Perjalanan menuju Pulau Osi di Kabupaten Seram Bagian Barat dimulai dari Ambon dengan menyeberang menggunakan kapal feri menuju Pulau Seram. Setelah itu, perjalanan dilanjutkan melalui jalur darat sekitar tiga jam hingga tiba di pesisir Desa Pelita Jaya. Perlu diketahui, Pulau Osi merupakan daratan yang terpisah dari Pulau Seram sehingga kendaraan hanya dapat mencapai desa tersebut. Dari sana, perjalanan harus diteruskan dengan ojek atau berjalan kaki menuju Pulau Osi.
Karena membawa cukup banyak perlengkapan, perjalanan dilanjutkan menggunakan ojek. Dari pangkalan ojek, jarak yang harus ditempuh sekitar dua kilometer lagi. Motor segera melaju ketika semuanya telah siap. Tahap terakhir perjalanan menuju Pulau Osi dimulai saat memasuki gerbang bertuliskan “Selamat Datang di Pulau Osi”. Jalur yang dilalui ternyata berupa dermaga kayu panjang di atas perairan bakau. Pemandangan tersebut memang menarik, meski sempat menimbulkan rasa khawatir karena kondisi jalur kayunya. Namun, pengemudi ojek terus meyakinkan bahwa jalur tersebut aman dilalui. Perjalanan berlangsung lancar melewati sekitar tiga pulau kecil yang saling terhubung oleh jembatan kayu hingga akhirnya tiba di Pulau Osi.
Pulau Osi hanya memiliki luas sekitar 9 hektare dengan panjang sekitar 600 meter dan lebar 200 meter.
Pulau Osi hanya memiliki luas sekitar 9 hektare dengan panjang sekitar 600 meter dan lebar 200 meter. Pulau kecil ini dihuni sekitar 100 kepala keluarga yang sebagian besar bekerja sebagai nelayan. Penduduknya didominasi para pendatang asal Sulawesi Tenggara yang telah menetap puluhan tahun hingga melahirkan beberapa generasi di Pulau Osi. Meski demikian, masyarakat setempat lebih senang disebut sebagai warga asli Pulau Osi dibandingkan dikaitkan dengan daerah asal leluhur mereka di Sulawesi.
Kepadatan Pulau Osi yang terus meningkat mulai memunculkan sejumlah persoalan. Pemerintah daerah bahkan telah memindahkan sebagian penduduk ke wilayah sekitar Desa Pelita Jaya di Pulau Seram. Hal lain yang menarik perhatian adalah tidak adanya sumber air tawar alami di pulau ini. Dahulu, warga harus mengambil air tawar dari Pulau Marsegu atau Pulau Seram. Kini, kebutuhan air bersih dibantu dengan alat destilasi yang mengubah air laut menjadi air tawar. Selain itu, terdapat pula instalasi listrik tenaga surya di pinggiran desa yang menjadi sumber listrik bagi warga Pulau Osi.
Keindahan taman laut di sekitar pulau membuat kawasan ini nyaman untuk dikunjungi.
Kini, Pulau Osi berkembang sebagai destinasi wisata bahari. Keindahan taman laut di sekitar pulau membuat kawasan ini nyaman untuk dikunjungi. Sejumlah penginapan dan resor mulai bermunculan dengan fasilitas menginap yang menarik bagi wisatawan. Bahkan dari jembatan dan dermaga di sekitar pulau, keindahan bawah lautnya sudah dapat terlihat tanpa harus menyelam ke dalam air. Meski belum sepopuler Pantai Ora atau Kepulauan Banda, Pulau Osi menyimpan potensi besar untuk terus berkembang sebagai salah satu tujuan wisata unggulan di Seram Bagian Barat, Maluku.








