Rianto: Seniman Tari Lengger Banyumas yang Menghidupi Tradisi - Indonesia Kaya

Cari dengan kata kunci

Rianto: Seniman Tari Lengger Banyumas yang Menghidupi Tradisi

Rianto 4-resized-to-800x533

Rianto: Seniman Tari Lengger Banyumas yang Menghidupi Tradisi

Bagi Rianto, tari lengger Banyumasan bukan sekadar pertunjukan, melainkan jalan hidup, ruang belajar, dan tafsir ulang atas stigma.

Tokoh

Sejauh mata memandang, hanyalah keindahan hutan, sungai, dan langit biru yang memenuhi lanskap alam Dusun Kaliori, Kalibagor, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Hamparan aliran sungai Serayu mengalir dengan pelan dari timur menuju barat. Aroma tanah basah semerbak mengingatkan kenangan tentang kampung yang sejuk di antara pohon jati dan kebun pisang. Sisi panggung Rianto Dance Studio belum tuntas kering ketika Rianto merapikan perlengkapan pentas usai Bisik Serayu Festival 2024.

“Rianto Dance Studio saya dirikan tahun 2016,” ucap Rianto sembari memilih letak duduk di limasan sanggar. “Rianto Dance dan penari-penarinya mencoba untuk meruang dan memberikan ruang-ruang kolaborasi gitu.”

Layaknya ruang belajar bersama, sanggar ini dirancang oleh Rianto untuk membuka akses bagi siapa pun yang ingin mendalami kesenian yang berakar pada budaya masyarakat Banyumas. Rianto membayangkan sanggar ini sebagai tempat belajar seni bagi anak-anak di sekitar Banyumas, pelajar sekolah menengah kesenian, seniman muda lulusan Institut Seni Indonesia Surakarta, hingga masyarakat umum yang mencintai kesenian Banyumas.

Layaknya ruang belajar bersama, sanggar ini dirancang oleh Rianto untuk membuka akses bagi siapa pun yang ingin mendalami kesenian yang berakar pada budaya masyarakat Banyumas.

Semula, Rianto Dance Studio adalah cara Rianto untuk berjejaring di ranah kesenian di dalam negeri. Di Jepang, Rianto dan istrinya, Miray Kawashima, telah memulai hal yang sama dengan mendirikan Dewandaru Dance Company yang hingga kini masih aktif. Sedangkan Rianto Dance Studio, dibuat untuk menemukan potensi talenta muda yang ada di tanah kelahirannya, Banyumas.

Sanggar ini awalnya berada di Kota Solo, lalu dipindahkan ke Banyumas pada 2018. Tidak hanya membicarakan kesenian, sanggar ini secara organik justru mempertemukan potensi-potensi yang ada di desa. 

“Setelah tahun 2023 kemarin, teman-teman dari Karang Taruna di Desa Kaliori, di wilayah Rianto Dance Studio itu, menawarkan untuk membuat ruang ini menjadi base camp untuk kegiatan mereka,” tutur Rianto. “Akhirnya muncul satu komunitas lagi, yaitu Teras Serayu.”

Bersama Teras Serayu, Rianto Dance Studio tak lagi hanya membicarakan kesenian semata. Menurut Rianto, sanggar ini telah berkembang menjadi titik temu beragam gagasan, mulai dari pemberdayaan masyarakat hingga pengelolaan isu lingkungan. Gagasan-gagasan tersebut kemudian diwujudkan dalam berbagai aktivasi sosial dan festival seni yang melibatkan generasi muda masa kini.

Sesekali, angin berhembus dengan kencang ketika Rianto menjelaskan tentang Rianto Dance Studio. Mengambil sedikit jeda, dengan ramah seniman tari lengger itu menyapa setiap kerabat dan tamu yang datang di Rianto Dance Studio siang itu. Rianto masih duduk di salah satu sudut limasan, ada kenangan yang terpintas dalam ingatannya: bagaimana ini semua bermula.

“Saya lahir di hari Senin manis atau Senin Legi, tanggal 7 September 1981 dari keluarga yang sangat sederhana, yaitu Ibu Rusti dan Bapak Slamet Suharjo Almarhum,” kenang Rianto.

Rianto merupakan anak keempat dari enam bersaudara. Saat dilahirkan, ia memiliki tanda biru di bagian kening. Tanda tersebut perlahan menimbulkan kekhawatiran bagi ibunya, Rusti. Diliputi rasa cemas akan kemungkinan buruk di kemudian hari, Rusti membawa Rianto yang masih bayi ke sebuah pertunjukan tari lengger di Desa Wlahar, yang digelar oleh Kelompok Tari Banjarwaru, Cilacap, Jawa Tengah, untuk bertemu dengan seniman tari ternama, Ibu Adminah. Di ruang rias, Rusti pun menyampaikan kegelisahannya tentang tanda biru yang melekat di kening Rianto.

“Ibu saya kemudian minta untuk didoakan. Dulu kepercayaan Jawa memang masih sangat kuat sekali tentang hal-hal seperti itu, jadi (kening saya) dikasih boreh atau dikasih alas bedaknya si lengger kemudian dicium,” kata Rianto mengulang apa yang pernah diceritakan ibunya.

“Nah, setelah dari situ, saya mulai tumbuh menjadi seorang anak yang mungkin pada saat itu dianggap sebagai anak yang berbeda sendiri, karena waktu itu saya suka sekali dengan yang namanya tari,” tambah Rianto.

Menari Lengger adalah Darma

Hari-hari berlalu. Rianto kecil tumbuh menjadi seorang anak yang gemar mendengar cerita pewayangan radio di rumah tetangga. Telah menjadi kebiasaan Rianto untuk menari dan berjoget sendiri ketika mendengar musik tradisional di radio sesaat sebelum berangkat sekolah. Karena kecintaannya dengan tarian, tak jarang cibiran dari orang-orang sekitar datang memenuhi telinga Rianto setiap harinya.

Telah menjadi kebiasaan Rianto untuk menari dan berjoget sendiri ketika mendengar musik tradisional di radio sesaat sebelum berangkat sekolah.

Perundungan yang datang silih berganti, tak membuat keteguhan hati Rianto goyah sedikit pun. Mencintai seni tari ditanamkan terus oleh Rianto hingga jenjang pendidikan. Setelah menyelesaikan Sekolah Menengah Pertama (SMP), Rianto melanjutkan kecintaannya di bangku Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dengan jurusan seni tari. Bakat ini kemudian diasah lebih tajam hingga jenjang perkuliahan di Sekolah Tinggi Seni Indonesia Surakarta pada tahun 2000. Salah satu yang menjadi gairah Rianto adalah tari lengger lanang. Dari masa kecil hingga dewasa, menari lengger bagi Rianto merupakan darma—sebuah pengabdian sekaligus tugas hidup.

“Jadi dalam kehidupan saya, menjadi lengger itu adalah darma saya untuk berbuat kebaikan lewat kesenian, lewat kebudayaan tubuh, daya pikir, daya imajinasi, daya rasa yang saya lakukan setiap hari untuk kehidupan saya,” kata Rianto.

Dalam kehidupan saya, menjadi lengger itu adalah darma saya untuk berbuat kebaikan lewat kesenian, lewat kebudayaan tubuh, daya pikir, daya imajinasi, daya rasa yang saya lakukan setiap hari untuk kehidupan saya

Tari lengger sendiri berasal dari kata leng yang berarti lubang dan jengger yang berarti mahkota ayam jago. Di Banyumas, umumnya lengger dimainkan oleh laki-laki yang sengaja berperan sebagai perempuan. Konsep ini umumnya dikenal dengan istilah darani leng jebule jengger atau diartikan “dikira perempuan ternyata laki-laki”.

Seiring berjalannya waktu, kesenian tari lengger tak selalu diterima dengan baik. Berbagai stigma pun muncul di masyarakat, yang kerap memandang tarian ini sebagai sesuatu yang kontroversial, mulai dari isu transgender hingga erotisme.

“Persepsi tentang lengger itu udah dari dulu sebenarnya distigmakan secara negatif, ya. Tidak cuma (tentang) pelakunya laki-laki ataupun perempuan sebenarnya,” katanya.

Apa yang kerap dipandang sebelah mata dalam tari lengger justru dibuktikan sebaliknya oleh Rianto dengan kesungguhan. Melalui penelitiannya, Rianto menyadari bahwa tari lengger bukan sekadar pertunjukan semata, apalagi soal erotisme sebagaimana kerap dipersepsikan banyak orang.

Bagi Rianto, lengger adalah ajaran hidup. Tari lengger menuntunnya untuk mengenal makna dari simbol-simbol kehidupan di dalamnya. Rianto lebih suka menyebutnya dengan istilah ajining diri (ngaji diri) atau seperti membuka ruang komunikasi antara hubungan manusia, alam sekitar, semesta, dan Tuhan Yang Maha Esa.

Bagi Rianto, lengger adalah ajaran hidup.

“Gerakan-gerakannya itu filosofinya juga ada, misalnya seperti keweran. Keweran itu mengibaratkan tubuh ini seperti ikan yang ada di dalam air yang sedang berenang. Terus kemudian pilesan, (seperti) orang yang sedang menggilas padi. Entrakan adalah sebagai hubungan vertikal antara bumi dan langit tubuh menjadi perantaranya. Geol (seperti) perputaran rotasi bumi yang mengelilingi matahari,” ucap Rianto sambil menarikan pergelangan dan tubuhnya.

“Banyak sekali sebenarnya yang bisa digali untuk membuat pertunjukan lengger ini menjadi fungsi yang benar-benar positif, bukan negatif,” imbuhnya.

Tari lengger sudah ada sejak berabad-abad yang lalu. Sudah sejak lama, seni Banyumasan ini tersebar di masyarakat hingga beberapa wilayah di sekitarnya, seperti Purbalingga, Purwokerto, Banjarnegara, Wonosobo, Cilacap, Ajibarang, dan Bumiayu, seiring dengan kehidupan masyarakat zaman itu yang kerap berpindah-pindah. Warisan yang diturunkan oleh para leluhur inilah yang diyakini Rianto sebagai sebuah kebaikan yang patut dijaga dan diteruskan.

“Nenek moyang kita tidak pernah akan mengajarkan kita untuk sesuatu yang jelek ataupun kejahatan, pasti akan mengajarkan kita sebuah kebaikan welas asih. Mana ada kesenian lengger untuk kejahatan? Tidak ada,” tegas Rianto.

Kehidupan adalah Pentas

Pentas atau pertunjukan bukan sekadar soal tampil di atas panggung dengan gemerlap sorotan lampu dan iringan musik. Bagi seorang seniman, kehidupan itu sendiri adalah sebuah pentas. Setidaknya, itulah prinsip yang dipegang Rianto. Berkehidupan di tengah masyarakat, baginya, sama artinya dengan menjalani sebuah pentas kehidupan dalam tubuh yang sama.

Berkehidupan di tengah masyarakat, baginya, sama artinya dengan menjalani sebuah pentas kehidupan dalam tubuh yang sama.

“Manggung sebagai tubuh manusia ini di setiap wilayah masyarakat, di setiap desa, di setiap jalan gitu. Itu adalah panggung saya,” tambahnya.

Kesenian dan nilai-nilai di dalamnya memang patut dirawat tidak hanya di atas panggung, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari. Rianto menyebut jika tubuh seorang seniman punya perannya sendiri saat melintasi ruang dan waktu di masyarakat. Dengan begitu, nilai-nilai luhur dalam kesenian tidak terputus begitu saja, tidak terpisahkan dari kehidupan di masyarakat. Seperti apa yang telah diwariskan oleh leluhur, selalu ada hal baik yang dapat dibagikan melalui seni.

“Bagaimana tujuannya untuk menjadi orang baik itu tidak mudah, tetapi ini sebuah proses perjalanan yang masih saya lakukan setiap saat sebagai (seniman) lengger,” ungkap Rianto.

Keinginan menjadi seperti yang dibayangkan adalah proses yang harus dilalui oleh setiap orang. Untuk menjadi seorang seniman, salah satu yang dilakukan Rianto adalah berdamai dengan diri sendiri. Mendamaikan tubuh sendiri, baginya adalah proses yang sangat panjang. Sebuah pandangan hidup tentang “berdamai dengan diri sendiri sebelum mendamaikan orang lain”. Proses mendamaikan tubuh ini sejatinya dapat ditemukan saat menekuni dunia seni seperti yang dilalui Rianto.

Dewasa ini, perkembangan zaman yang begitu pesat turut memengaruhi cara seniman beradaptasi dengan praktik keseniannya. Rianto menyadari bahwa dunia tari, khususnya di Indonesia, telah berkembang pesat dalam beberapa dekade terakhir. Kini, banyak penari memiliki teknik dan keterampilan menari yang tinggi, andal, serta mumpuni.

“Melihat generasi muda saat ini mempelajari tarian Nusantara dari Sabang sampai Merauke terus dari berbagai lintas disiplin seni yang sangat kaya sekali. Tubuh ini adalah bagian dari Nusantara dan perkembangannya sangat luar biasa,” puji Rianto tentang semangat penari-penari muda hari ini.

Namun, yang perlu diingat adalah pentingnya mendalami filosofi yang terkandung dalam setiap tarian yang dipelajari dengan sungguh-sungguh. Hal ini selaras dengan upaya mendamaikan tubuh dan batin sendiri. Menari bukan sekadar menghafal rangkaian gerak, melainkan menyadari bahwa setiap gerakan memiliki makna. Dari situlah jiwa seorang penari akan memancarkan rasa ketika hadir di atas panggung.

“Tidak hanya sekedar menjadi seorang penari. Sama saja seperti menjadi penari tradisional. Kita tidak cuma menghafal saja apa itu (gerakan) tari Jawa,” tegas Rianto mengingatkan betapa pentingnya mengetahui setiap makna gerakan dalam tari Jawa, bukah hanya menghafal gerakan.

Generasi hari ini yang lebih mudah mendapat akses perlu dengan perlahan mengamati setiap makna tariannya. Selama proses latihan, ada celah yang terkadang membuat para penari lupa untuk mengenal makna filosofis dari sebuah tarian. Asal hafal, langsung pentas. Ada kecenderungan untuk melihat bentuk yang sudah jadi tanpa mengenal asal-usulnya.

Di dunia yang serba cepat dan instan, Rianto masih ingin terus menjadi seniman lengger dengan keyakinan yang dipegangnya. Dalam hati kecil, dirawatnya setiap makna yang tersalur ke dalam tubuh. Ratusan hingga ribuan panggung akan terus ditaklukannya, lintas benua akan dilaluinya hanya untuk melestarikan tari lengger ke seluruh belahan dunia.

Merawat cita-cita ini bukanlah tugas yang mudah bagi Rianto. Sejak tanda biru di keningnya pada masa kecil, perjalanan keseniannya selama puluhan tahun seolah dituntun untuk memberi makna bagi banyak orang. Tanpa hasrat untuk menjadi sosok yang besar, Rianto memilih mewartakan kebudayaan lengger dengan caranya sendiri.

Tanpa hasrat untuk menjadi sosok yang besar, Rianto memilih mewartakan kebudayaan lengger dengan caranya sendiri.

“Tubuh saya yang mungkin terus akan mencoba untuk menyuarakan lengger ke dunia untuk mendamaikan dunia itu lewat kebudayaan lengger,” tutup Rianto dengan senyuman.