Lahir dan besar dari keluarga seniman, kesenian telah menjadi hembusan napas dalam perjalanan hidup seorang Butet Kartaredjasa. Tidak hanya dikenal sebagai “Raja Monolog” di panggung pertunjukan, nama Butet juga hadir melintas pada ruang kerja lainnya meliputi seni rupa dan kepenulisan. Pemilik nama asli Bambang Ekoloyo Butet Kartaredjasa ini seperti tak pernah berhenti untuk mengerjakan apa yang disukainya sejak kecil.
Ketertarikan Butet dengan seni, tidak bisa dilepas dari peran keluarga dan sosok ayah; Bagong Kussudiardja. Sejak kecil Butet telah mengenal berbagai macam kesenian yang tumbuh di dalam rumahnya. “Ya, memang sejak kecil saya hidup dalam atmosfer seni karena ayah saya seorang pelukis, penari, koreografer, dan banyak aktivitas seni yang ada di rumah,” tutur Butet saat ditemui di suatu siang di ruang belakang rumahnya di Kabupaten Bantul, Yogyakarta.
Ya, memang sejak kecil saya hidup dalam atmosfer seni karena ayah saya seorang pelukis, penari, koreografer, dan banyak aktivitas seni yang ada di rumah
Di masa itu, Butet kecil terus menjumpai peristiwa seni dalam laku kesehariannya. Butet melihat ayahnya mengajar menari, mencipta tari, melukis, dan kalau kerabat ayahnya datang, mereka adalah seniman yang tak henti-henti membicarakan seni, berdebat soal seni, dan bergosip tentang seni pula. Semua momen itu bersifat organik dan terus tumbuh di sekitarnya.
“Sehingga saya tidak bisa mengelak dari situasi itu,” ucap Butet sambil tersenyum. “Misalnya saya ingin membaca di perpustakaan keluarga kami, ketemunya juga buku-buku seni. Buku dengan teks atau buku bergambar, foto-foto dokumentasi, semua foto-foto seni.”
Pengalaman Bagong Kussudiardja mendidik setiap anaknya tentang seni dimulai dengan pemahaman teknik dasar dari seni tari. Hal itulah yang dialami oleh Butet semasa kecil. Bersama dua saudara laki-lakinya; Otok Bima Sidharta dan Djaduk Ferianto, Butet sempat mempelajari tari klasik pria di masa kecilnya. Hingga duduk di bangku kelas 6 Sekolah Dasar (SD), Butet memilih meninggalkan dunia seni tari dan memilih jalannya sendiri.
Sosok Bagong Kussudiardja, murid Ki Hajar Dewantara, sangat memengaruhi cara ia mendampingi tumbuh kembang setiap anaknya. Berlandaskan falsafah tut wuri handayani, yang bermakna menuntun atau mendorong dari belakang, Bagong menerapkan prinsip tersebut dalam proses perkembangan anak-anaknya, termasuk Butet Kartaredjasa. Bagi Butet, sang ayah tak pernah melarangnya untuk meninggalkan dunia seni tari dan memilih minat lain yang disukainya.
“Ketika mulai 6 SD, saya sudah memutuskan, saya tidak ingin jadi penari dan saya tidak mau menari. Saya memilih dunia yang saya sukai, yaitu sastra tulis menulis, teater, dan seni rupa,” tegas Butet.
Bukan tanpa alasan, menurut Butet, menekuni seni tari di bawah bayang-bayang nama besar ayahnya—seorang maestro tari—justru terasa sebagai jalan buntu. Mengikuti jejak sang ayah sebagai penari berbakat hanya akan terjebak dalam perumpamaan “buah jatuh tak jauh dari pohonnya”; sebaliknya, jika tak cakap menari, hal itu justru berpotensi mencemari kebesaran nama ayahnya.
Dari situlah kemudian Butet Kartaredjasa memutuskan untuk meninggalkan dunia tari dan mulai menekuni dunia teater, seni rupa, dan sastra. Kerja keras seorang Butet kecil pun dimulai hingga remaja dan dewasa. Ketekunan dan pengorbanan itulah yang ingin dibuktikan oleh Butet Kartaredjasa bahwa dirinya mampu menjadi apa yang dicita-cita.
“Maka saya ingin mendapat pengakuan nantinya, itu karena kerja keras saya, karena diri saya, bukan karena bayang-bayang nama besar ayah saya,” ujar seniman berusia 61 tahun itu.
Menjadi Raja Monolog
Pada suatu ketika di tahun 1976, Willibrordus Surendra Broto Narendra atau yang dikenal dengan nama W.S. Rendra tampil di atas panggung Teater Tertutup Taman Ismail Marzuki dengan pertunjukan bertajuk Hamlet bersama Bengkel Teater. Sastrawan Goenawan Mohamad dalam sebuah terbitan berjudul Hamlet dan Penonton yang Cekikikan (1976) di TEMPO, menuliskan bahwa pentas ini hadir dengan lincah, cerdik, nakal, dan berapi-api khas Rendra dan Bengkel Teater.
Di antara kerumunan penonton pentas itu, ada seorang remaja berusia 15 tahun yang ikut menyaksikan. Dia adalah Butet Kartaredjasa. Olah panggung dan keaktoran W.S. Rendra perlahan memukau Butet begitu dalam pada hari itu. Sosok itulah yang kemudian menjadi pengaruh besar bagaimana Butet menitipkan mimpi untuk menjadi seorang pemain teater dan bintang panggung di era selanjutnya.
Bagi Butet, meskipun dirinya bukanlah murid dari W.S. Rendra dan bukan pula bagian dari Bengkel Teater, tapi energi dari pentas Hamlet itu selalu menjadi inspirasinya. “Itu saya melihat bagaimana Mas Willy di tengah-tengah pertunjukan lakon Hamlet itu main monolog sendirian sangat karismatik. Saya melihat keaktoran yang luar biasa, teknik vokal yang luar biasa, dan di situlah saya sudah berikrar dalam hati saya, suatu saat nanti saya yang akan berdiri di tengah panggung itu main sepertinya (Rendra),” kata Butet.
Perjalanan menekuni dunia pertunjukan pun berlanjut hingga dewasa. Mendisiplinkan diri dan terus berlatih menjadi kuncian untuk mendapat hasil yang rancak. Hari ini, citra Butet sebagai Raja Monolog atau aktor panggung profesional telah mempertemukannya dengan beragam tokoh fiksi. Sebagai penuntun, Butet punya cara tersendiri untuk mendalami setiap karakter dari tokoh yang dimainkannya.
“Pertama dengan membaca, membaca teks. Bahan baku dari monolog maupun dari pertunjukan teater itu bahan baku utamanya adalah skenario (atau) naskah dramanya,” ungkap Butet. “Jadi, harus dibaca. Membaca teks, menginterpretasi teks, mengenali karakter yang akan dimainkan, interaksi antar karakter harus kita kenali, lalu kita membayangkan peristiwanya.”
Proses itu menurut Butet akan menuntun seorang aktor untuk belajar mengenali karakter yang akan dimainkan. Hal ini juga bersinggungan dengan pengetahuan umum, sejarah, dan olah fisik untuk membentuk karakter yang utuh. Selanjutnya adalah berimajinasi tentang bagaimana membuat kata-kata dalam dialog dari karakter tersebut bernyawa. Menurut Butet, untuk membuat karakter lebih bernyawa, perlu juga memerhatikan medium (media) pertunjukannya. Karena menurutnya, panggung teater dan layar sinema adalah dua hal yang berbeda dan memerlukan sedikit penyesuaian.
“Itu pun juga, harus tahu diri juga medianya apa. Oh ini stage, stage performance penontonnya jaraknya berapa ratus meter, berapa puluh meter. Sehingga akting harus sedemikian besarnya ketika main di panggung,” jelas Butet.
“Beda dengan ini, layar lebar. Mata penonton diwakili oleh lensa. Oh, ini TV, screen-nya kecil. Ini bermain-main yang kecil-kecil. Mimik, gestur, mata. Biji mata aja bisa dimainkan sebagai akting,” imbuhnya.
Sebagai Raja Monolog, Butet memiliki satu pentas yang paling berkesan dalam proses pembentukan karakter yang pernah dimainkan. Butet menyebut pentas monolog Matinya Toekang Kritik (2006) dari naskah karya Agus Noor. Pentas ini berkisah tentang Raden Mas Suhikayatno, seorang tukang kritik nomor wahid yang hidup melintasi lorong zaman. Selain itu, ada juga karakter lain bernama Bambang yang menjadi pembantu atau jongos.
Butet bercerita bahwa dirinya harus melakukan latihan yang ketat untuk dapat tampil secara maksimal. “Nah, di situ, ya, hampir 3 bulan saya intensif latihan. Semua naskah itu khatam lah saya,” ungkapnya.
Latihan keaktoran yang ketat dan tata artistik panggung yang maksimal membuat Butet bangga dengan pentas monolog berdurasi kurang lebih 2,5 jam itu. Menyesuaikan blocking, tata musik dan cahaya, hingga pemilihan kostum adalah peristiwa berharga yang pernah dilakukan Butet bersama tim kerja. Beberapa sumber juga mencatat bahwa dalam pentas tersebut melibatkan seniman ternama lainnya seperti Djaduk Ferianto sebagai penata musik, Ong Hari Wahyu sebagai penata artistik, dan Whani Darmawan sebagai supervisi penyutradaraan.
“Dan itu tanpa istirahat, tanpa jeda, dua setengah jam. Full power. Itu bagi saya puncak,” kata Butet mengenang masa lalunya. “Jadi hidup saya itu seperti udah aneh itu. Kalau saya bayangkan itu, mengigau aja mungkin mengigau teks itu. Saya ini betul-betul loncer, semua kata-kata menjadi milik saya, karakter itu milik saya.”
Bukan tanpa sebab memilih Matinya Toekang Kritik sebagai pentas monolog yang berkesan. Pengalaman buruk beberapa tahun sebelumnya pernah dialami oleh Butet di atas panggung. Pada tahun 1997, Butet terpaksa menghentikan pertunjukannya karena kehilangan tenaga. Waktu itu, Butet bahkan menyebut dirinya adalah aktor yang kalah.
“Saya mengalami musibah tidak bisa melanjutkan pertunjukan karena suara saya hilang di tengah pertunjukan. Pertunjukan terus saya hentikan,” cerita Butet, “Itu hal yang sangat memalukan dan saya menyebut sebagai aktor yang kalah. Karena tidak bisa menyelesaikan kewajiban dengan sempurna.”
Sejak saat itu, Butet merasa memiliki utang dan berjanji pada diri sendiri bahwa pertunjukan monolog selanjutnya harus lebih serius dan dipersiapkan dengan baik. Pentas Matinya Toekang Kritik jadi penebusan atas utang itu. “Sekarang kalau saya melihat video itu, saya sering termangu-mangu dan membayangkan bahwa saya sudah merasa gak mampu lagi,” ucapnya tersenyum.
Melintasi Seni Rupa dan Seni Menulis
Tidak hanya aktif di dunia pertunjukan, Butet juga dikenal sebagai seniman yang gemar membuat karya rupa. Sejumlah karya seni rupa pernah dikerjakannya dan dihadirkan di ruang galeri. Di dunia seni rupa, Butet pernah melangsungkan pameran tunggal Goro-goro: Bhineka Keramik di Galeri Nasional Indonesia pada tahun 2017. IndonesiaKaya menuliskan bahwa melalui karya tersebut Butet ingin menyinggung permasalahan sosial, politik, budaya, serta keagamaan.
Enam tahun kemudian, Butet memboyong karya rupa terbarunya menuju ruang galeri di pameran seni rupa kontemporer ARTJOG 2023 Yogyakarta. Karya yang dikelompokkan dengan nama Wirid Series ini ingin mengajak publik melihat goresan tangan Butet yang menuliskan ulang nama lengkapnya. Kumpulan tulisan tangan ini telah digoreskan pada lembaran kertas setiap harinya sepanjang tahun 2022 lalu. Bagi Butet, ini adalah suatu proses spiritual untuk meyakini diri tentang nama yang baik.
“Itu karya wirid visual,” cerita Butet. “Jadi, saya dalam hidup ini mengalami satu proses-proses spiritual yang unik.”
Karya ini merupakan pengalaman berharga yang pernah dilalui oleh seorang Butet. Karya wirid visual yang dicetak di berbagai medium seperti kertas dan logam itu merupakan manifestasi apa yang ingin dirawat dalam hidup Butet.
“Saya melakukan wirid nama saya personal banget, spiritual banget,” kata Butet. “Cara berdoa saya adalah dengan menulis wirid setiap malam satu lembar, sampai hari ini juga, mungkin sampai hari-hari mendatang.”
Menariknya, proses kekaryaan yang dilakukan Butet ini justru menemukan perspektif baru. Didampingi oleh kurator ARTJOG 2023, Hendro Wiyanto, menurutnya karya ini bisa dikatakan sebagai lanjutan dari karya monolog yang telah dilakoni. Selain karya rupa wirid, ruang galeri juga dipenuhi dengan instalasi lain yang menampilkan artefak monolog Butet seperti dokumen, kliping, foto, dan video pentas. “Kalau kemarin saya monolognya itu verbal sejak tahun 1980-an, hari ini monolog saya visual,” pungkas Butet.
Selain menekuni dunia seni pertunjukan dan seni rupa, keterampilan Butet lainnya dituangkan ke dalam tulisan. Menarik mundur dari ingar-bingar kesenian, Butet memiliki kebiasaan lain untuk menyalurkan hasrat berpendapatnya melalui tulisan. Tidak ingin memaksa diri untuk menulis karya fiksi, Butet lebih nyaman untuk menulis opini yang dibaca oleh orang banyak.
“Kalau saya menulis bukan untuk kepentingan membuat skenario. Saya menulis hanya untuk yang personal, menulis esai, opini ya, untuk di media massa,” ucap Butet.
Butet menuturkan, baik seni pertunjukan, seni rupa, dan seni menulis adalah tiga hal yang harus tetap dikerjakan dengan intensi dan kedisiplinan yang sama. Pekerjaan apa pun yang menjadi tanggung jawab, mengajarkan Butet untuk tetap memberikan yang terbaik secara berkelanjutan. Dari situlah kemudian Butet merasa perlahan hidupnya mulai tersaring; tentang apa yang harus dan tidak harus dikerjakannya.
Hingga sekarang, tiga pilihan itu masih menjadi ruang kerja yang menyenangkan bagi seorang Butet Kartaredjasa. Sebagai seniman, Butet tidak pernah takut jika suatu hari dirinya dikenal orang secara terpisah sebagai seorang aktor, atau perupa, atau bahkan seorang penulis. Menurutnya, dunia seni dan dunia tulis-menulis haruslah lebur dan tidak ada batasan yang menghalanginya.
“Kesenian itu tidak ada batas-batas teritori. Semua pagar-pagar itu lebur. Yang ada dalam diri kita sebagai seniman adalah cita rasa artistik, momentum artistik, momentum seni. Baik itu dieksekusi lewat teks, akting, maupun seni visual,” kata Butet.
Mencintai yang Dikerjakan
“Kejujuran, disiplin, dan menjadi orang yang bisa dipercaya,” jawab Butet ketika ditanya apa tantangan terbesar menjadi seorang seniman.
Menekuni dunia seni, apa pun itu, sama dengan mempelajari kehidupan. Sebab seni, bagi Butet, adalah ilmu hidup. Untuk mendapatkan sesuatu, selalu ada proses yang harus ditempuh. Seni memaksa Butet untuk terus jujur dan disiplin agar mampu merawat kepercayaan orang-orang yang ingin dijangkaunya. Persis seperti tugas seorang aktor di atas panggung untuk meyakinkan para penontonnya.
“Hidup itu sesungguhnya, tugasnya hanya merawat dan menjaga kepercayaan. Itu saja. Dalam disiplin keaktoran harus begitu. Kesempatan akan datang kalau kita bisa dipercaya. Punya disiplin,” ungkap Butet.
Mencintai apa yang dikerjakan adalah salah satu prinsip yang dipegang Butet sejak awal terjun ke dunia seni maupun kepenulisan. Keinginan untuk terus mengerjakan hal-hal yang disenangi sering kali menjadi pijakan awal Butet bekerja. “Karena saya hanya ingin hidup itu senang dengan tiga hal yang saya senangi. Saya mengerjakan semua itu tanpa motif ekonomi bahwa saya mendapatkan reward ekonomi. Itu bukan tujuan saya,” ucapnya.
Ada pola pikir lain yang ingin coba ditawarkan Butet Kartaredjasa bagi siapa pun yang bercita-cita menjadi seorang seniman. Menurutnya, menjadi seniman tujuan utamanya bukanlah untuk menjadi seorang yang kaya materiel, melainkan kesempatan menjadi individu yang mampu mengerjakan hal yang disukai. Karena dari kesempatan itulah, niscaya rezeki datang tak berkesudahan.
“Akibat saya mencintai kesenian itu, saya mendapat reward ekonomi. Jadi bagi saya dalam hidup ini, tujuannya bukan ingin kaya, bukan ingin mencari uang sebanyak-banyaknya, tapi ingin menikmati hidup dengan melakukan hal-hal yang kita senangi,” ungkap Butet.
Kesetiaan untuk mencintai apa yang dikerjakan perlahan menghidupi Butet hingga saat ini. Mimpi-mimpi yang pernah dicita-citakan menyusul terlampaui dan terus mengalir tanpa henti. Tak ingin terjebak sebagai bintang di atas panggung, Butet hanya ingin dikenang sebagai orang biasa yang bertanggung jawab dan bisa dipercaya.
“Sebagai orang baik, sebagai orang yang jujur, orang yang bertanggung jawab, orang yang bisa dipercaya,” tutup Butet dengan senyuman.



