Cari dengan kata kunci

Wayang Orang Dari Seni Adiluhung hingga Seni Panggung

wayang_orang_ie_1290

Wayang Orang Dari Seni Adiluhung hingga Seni Panggung

Warisan lama yang dihidupkan kembali dua keraton di Jawa. Meraih popularitas setelah jadi seni pertunjukan yang sarat hiburan.

Kesenian

ALKISAH, Srikandi ingin belajar seluk-beluk peperangan. Ia lantas mencari rekan berlatih yang cocok. Terlintas di pikirannya untuk berlatih bersama saudara iparnya, yakni ksatria Pandawa. Lantaran sering bertemu dan berlatih bersama, Srikandi jatuh hati pada Arjuna, sosok paling flamboyan di antara para Pandawa. Padahal Arjuna sudah beristrikan Sembadra (dan Drupadi dalam versi Mahabharata India).

Itulah nukilan lakon Bhayangkari Tinandhing yang dipertunjukkan Wayang Orang Sriwedari pada Sabtu, 27 Juni 2020. Pertunjukan itu juga ditampilkan secara live di akun Youtube Dinas Kebudayaan Kota Surakarta.

Wayang orang merupakan salah satu seni pertunjukan tradisional Jawa, khususnya Jawa Tengah. Cerita yang dimainkan didasarkan pada kisah Mahabharata dan Ramayana yang mengandung pesan-pesan moral. Selain bentuk pertunjukan teater tradisional, wayang orang juga diisi dengan sendratari.

Wayang orang berusia sangat tua. Prasasti Wimalasmara (930 M) dan Prasasti Balitung (907 M) telah menyebut pertunjukan ini dengan istilah Jawa Kuno, wayang wwang. Bukti bahwa kesenian ini sudah ada pada zaman Mataram Kuno. Setelah itu dilestarikan kerajaan-kerajaan baru yang muncul di Jawa Timur, termasuk Majapahit.

Setelah lama terlupakan, wayang wwang dihidupkan kembali keraton Surakarta dan Yogyakarta, dua kerajaan yang muncul dari pembagian Mataram dalam Perjanjian Giyanti pada 1755.

Di Yogyakarta wayang orang dikembangkan Sultan Hamengkubuwono I pada 1750-an. Menurut Soedarsono dalam Wayang Wong: The State Ritual Dance Drama in the Court of Yogyakarta, selain sebagai seni adiluhung, wayang orang menjadi alat politik untuk meraih legitimasi sebagai penguasa yang sah dari Mataram dan penerus tradisi kebudayaan Majapahit.

Seni pertunjukan ini berkembang masa Sultan Hamengkubuwono V. Buku panduan berupa  narasi (Serat Kandha) dan dialog (Serat Pocapan) mulai digunakan untuk latihan dan pertunjukan. Lalu, setelah lama jadi kesenian eksklusif keraton, wayang orang mulai disebarkan ke luar tembok keraton pada era Sultan Hamengkubuwono VII. Pada 1918, didirikan perkumpulan tari Kridha Beksa Wirama, yang hingga kini menjaga eksistensi seni tari hingga wayang orang di istana Yogyakarta.

Di Surakarta, wayang orang dikembangkan Mangkunegara I sekira 1760. Wayang orang Mangkunegaran mengalami perkembangan pesat masa Mangkunegara V. Menurut Wahyu Santoso Prabowo dkk dalam Sejarah Tari: Jejak Langkah Tari di Pura Mangkunagaran, dengan kreativitasnya, Mangkunagara V melakukan pembaharuan dari sisi penari, rias busana, lakon, dan fungsi sajian.

Dari sisi penari, Mangkunagara V mengelompokan menjadi tiga: kelompok wayang orang sentana (keluarga istana), wayang orang abdi dalem, dan kelompok wayang orang perempuan. Kostum penari diubah mengikuti wayang purwa sehingga tokoh wayang mudah dikenali penonton. Koreografi mendapat perhatian sehingga gerakan penari menjadi lebih sistematis dan tersusun rapi. Selain lakon-lakon pokok Mahabarata dan Ramayana, Mangkunegara V menampilkan lakon carangan (di luar pakem).

Namun, perubahan paling penting terjadi pada akhir abad ke-19. Seni pertunjukan ini keluar tembok keraton ketika istana tak punya cukup dana akibat kemunduran ekonomi. Dari sinilah lahir wayang orang panggung yang dipelopori Gan Kam, pengusaha keturunan Tionghoa.

Gan Kam, atas izin Sri Mangkunegara V pada 1895, mengemas wayang orang menjadi pertunjukan komersial. Tata panggungnya mirip opera Tiongkok atau opera Italia. Pemainnya direkrut dari seniman keraton ditambah masyarakat umum.

Setelah Gan Kam wafat pada 1928, tumbuh kelompok wayang orang di Surakarta yang didirikan seniman Tionghoa seperti Sedyo Wandowo, Sarotama, dan Srikaton. Ada pula kelompok bentukan pengusaha Belanda bernama Reunecker yang pentas di sebuah gedung pertunjukan. Ketika kelompok wayang orang Reunecker bubar, gedung pertunjukan dibeli Lie Wat Djien yang kemudian membentuk kelompok wayang orang Sono Harsono.

Tak ketinggalan, keraton membentuk kelompok wayang orang Sriwedari untuk menampung penari-penari istana. Pada 1930-an Sriwedari populer di Surakarta. Salah satu daya tariknya terletak pada penampilan para pemainnya yang apik hingga jadi idola penonton.

Kelompok wayang orang juga muncul di sejumlah kota di Jawa Tengah dan Jawa Timur pada 1930-an: Sri Wanito (Semarang), Ngesti Pandowo (Madiun lalu pindah ke Semarang), Sri Budaya (Kediri), dan lain-lain.

Pertunjukan wayang orang sempat mandek pada awal kemerdekaan. Tapi setelah itu wayang orang kembali bersinar. Bahkan kemunculan kelompok wayang orang terus berlangsung hingga 1970-an seperti Pancamurti yang kemudian jadi Bharata di Jakarta dan Wahyu Utomo di Semarang.

Sayangnya pada 1980-an banyak pemain sepuh meninggal atau pensiun. Pertunjukan wayang orang dianggap kurang menarik. Gagalnya regenerasi pemain menjadi penyebab merosotnya pamor wayang orang. Proses nunggak semi (kaderisasi) tak berjalan dengan baik.

Menjamurnya tayangan-tayangan televisi juga membuat penonton semakin berkurang. Perkumpulan wayang orang yang masih bertahan seperti Sriwedari, Ngesti Pandowo, dan Bharata hidup segan mati tak mau.

Institusi pendidikan seni kemudian memegang peranan penting dalam melahirkan pemain wayang orang generasi baru. Dalam pertunjukan Wayang Orang Sriwedari dengan lakon Bhayangkari Tinandhing Juni 2020, para pemainnya merupakan sarjana seni.*

Informasi Selengkapnya
  • Indonesia Kaya

  • Tim Indonesia Exploride

  • Prasasti Wimalasmara (930 M) dan Prasasti Balitung (907 M)
    Soedarsono dalam Wayang Wong: The State Ritual Dance Drama in the Court of Yogyakarta
    Menurut Wahyu Santoso Prabowo dkk dalam Sejarah Tari: Jejak Langkah Tari di Pura Mangkunagaran

Berlangganan buletin Indonesia Kaya

Daftar ke buletin email Indonesia Kaya untuk mengikuti berita dan acara terkini.