Cari dengan kata kunci

Sejenak Mengenang Kekejaman Raymond Westerling

monumen_korban_1200.jpg

Sejenak Mengenang Kekejaman Raymond Westerling

Masa pendudukan penjajah Belanda di Makassar mempunyai jejak rekam yang teramat suram. Sungguh ironi, di kala setiap daerah di Indonesia baru merayakan proklamasi kemerdekaan

Pariwisata

Masa pendudukan penjajah Belanda di Makassar mempunyai jejak rekam yang teramat suram. Sungguh ironi, di kala setiap daerah di Indonesia baru merayakan proklamasi kemerdekaan, masyarakat Sulawesi justru harus menghadapi operasi militer yang dilakukan pasukan Depot Speciale Troepen di bawah komando Raymond Westerling. Menurut sejarah, misi pasukan Westerling tersebut memang untuk “membersihkan” orang-orang yang dianggap pemberontak dan pro akan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
 
Setiap desa di Sulawesi Selatan tidak luput dari operasi militer yang dijalankan Westerling, sehingga korban-korban tidak berdosa berjatuhan dari berbagai desa. Yang lebih mengerikan, Westerling tidak hanya memberikan komando tetapi juga ikut menembaki orang-orang yang dianggapnya sebagai teroris, penjahat, dan pembunuh. Hingga dalam kurun waktu setahun pendudukan pasukan KNIL di wilayah Sulawesi Selatan, tercatat 40.000 korban jiwa tewas secara sia-sia. Puncaknya terjadi pada tanggal 11 Desember 1947, oleh karena itulah setiap tanggal 11 Desember rakyat Sulawesi selalu mengenang peristiwa kekejaman Westerling dengan mengibarkan bendera setengah tiang di rumah-rumah.

Untuk mengenang kejadian mengerikan tersebut, pemerintah daerah Sulawesi membangun sebuah monumen yang bernama Monumen Korban 40.000 Jiwa atau orang-orang biasa menyebutnya dengan nama Monumen Korban Westerling. Monumen ini berlokasi di jalan Langgau, ke arah utara kota Makassar tidak jauh dari Lapangan Karebosi.

Memasuki lokasi tersebut pengunjung akan menjumpai sebuah relief besar yang menceritakan tentang kekejaman Raymond Westerling kepada rakyat Sulawesi Selatan. Di sebelah relief tersebut terdapat sebuah patung berukuran tinggi sekitar 5 meter. Patung tersebut menggambarkan penderitaan; berkaki buntung dan disangga. Di bagian lain terdapat puri dan taman yang dipenuhi bunga.

Menurut penjaga monumen, dahulu di sekitar monumen ini terdapat salah satu lubang tempat dimana korban-korban Westerling dikuburkan secara massal. Namun lubang tersebut kini sudah ditutup dan tidak boleh diperlihatkan secara umum lagi, dengan alasan semua kenangan pahit tersebut sudah dikubur dan tidak perlu diperlihatkan kembali.

Menurutnya lagi, belakangan ini Monumen Korban 40.000 Jiwa makin jarang dikunjungi oleh masyarakat Sulawesi sendiri atau masyarakat Indonesia pada umumnya. Mungkin hal ini disebabkan adanya hiburan lain yang lebih modern ketimbang mengunjungi monumen. Hal ini perlu mendapatkan perhatian serius dari pemerintah untuk mau mempromosikan dan memperbaiki berbagai fasilitas yang ada, sehingga monumen ini tidak hanya menjadi sekadar pemanis kota saja. Karena dari tempat-tempat seperti inilah rasa nasionalisme kita sebagai sebuah bangsa dapat ditingkatkan, hal ini menjadi penting sebagai tameng sekaligus budaya perlawan atas sikap invidualis masyarakat Indonesia yang belakangan ini makin dominan. [AhmadIbo/IndonesiaKaya]

Informasi Selengkapnya
  • NULL

  • Indonesia Kaya

Berlangganan buletin Indonesia Kaya

Daftar ke buletin email Indonesia Kaya untuk mengikuti berita dan acara terkini.