun tidak berhenti di padepokan. Masyarakat berharap semakin banyak kegiatan budaya yang memberi ruang bagi penca untuk hadir sebagai seni pertunjukan, sehingga generasi berikutnya memiliki lebih banyak kesempatan untuk melihat, mengenal, lalu ikut menjaganya.

Setelah berbincang panjang dengan Abah Didi, menyaksikan para murid berlatih, hingga mencoba sendiri beberapa gerakannya, gambaran tentang penca Cimande menjadi semakin utuh. Yang diwariskan bukan hanya teknik untuk menyerang dan bertahan, tetapi juga adab, tanggung jawab terhadap ilmu, pemahaman tentang tubuh, hingga kepedulian terhadap sesama.

Bagi Abah Didi, melestarikan budaya juga dapat menjadi jalan untuk memperbanyak dulur. Menjaga tradisi bukan berarti tertinggal zaman. Justru dari sana pergaulan dapat meluas, membuka kesempatan untuk pergi ke berbagai tempat, bertemu lebih banyak orang, bahkan membangun persaudaraan hingga ke luar kota dan luar negeri.

Barangkali, itulah salah satu alasan penca Cimande terus menemukan penerusnya.

Di padepokan di Kampung Tarikolot ini, guru masih mengajarkan jurus dan murid masih mengulanginya. Kelak, akan ada generasi berikutnya yang datang untuk memulai proses yang sama. Dari duduk, kemudian berdiri dan melangkah—seperti penca Cimande yang terus mengikuti zaman tanpa meninggalkan nilai yang diajarkan sejak awal.

Informasi Selengkapnya
  • Indonesia Kaya

  • Indonesia Kaya