Cari dengan kata kunci

Tari_Topeng_Lengger_1200.jpg

Tari Topeng Lengger, Tari Penyebar Agama Islam

Konon, tari ini diciptakan oleh Sunan Kali Jaga, yang kemudian digunakan sebagai salah satu sarana untuk menyebarkan agama Islam.

Kesenian

Masyarakat Wonosobo memiliki sebuah tari yang dianggap sakral. Tari tersebut adalah tari topeng lengger. Tari topeng lengger menceritakan kisah asmara antara Galuh Candra Kirana dan Panji Asmoro Bangun.

Galuh Candra Kirana adalah putri dari Prabu Lembu Ami Joyo yang memimpin  Kerajaan Jenggolo Manik, sementara Panji Asmoro Bangun adalah putra dari Prabu Ami Luhur yang memimpin Kerajaan Cenggolo Puro. Kedua kerajaan ini ingin mempererat hubungan dengan menikahkan kedua anak mereka. Sayang, pernikahan tersebut hampir gagal karena usaha Galuh Ajeng (anak Prabu Lembu Ami Joyo dari selirnya).

Tari topeng lengger menceritakan kisah asmara antara Galuh Candra Kirana dan Panji Asmoro Bangun.

Galuh Candra Kirana harus keluar dari kerajaan dan menjadi penari lengger. Suatu hari, kelompok tari lengger Galuh Candra Kirana diundang untuk tampil di Kerajaan Cenggolo Puro oleh Panji Asmoro Bangun. Tampil di depan tunangannya, Galuh Candra Kirana memutuskan membuka penyamarannya. Melihat kecantikan Galuh Candra Kirana, Panji Asmoro Bangun langsung jatuh cinta. Pasangan ini kemudian menikah.

Tari topeng lengger merupakan tari berpasangan, sesuai dengan nama dan ceritanya. “Topeng” merujuk pada pria, sementara “lengger” kepada wanita. Sementara, secara filosofi, “lengger” berasal dari lenggeran yang merupakan kependekan dari elingo ngger marang gusti pangeran yang dapat diartikan sebagai “Ingatlah kamu kepada Sang Pencipta.”

Sunan Kali Jaga menggunakan tari ini sebagai salah satu sarana menyebarkan agama Islam.

Hal ini berkaitan dengan sejarah keberadaan tari topeng lengger. Konon, tari ini diciptakan oleh Sunan Kali Jaga. Sunan Kali Jaga menggunakan tari ini sebagai salah satu sarana menyebarkan agama Islam. Di masa lalu, dalam pertunjukan tari ini selalu diselipkan ajaran agama Islam. Bahkan, karena tari ini berhasil menarik perhatian masyarakat, Sunan Kali Jaga kemudian membangun sebuah tempat sebagai sarana beribadah. Tempat tersebut diberi nama langgar.

Jumlah topeng yang digunakan dalam tari ini berjumlah 120 buah–sesuai jumlah tokoh dalam wayang. Hanya saja, tidak semua topeng digunakan dalam setiap pertunjukan. Digunakan atau tidaknya sebuah topeng dalam pertunjukan sangat bergantung pada penimbal (pawang). Peran penimbal dalam tari ini sangat penting. Dia berperan seperti dalang dalam pertunjukan wayang kulit.

Sebelum dimulai, penimbal akan menyerahkan sesaji dan membaca doa agar pertunjukan dapat berjalan lancar dan tidak terjadi hal-hal yang tidak diharapkan. Setelah berdoa, penimbal akan mempersilakan para penari masuk ke panggung. Di sinilah penimbal mengatur topeng-topeng yang akan tampil. Hanya saja, yang pasti tampil adalah tokoh Galuh Candra Kirana dan Panji Asmoro Bangun sebagai tokoh utama dan topeng barong (yang tampil sebagai penutup).

Walau dianggap sakral, tidak ada waktu khusus untuk pertunjukan tari ini.

Dalam tari ini, setiap penari dapat memainkan peran yang berbeda. Perempuan dapat memerankan tokoh pria. Begitu pula sebaliknya, pria dapat memerankan tokoh perempuan.

Walau dianggap sebagai tari yang sakral, tidak ada waktu khusus untuk pertunjukan tari ini. Tari topeng lengger dapat dipertunjukan kapan pun dan di mana pun, dengan memberikan sesajen sebelum memulai pertunjukan.

Selain itu, jika ingin menonton tari ini tidak dianjurkan mengenakan pakaian yang berwarna merah. Saat pertunjukan, para penari akan kerasukan. Dan saat kerasukan, penari akan mengejar siapa pun yang mengenakan pakaian berwarna merah.

Informasi Selengkapnya
  • Elsa Dwi Lestari

  • Indonesia Kaya