Kota Payakumbuh merupakan salah satu daerah di Sumatra Barat yang terkenal akan kekhasan kulinernya. Dari kota inilah berbagai jenis oleh-oleh khas Darek (wilayah dataran tinggi Minangkabau) berasal. Tidak heran jika banyak orang berburu oleh-oleh makanan untuk sanak saudara atau sahabat di kota ini. Di antara beragam pilihan, salah satu camilan khas yang layak dicoba adalah Galamai.
Galamai merupakan camilan sejenis dodol atau jenang yang berkembang di Payakumbuh. Selain di Payakumbuh, camilan ini juga ditemukan di berbagai tempat di Sumatra Barat, antara lain Solok, Pariaman, dan Pasaman. Penyebutan kuliner ini juga bervariasi di tiap daerah. Antara lain, galamai, kalamai, calamai dan gelamai.
Penyebutan kuliner ini juga bervariasi di tiap daerah.
Makanan yang satu ini terbuat dari tepung beras ketan (pulut), gula aren, dan santan. Ketiga jenis bahan ini dimasak dalam suatu kuali besar hingga membentuk gumpalan yang liat dan berwarna kecokelatan. Gumpalan ini akan dipotong dan dibentuk sebelum adonannya dingin.
Dari segi rasa, bagi lidah yang awam galamai mirip dengan jenang kudus yang manis dan legit di mulut. Sedikit berbeda dengan dodol atau jenang, dalam adonan galamai ditaburkan kacang tanah yang disangrai. Penambahan kacang tanah ini memberikan sentuhan rasa gurih renyah yang unik pada galamai.
Pembuatannya menuntut intuisi yang tajam, keuletan, dan daya tahan fisik yang cukup karena memakan waktu cukup lama.
Menariknya, bagi masyarakat Minangkabau sendiri, masalah cita rasa galamai tidak sesederhana bentuknya. Sekali mencicipi, lidah orang Minang dapat membedakan mana galamai yang berasal dari Payakumbuh dan mana yang dari daerah lain. Karakteristik ini sulit dijelaskan secara tepat karena keunikan dan kerumitan dalam proses pembuatannya.
Proses pembuatan camilan tradisional ini memang membutuhkan pengalaman serta keterampilan sang pengrajin. Pembuatannya menuntut intuisi yang tajam, keuletan, dan daya tahan fisik yang cukup karena memakan waktu cukup lama.
Selama 3–4 jam pemasakan, adonan di atas kuali tidak boleh berhenti diaduk dengan nyala api yang harus benar-benar pas. Oleh karena itu, kualitas hasil akhirnya sangat bergantung pada kelihaian dan pengalaman pengrajin.









