Cari dengan kata kunci

Sistem Tempat Tinggal Sang Penghuni Lembah Baliem

rumah_adat_suku_dani_1290.jpg

Sistem Tempat Tinggal Sang Penghuni Lembah Baliem

Desa cantik ini bernama Desa Kurulu. Sebuah desa yang menjadi tempat tinggal bagi salah satu keluarga dari Suku Dani, suku terbesar di Papua yang terdapat di Lembah Baliem. Semua warga desa ini sebenarnya masih mempunyai hubungan keluarga.

Pariwisata
Tagar:

“Cuit..cuit..cuit…”, suara burung terdengar indah di pagi hari yang cerah itu. Selintas siulan burung lainnya pun membalas dengan bersahut-sahutan. Udara yang begitu segar diselingi angin semilir mengawali hari itu dengan nyamannya. Matahari pun tak mau kalah memamerkan pesonanya, hangat dan berpadu mesra dengan sejuknya sebuah desa di Lembah Baliem. Pagi itu sangatlah berkesan, terutama bagi wisatawan yang terbiasa dengan keramaian kota dan bisingnya metropolitan. Desa ini sangat damai dan tentram.

Desa cantik ini bernama Desa Kurulu. Sebuah desa yang menjadi tempat tinggal bagi salah satu keluarga dari Suku Dani, suku terbesar di Papua yang terdapat di Lembah Baliem. Semua warga desa ini sebenarnya masih mempunyai hubungan keluarga. Mereka telah hidup sejak jaman purbakala dan tetap bertahan dengan budaya aslinya di tempat ini hingga jaman modern. Desa ini pun menjadi salah satu desa yang memiliki jumlah keluarga cukup besar, bila dibandingkan dengan desa lain yang tersebar luas di kawasan Lembah Baliem.

Dalam satu desa yang ditinggali masyarakat Dani, biasanya terdapat 3 hingga 4 silimo. Silimo sendiri adalah tempat tinggal bagi beberapa keluarga kecil yang berkelompok dan berada dalam satu pagar. Umumnya, satu silimo berisi 2 hingga 4 keluarga, tergantung kebijakan masing-masing keluarga kecil.

Sebuah Silimo memiliki sistem tempat tinggal yang terorganisir. Keberadaan Silimo diawali oleh sebuah pintu gerbang atau Mokareilla. Pintu ini menjadi celah masuk Silimo yang dikelilingi oleh pagar kayu atau biasa disebut Legar Obapuhu. Pagar ini berujung runcing dan ditutupi oleh tanah serta lumpur. Selanjutnya, di dalam Silimo terdapat beberapa bangunan yang memiliki jenis berbeda dan terbagi menurut fungsinya masing-masing. Sebenarnya, pembagian bangunan ini tidak begitu rumit. Pembagian ini cukup sederhana dan perbedaan fungsi tiap bangunannya pun terlihat jelas.

Pertama yang selalu terdapat di Silimo adalah rumah khas Papua yang bernama Honai. Bentuknya menyerupai jamur dangan atap jerami dan dinding kayu. Bentuk dan materi bangunan ini dibuat dengan tujuan agar suhu di dalamnya tetap terjaga hangat, mengingat dinginnya Lembah Baliem di saat malam hari.

Honai terbagi menjadi dua jenis. Jenis yang pertama adalah Pilamo, ini adalah Honai utama bagi kaum pria dalam satu Silimo. Semua aktifitas keluarga dikendalikan dari dalam Pilamo oleh para kepala keluarga. Pilamo hanya boleh dimasuki oleh kaum pria, dan hanya ada satu di dalam satu Silimo.

Kemudian, Honai berikutnya bernama Huma. Honai ini adalah tempat tinggal bagi kaum wanita dan anak-anak. Berbeda dengan Pilamo, Huma biasanya berjumlah lebih dari satu dalam sebuah Silimo. Semua kegiatan yang dilakukan oleh wanita terjadi di dalam Huma, contohnya mengurus anak, membuat kerajinan, hingga bercengkrama. Aturan dalam Huma pun tidak seketat Pilamo, kaum pria boleh memasuki Honai jenis ini.

Bangunan lain yang terdapat dalam Silimo salah satunya adalah Hunila. Sejenis Honai, namun memiliki bentuk memanjang dan lebih luas. Hunila merupakan dapur yang menjadi pusat pembuatan makanan bagi seluruh penghuni Silimo. Biasanya, kaum wanita membakar ubi atau memasak sagu di dalam bangunan ini. Setelah masak, makanan akan diantarkan ke dalam Pilamo terlebih dahulu, baru kemudian dibagikan kepada keluarga secara keseluruhan.

Berikutnya adalah Wam Dabula, bangunan ini adalah kandang ternak. Hewan ternak utama yang biasa dipelihara di kandang ini adalah babi atau biasa disebut Wam. Bangunan ini cukup spesial, karena Wam sangat bernilai bagi masyarakat Dani. Umumnya, Wam Dabula berbentuk rumah panjang mirip Hunila, namun dengan ukuran yang jauh lebih kecil dan ditempatkan di sudut-sudut Silimo yang agak jauh dari Honai.

Secara umum, bangunan-bangunan inilah yang selalu ada dalam satu Silimo. Semua mempunyai fungsi dan bentuk yang berbeda satu dengan lainnya. Keberadaan bangunan-bangunan unik nan indah ini menjadi sebuah tradisi yang terus diturunkan antar generasi suku Dani dan masih bertahan hingga saat ini. Selain itu, struktur organisasi tempat tinggal suku Dani ini pun menjadi sebuah bukti kebudayaan luhur yang dimiliki Sang Penghuni Lembah Baliem. [@phosphone/IndonesiaKaya]

Tagar:
Informasi Selengkapnya
  • Elsa Dwi Lestari

  • Indonesia Kaya

Berlangganan buletin Indonesia Kaya

Daftar ke buletin email Indonesia Kaya untuk mengikuti berita dan acara terkini.