“Saya ini sebenarnya orang yang paling beruntung,” kata Eko Supriyanto, sambil duduk tenang di ruang tamu studio EkosDance Company di Karanganyar, Jawa Tengah.
Kalimat itu keluar dengan ringan tanpa kesan berlebihan dari diri Eko Supriyanto. Jika mengikuti jejaknya sejak kecil, sulit untuk tidak mengakui bahwa keberuntungan memang berpihak pada Eko, meski tidak datang begitu saja. Magelang menjadi panggung kecil pertama kehidupan Eko Supriyanto. Di kota itu, Eko tumbuh dalam keluarga yang akrab dengan tradisi kesenian. Sang kakek, Djojoprayitno, adalah penari wayang orang yang terpandang, pesilat, juga seorang dokter. Di usia 6 tahun, Eko kecil sudah mengenal tari Jawa dan pencak silat. Sebuah tradisi dalam keluarga yang diajarkan turun-temurun oleh sang kakek.
Magelang menjadi panggung kecil pertama kehidupan Eko Supriyanto.
“Semua cowok yang ada di keluarga kami itu harus latihan nari dengan kakek saya. Latihan nari, tariannya satu gaya Surakarta, namanya gambir anom,” ucap Eko sambil tersenyum.
Setiap harinya selama bertahun-tahun, tarian dan pencak silat tumbuh dalam tubuh Eko. Segala ilmu tari yang diajarkan oleh sang kakek dilahap habis oleh Eko hingga hembusan napas terakhir sang kakek. Usianya baru saja 12 tahun ketika kepergian sang kakek justru semakin menumbuhkan kecintaannya terhadap seni tari. Eko akhirnya tergabung dalam sebuah sanggar di seberang kampung untuk melanjutkan kecintaannya. Dari sanggar inilah, ia menemukan berbagai macam tarian yang memukau perasaannya.
“Akhirnya saya dikenalkan dengan (banyak) tarian-tarian, tidak hanya tarian gaya Surakarta, tapi tari-tarian gaya Bagong Kussudiardja,” pungkasnya.
Eko Supriyanto tak pernah masuk sekolah seni saat kecil. Kecintaannya dengan dunia tari tumbuh dari dalam keluarga dan berkembang melalui ketekunan di sanggar seni. Memasuki bangku sekolah menengah ke atas, Eko justru memilih untuk melanjutkan pendidikan di Sekolah Menengah Ekonomi Atas, atau yang kini dikenal sebagai Sekolah Menengah Kejuruan dengan fokus pada bidang ekonomi dan bisnis.
Meski memilih jurusan ketatausahaan karena bercita-cita menjadi pegawai bank, Eko tetap menekuni hal yang dicintainya dengan mengikuti kegiatan ekstrakurikuler tari. Pengalamannya pun kian meluas seiring berbagai tawaran pentas di sejumlah kota, seperti Delanggu, Salatiga, Semarang, dan Yogyakarta. Perjalanan ini berlanjut hingga ia memasuki jenjang perkuliahan.
“Pengalaman berpetualang, istilahnya PY (payon) atau pentas,” ucapnya tertawa.
Ragam pengalaman itulah yang kemudian menuntun Eko memilih pendidikan di jenjang selanjutnya. Saat mengenang masa kuliahnya, Eko merasakan kembali gejolak batin ketika mengingat rasa minder yang sempat memenuhi pikirannya pada awal masuk Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Surakarta.
“Ketika saya mendaftar di STSI Solo, saya, ya, kalah kuat dibanding teman-teman dari SMKI (Sekolah Menengah Kejuruan Seni Indonesia),” ujar Eko mengingat awal masuk kuliah. “Mereka punya pendidikan seni sejak SMA, sudah terbiasa dengan dasar-dasar tari klasik. Sementara saya baru bisa jatilan dan gambir anom.”
Namun justru dari keterbatasan itulah Eko mulai menyadari sesuatu, bahwa bukan tentang berporos pada praktik tari tradisi, tetapi tentang mencari pengetahuan untuk mengembangkan gerak tari tradisi menjadi makna baru dalam koreografi. Alih-alih tetap menekuni tari tradisi yang dikenalnya sejak kecil, Eko memilih ranah koreografi yang memberinya ruang untuk berpikir. Tidak hanya tentang tubuh, tapi tentang eksplorasi gerak, ruang, dan gagasan.
“Bagaimana kemudian menggabungkan gerakan A, B, C, D yang kita punya dijadikan satu, diganti, diberi musik baru, diberi kostum baru, pola lantainya bagaimana, panggungnya bagaimana, lighting-nya bagaimana, itu semua saya pelajari di kampus,” tuturnya.
Sosok-sosok penting seperti Pamardi, Djarot Budi Darsono, dan Sardono W. Kusumo menjadi guru bagi Eko Supriyanto. Mendorongnya untuk tidak hanya menjadi penari, tapi juga menjadi seorang pencipta. Dari situlah kemudian Eko menantang diri untuk mulai membuat karya tari dari apa yang telah dipelajarinya selama ini.
Langkahnya sebagai penari dan koreografer bahkan tak berhenti di Solo. Pada 1997, sebelum lulus dari STSI, ia berangkat ke Amerika mewakili Indonesia dalam American Indian Dance Festival. Selama enam minggu, ia belajar bersama para penari dari berbagai latar belakang, mengambil kelas di Martha Graham School, Alvin Ailey, hingga Trisha Brown.
“Akhirnya terbuka mata saya bahwa tari tidak hanya Indonesia. Tari tidak hanya Solo, tari tidak hanya jatilan, tari tidak hanya gaya padepokan,” ujarnya. Dunia tari begitu luas dan Eko adalah seorang yang beruntung karena dapat menyelaminya hingga negeri seberang.
Keberuntungan lainnya diraih Eko Supriyanto ketika berhasil terpilih menjadi satu-satunya penari asal Indonesia yang mengikuti tur dunia bersama penyanyi legendaris, Madonna. Pengalaman ini menjadi salah satu fragmen karier Eko yang sering dikenang oleh banyak orang. Namanya kerap disebut dalam cerita-cerita seni pertunjukan Indonesia sebagai sosok penari dan koreografer berbakat. Bukan hanya karena skala pertunjukannya, tapi juga karena pengalaman tersebut memperkaya cara Eko memahami tubuh, kerja kolektif dalam seni pertunjukan, dan humanity.
Keberuntungan lainnya diraih Eko Supriyanto ketika berhasil terpilih menjadi satu-satunya penari asal Indonesia yang mengikuti tur dunia bersama penyanyi legendaris, Madonna.
Bagi Eko, pelajaran terpenting dari keberuntungannya itu bukan soal kemewahan panggung, tetapi soal kedisiplinan, manajemen, komitmen terhadap waktu dan tubuh, serta yang tak kalah penting adalah cara memperlakukan manusia secara manusiawi dalam sistem kerja profesional.
Seni dan Nilai-Nilai Ekologi
Dari perjalanan pribadinya, Eko Supriyanto membawa pemahaman baru yang tak hanya ia simpan dalam tubuhnya, tapi juga ia bangun sebagai ruang bersama. Ia tak pernah memisahkan dirinya dari akar tradisi, tapi juga tak membiarkan dirinya terkunci dalam pemikiran yang sempit. Apa yang telah dipelajarinya selama menempuh pendidikan akademik maupun pengalaman menari di berbagai belahan dunia, membangun sesuatu yang lebih mendasar dalam dirinya. Di Jawa Tengah, tepatnya di Karanganyar, ia mendirikan studio tari EkosDance Company.
Studio ini pelan-pelan tumbuh bukan hanya sebagai tempat latihan, tapi juga sebagai ekosistem ide, tempat bertumbuhnya generasi baru, ruang diskusi, dan arena eksperimentasi artistik bagi penari muda. “Setelah mereka lulus, mereka belum tahu mau ke mana, dan kadang gak bisa ke mana-mana juga,” jelas Eko. “Saya selalu pengin memberikan kesempatan kepada teman-teman generasi muda untuk mendapatkan tempat (berkarya) sebetulnya.”
Eko menyadari bahwa pendekatan berbasis proyek “laris manggung” tidak cukup menjawab kebutuhan jangka panjang. Maka, selama dua tahun terakhir, ia menggeser arah EkosDance Company dari sekadar produksi pertunjukan ke arah pengembangan program. Salah satu fokus utamanya kini adalah membangun pendekatan ekologi dalam kerja kesenian.
Salah satu tarian tradisional khas Magelang itu kemudian ia dekati bukan hanya sebagai warisan bentuk, tetapi sebagai pintu masuk membaca ulang relasi tubuh, alam, dan narasi lokal. Pendekatan ecodramaturgy, menurut Eko, adalah tentang cara membangun struktur pemikiran dalam karya yang kemudian diterjemahkan ke dalam dramaturgi artistik.
Di karyanya kali ini, Eko tak lagi berkutat pada tata panggung modern seperti pada umumnya. Bersama para penari EkosDance Company, ia turun langsung ke ladang, menyentuh lumpur, serta bekerja bersama petani dan kerbau. Sebuah lompatan dari panggung modern ke lumbung gagasan yang lebih membumi.
Di sisi lain, ia juga menyisipkan nilai ecofeminism yang diyakininya sebagai pemikiran yang menempatkan tubuh dan alam sebagai entitas yang saling terhubung, saling dirawat. “Feminisme bukan tentang perempuan melawan laki-laki,” tegasnya. “Tapi sikap peduli terhadap apa pun yang penting bagi keberlanjutan hidup.”
Sejak Oktober 2024 lalu, Eko mulai menjalankan program ini secara reguler. Ia melibatkan empat pengajar tari, bukan hanya untuk latihan di studio, tapi juga untuk mengembangkan gagasan yang bertumbuh. Semakin jauh Eko Supriyanto berjalan, semakin ia memahami kekayaan dalam tarian Indonesia. Bukan pada bentuk bakunya, tapi pada keragaman filosofinya. Eko memiliki pandangan tersendiri ketika mendengar jargon bahwa ‘tari adalah bahasa universal’.
Eko memiliki pandangan tersendiri ketika mendengar jargon bahwa ‘tari adalah bahasa universal’.
“Tidak akan pernah universal. Yang paling gampang gini, gaya Solo sama gaya Jogja aja beda,” ujarnya. “Nah, saya bisa mengamini kalau tari itu bisa sangat universal ketika kita bicara tentang gagasan dan konsepnya. Misalnya temanya kepahlawanan, itu sangat bisa universal,” tambah Eko.
Eko menjelaskan bahwa ada banyak tarian di Indonesia yang terhubung atau terinspirasi dari alam atau sebuah ritual. Tarian-tarian ini cenderung memiliki konsep atau gagasan yang mirip bahkan sama, meskipun bentuk dan gerakannya berbeda.
“Di Kalimantan, tarian-tarian Dayak tidak ada batasan karena itu ekspresi mereka. Suara musiknya suara burung, hentakan kakinya, suara gemercik air. Itu tidak bisa dibatasi,” jelasnya. Gagasan-gagasan ini akhirnya ia tuangkan dalam disertasi doktoralnya di Universitas Gadjah Mada.
Menafsir Tradisi, Menjawab Zaman
Dalam dunia seni pertunjukan Indonesia, Eko memandang bahwa masa depan tari tidak dapat hanya berakar pada pelestarian bentuk atau estetika semata. Menurutnya, selama seni tari hanya diposisikan sebagai objek eksotis yang dilestarikan, maka ia akan tetap stagnan, jauh dari dinamika zaman. “Selama kita masih berkutat pada pelestarian, selama kita masih berkutat kepada keindahan, ya, mungkin akan begini-begini terus,” ujarnya.
Salah satu upaya yang dilakukan oleh Eko adalah dengan membangun pemikiran kritis di ranah kesenian. Pandangan kritis dan reflektif ini ia hadapkan pada ruang tradisi melalui konsep 3R: revisiting, requestioning, dan reinterpreting. Konsep ini diakui Eko sebagai kerangka untuk membaca ulang tradisi dengan cara yang lebih kontekstual dan relevan.
Mudahnya, Eko menjelaskan bahwa tahap revisiting adalah tahapan yang mengajak kita untuk mengunjungi kembali tradisi yang ada. Bukan hanya tentang tari tradisi, tetapi kebiasaan atau tindakan yang telah diwariskan turun-temurun dalam suatu kelompok masyarakat. Setelah mengunjungi, maka berlanjut pada tahap requestioning untuk mempertanyakan ulang nilai-nilai dan makna yang terkandung dalam tradisi. Sedangkan yang terakhir adalah reinterpretating, menafsirkan kembali tradisi agar dapat bersentuhan dengan kehidupan dan tantangan masa kini.
“Yang terakhir menginterpretasi, artinya kita harus berlomba membuat gagasan-gagasan baru bersumber dari tradisi itu. Membuat karya-karya baru bersumber dari tradisi itu. Karena tradisi kita nggak akan habis,” sambung Eko.
Bagi Eko, tradisi bukanlah entitas yang statis. Sebagai proses yang hidup, tradisi harus terus dipertanyakan dan ditafsirkan ulang agar tetap bermakna. Dengan demikian, tradisi tidak hanya terbatas pada bentuk-bentuk tari, tetapi juga mencakup pola pikir dan nilai-nilai yang diwariskan.
“Nah, itu yang membuat saya optimis, mas. Kalau mindset kita, sikap kita terhadap tari itu berubah, tari itu juga pasti akan berubah,” ucapnya.
Melalui pendekatan ini, Eko berharap para pelaku kesenian di Indonesia dapat tumbuh dengan pemikiran yang reflektif dan kritis, sehingga mampu menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan akar pijakannya. Ia pun tak pernah sungkan ‘mengganggu’ orang-orang di sekitarnya untuk ikut berpikir kritis.
“Saya merasa bahwa saya harus banyak ‘mengganggu’ orang. Bahkan saya harus banyak mengganggu pemikiran-pemikiran saya,” ujar Eko. “Kalau saya tidak mengganggu pemikiran saya, berarti saya tidak berpikir.”
Dari tubuh yang menari hingga tanah yang dipijak, dari ruang studio hingga tafsir tradisi, Eko Supriyanto menunjukkan bahwa seni tari tak berhenti pada bentuk atau panggung. Seni tari menjelma menjadi ruang berpikir, bertumbuh, dan bernegosiasi dengan zaman. Dalam setiap gerak dan gagasan, Eko merumuskan tarian bukan sebagai warisan beku, melainkan sebagai jalan pulang sekaligus jalan menuju masa depan.
Tarian bukan sebagai warisan beku, melainkan sebagai jalan pulang sekaligus jalan menuju masa depan.








