Cari dengan kata kunci

Babak Baru Pementasan Wayang

Wayang_orang_1200.jpg

Babak Baru Pementasan Wayang

Wayang merupakan kesenian tradisi yang kental dengan nuansa magis. Lahir dan berkembang di tanah Jawa, wayang dahulu digunakan sebagai media yang menghubungkan manusia dengan roh spiritual para dewa. Wayang sebagai sebuah kesenian kemudian mengalami perkembangan yang sangat signifikan

Kesenian

Wayang merupakan kesenian tradisi yang kental dengan nuansa magis. Lahir dan berkembang di tanah Jawa, wayang dahulu digunakan sebagai media yang menghubungkan manusia dengan roh spiritual para dewa. Wayang sebagai sebuah kesenian kemudian mengalami perkembangan yang sangat signifikan, baik dilihat dari keragaman jenisnya maupun dari sisi ide cerita yang dipentaskan. Kalau dahulu wayang dijadikan sebagai media untuk ruwatan yang memerlukan banyak sesajian, kini wayang bisa menjadi sebuah pementasan yang bersifat profan.

Salah satu jenis wayang yang selalu ditunggu-tunggu pementasannya adalah wayang orang. Wayang orang atau lebih dikenal dengan nama wayang wong merupakan jenis wayang yang berembrio langsung dari wayang kulit yang sudah ada jauh sebelumnya. Wayang jenis ini tidak menggunakan boneka peraga, melainkan menggunakan orang yang berperan langsung sebagai tokoh pewayangan. Orang yang berperan sebagai tokoh pewayangan dirias dan diberi konstum lengkap dengan aksesorinya, sehingga jika dilihat dari samping akan menyerupai tokoh-tokoh pewayangan dalam wayang kulit.

Wayang orang secara tidak langsung mengubah pakem pementasan wayang yang sudah ada selama ini. Hal tersebut dapat dilihat dari peran dan fungsi dalang. Jika dalam pementasan wayang boneka dalang berperan sentral sebagai pemain wayang sekaligus sutradara, dalam wayang wong peran dalang dikurangi. Wayang diperankan oleh aktor berdasarkan sutradara di luar pementasan, sementara tugas dalang hanya narator yang mengisahkan jalan cerita adegan per adegan.

Wayang orang biasa dipentaskan di panggung prosonium. Karenanya, tidak menutup kemungkinan latar panggung sengaja dibentuk serealistis mungkin sesuai dengan latar suasana cerita yang ada, misal di tengah hutan atau di istana kerajaan. Namun, beberapa komunitas wayang orang seperti Komunitas Wayang Orang Bharata masih mempertahankan tehnis pementasan pada wayang boneka, yaitu dengan hanya mengandalkan layar putih dan sorotan lampu.

Cerita yang dipentaskan dalam wayang orang pun tidak melulu bersifat sufi dan berat. Kisah epos Mahabarata dan Ramayana bisa dibungkus menjadi kisah kontemporer yang mengandung berbagai unsur seperti hiburan, lawak, dan tragedi, tanpa meninggalkan nilai-nilai moral yang hendak disampaikan.

Sementara, jika dilihat dari musik yang mengiringi, musik wayang orang dan wayang boneka tidak jauh berbeda – masih bersumber dari suara alunan gamelan. Hanya saja, musik dalam pementasan wayang orang bisa menggunakan musik digital yang disesuaikan dengan adegan yang sedang berlangsung. Karenanya, dalam pementasan wayang orang peran sutradara menjadi sangat penting untuk mementaskan kesenian wayang yang enak ditonton dan tidak membosankan. Selain sutradara, kemasan pertunjukan juga  diperhatikan sehingga pesan-pesan yang ada dalam wayang orang bisa tersampaikan dengan jelas. [AhmadIbo/IndonesiaKaya]

Informasi Selengkapnya
  • NULL

  • Indonesia Kaya

Berlangganan buletin Indonesia Kaya

Daftar ke buletin email Indonesia Kaya untuk mengikuti berita dan acara terkini.