Sasando, Alat Musik Berdawai yang Ikonik dari Pulau Rote - Indonesia Kaya

Cari dengan kata kunci

sasando_1290.jpg

Sasando, Alat Musik Berdawai yang Ikonik dari Pulau Rote

Terbuat dari bambu dan daun lontar, alat musik ini menghadirkan harmoni khas Pulau Rote yang sarat tradisi serta identitas budaya.

Kesenian

Alat musik ini dipercaya telah dikenal masyarakat Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur, sejak sekitar abad ke-7. Sasando—alat musik petik khas Rote—kerap disamakan dengan gitar karena sama-sama menggunakan dawai, meski bentuk dan cara memainkannya sangat berbeda. Kehadiran sasando tidak hanya menjadi penanda identitas budaya, tetapi juga merefleksikan kreativitas masyarakat pesisir timur Nusantara.

Bagian utama alat musik ini berupa tabung bambu panjang yang berfungsi sebagai penopang dawai. Dawai-dawai tersebut direntangkan mengelilingi tabung dari atas ke bawah, masing-masing disangga ganjalan kecil sebagai pengatur nada. Keunikannya semakin menonjol melalui penggunaan daun lontar yang dibentuk menyerupai kipas sebagai resonator, berperan memantulkan sekaligus memperkuat bunyi yang dihasilkan.

Keunikannya semakin menonjol melalui penggunaan daun lontar yang dibentuk menyerupai kipas sebagai resonator.

Berdasarkan struktur nada, alat musik ini umumnya dibedakan menjadi dua jenis. Jenis pertama dikenal sebagai sasando gong yang menggunakan sistem nada pentatonik. Jenis ini biasanya memiliki dua belas dawai dan lazim dimainkan untuk membawakan lagu-lagu tradisional masyarakat Rote, terutama dalam konteks adat dan ritual tertentu.

Jenis kedua adalah sasando biola yang menggunakan sistem nada diatonik. Jumlah dawainya jauh lebih banyak, bisa mencapai hingga 48 dawai, sehingga memungkinkan jangkauan nada yang lebih luas. Sasando biola mulai berkembang sekitar akhir abad ke-18 dan dikenal luas di wilayah Kupang. Dengan karakter nadanya, sasando jenis ini dapat memainkan berbagai lagu, termasuk lagu-lagu modern dan populer.

Dalam kehidupan masyarakat Nusa Tenggara Timur, sasando sering dimainkan sebagai pengiring lagu dan tarian tradisional.

Dalam kehidupan masyarakat Nusa Tenggara Timur, sasando sering dimainkan sebagai pengiring lagu dan tarian tradisional. Alunan bunyinya yang lembut dan berlapis kerap menciptakan suasana khidmat sekaligus hangat, menjadikannya bagian penting dalam berbagai perayaan budaya dan penyambutan tamu.

Seiring perkembangan zaman, sasando pun mengalami inovasi. Sejak sekitar tahun 1960-an, alat musik ini dimodifikasi menjadi sasando elektrik atas prakarsa Edu Pah, seorang maestro sasando asal NTT. Modifikasi ini memungkinkan sasando tampil di panggung yang lebih luas tanpa kehilangan karakter bunyi aslinya, sekaligus memperkenalkan warisan musik Rote kepada khalayak yang lebih luas.

Informasi Selengkapnya
  • Elsa Dwi Lestari

  • Indonesia Kaya