Gending Sriwijaya, Tari Kolosal Penyambut Tamu Kerajaan - Indonesia Kaya

Cari dengan kata kunci

tari_gending_sriwijaya_1200-1.jpg

Gending Sriwijaya, Tari Kolosal Penyambut Tamu Kerajaan

Di balik geraknya yang anggun, tarian ini menghadirkan tradisi penyambutan tamu yang diwariskan sejak masa kejayaan Sriwijaya.

Kesenian

Sembilan perempuan keluar panggung dengan mengenakan pakaian adat, lengkap dengan berbagai aksesori berupa paksangkong, dodot, tanggai, dan seledang mantri. Seorang penari yang berada di tengah dan paling depan membawa sebuah kotak yang biasa disebut dengan tepak, sementara suara gending mengiringi gerak gemulai yang akan membawakan sebuah tarian kolosal dari Sumatra Selatan yang dikenal dengan nama tari gending Sriwijaya.

Tari gending Sriwijaya merupakan tarian kolosal peninggalan Kerajaan Sriwijaya. Tarian yang dahulu hanya dipentaskan oleh kalangan internal kerajaan ini dimaksudkan sebagai tari penyambutan bagi tamu kerajaan. Kini tari gending Sriwijaya kerap dipentaskan oleh masyarakat Palembang dalam berbagai hajat, seperti pernikahan, pertemuan-pertemuan instansi pemerintahan, hingga dalam berbagai perhelatan budaya.

Tari gending Sriwijaya merupakan tarian kolosal peninggalan Kerajaan Sriwijaya.

Secara umum tari gending Sriwijaya ditarikan oleh 9 orang penari yang semuanya adalah perempuan. Sembilan penari tersebut merupakan representasi dari sembilan sungai yang ada di Sumatra Selatan. Para penari gending Sriwijaya dikawal oleh dua orang laki-laki lengkap dengan payung dan tombak di tangannya. Seorang penari gending membawa tepak berisi sekapur sirih yang nantinya akan diberikan kepada tamu yang dianggap spesial sebagai bentuk penghormatan.

Musik pengiringnya merupakan perpaduan bunyi gamelan yang dilengkapi vokal dengan lirik tentang kegembiraan dan ungkapan syukur atas kesejahteraan. Kini, pertunjukan tidak selalu diiringi musik gending secara langsung, tetapi juga kerap menggunakan rekaman musik yang telah tersedia.

Puncak pertunjukan ditandai dengan penari utama yang membawa tepak berisi sekapur sirih untuk dipersembahkan kepada tamu kehormatan.

Gerak tarian ini didominasi oleh sikap membungkuk dan berlutut, diselingi senyum serta lentikan jari-jari tangan sebagai simbol penghormatan kepada tamu. Puncak pertunjukan ditandai dengan penari utama yang membawa tepak berisi sekapur sirih untuk dipersembahkan kepada tamu kehormatan. Dahulu, peran pembawa tepak hanya boleh dilakukan oleh remaja putri dari keturunan raja.

Sebagai warisan budaya yang berakar dari tradisi Kerajaan Sriwijaya, tarian ini merepresentasikan nilai-nilai penghormatan, persaudaraan, dan keramahan masyarakat Nusantara. Setiap geraknya menggambarkan kegembiraan para gadis dalam menyambut tamu dengan tulus dan terbuka, sekaligus menjadi ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Informasi Selengkapnya
  • Elsa Dwi Lestari

  • Indonesia Kaya