Tak kalah dengan Ayurveda dari India dan Zhongyi dari Cina, Indonesia juga memiliki ragam obat-obatan tradisional yang dikenal sebagai jamu. Tradisi minum ramuan herbal ini diperkirakan telah ada sejak sekitar tahun 1300 pada masa Kerajaan Mataram. Pada masa itu, perempuan lebih banyak berperan sebagai peracik, sedangkan laki-laki bertugas mencari tumbuhan herbal sebagai bahan bakunya. Meski dapat dimanfaatkan sebagai pengobatan, tradisi ini lebih menitikberatkan pada upaya menjaga kesehatan dan mencegah penyakit melalui kebiasaan hidup sehat. Beragamnya tanaman herbal yang tumbuh di Indonesia juga melahirkan berbagai jenis jamu khas di setiap daerah.
Jamu dipercaya mampu menjaga kesehatan tubuh dari ujung kepala hingga ujung kaki, mulai dari kulit hingga organ-organ di dalam tubuh. Beberapa racikannya dikenal dapat mengatasi masalah kelelakian dan kewanitaan. Selain itu, ada pula ramuan yang berkhasiat menghangatkan tubuh, memperkuat sendi, dan meningkatkan stamina untuk menjaga kebugaran saat beraktivitas. Untuk perawatan tubuh, sejumlah jenis juga dipercaya dapat menyehatkan rambut, menjaga kelembutan kulit, serta membantu mengurangi bau badan.
Jamu dipercaya mampu menjaga kesehatan tubuh dari ujung kepala hingga ujung kaki.
Bahan-bahan yang paling sering digunakan dalam pembuatannya antara lain jahe, kencur, kunyit, lengkuas, temulawak, daun secang, dan kayu manis. Buah asam, jeruk nipis, serta gula jawa atau gula batu juga kerap ditambahkan untuk memberikan rasa segar maupun manis pada ramuan yang umumnya bercita rasa pahit. Meski demikian, ada pula yang sengaja dibiarkan pahit karena menurut kepercayaan, rasa tersebut merupakan bagian penting dari khasiatnya.
Proses pembuatannya tidak terlalu rumit. Sebagian besar minuman herbal ini berasal dari sari hasil perasan tanaman obat. Ada pula bahan-bahan yang ditumbuk halus lalu dicampur air, atau direbus hingga sari patinya larut ke dalam air rebusan. Hal yang perlu diperhatikan adalah takaran setiap bahan, suhu, serta lama perebusan. Jika tidak dilakukan dengan tepat, khasiatnya dapat berkurang, bahkan berpotensi membahayakan tubuh.
Pada masa pendudukan Jepang tahun 1944, tradisi ini kembali mendapat perhatian dengan dibentuknya Komite Jamu Indonesia.
Ketika ilmu kedokteran modern mulai masuk ke Indonesia, tradisi minum jamu sempat mengalami kemunduran. Selain persoalan standar kebersihan dalam proses pengolahannya, khasiatnya pun turut dipertanyakan. Pada masa pendudukan Jepang tahun 1944, tradisi ini kembali mendapat perhatian dengan dibentuknya Komite Jamu Indonesia. Seiring perkembangan teknologi, minuman herbal tersebut kini hadir dalam berbagai bentuk, seperti pil, tablet, hingga bubuk instan yang praktis diseduh layaknya minuman sehari-hari.
Mungkin imaji yang masih melekat di masyarakat terutama masyarakat Jawa ketika mendengar jamu adalah seorang wanita memanggul bakul berisi botol-botol kaca di punggungnya, diikat dengan selendang. Walaupun begitu, tradisi jamu gendong yang masih asli sudah mulai langka. Sama seperti kebanyakan tradisi Indonesia lainnya, resep jamu gendong tidak pernah dibukukan dan diajarkan secara turun temurun ke generasi-generasi muda. Sekarang ini, makin sedikit anak muda yang ingin belajar membuat jamu. Sosok wanita berkebaya sambil menggendong bakul jamu pun makin lama makin jarang ditemui.









