Pindang Ikan dan Nasihat Kelestarian Alam Dibaliknya - Indonesia Kaya

Cari dengan kata kunci

Pindang Ikan 2-resized-to-1500x846

Pindang Ikan dan Nasihat Kelestarian Alam Dibaliknya

Kekayaan gastronomi masyarakat Sumatera Selatan lewat teknik memasak berkuah bening.

Kuliner

Di jantung Sumatera Selatan, terhampar sebuah kisah rasa yang mengalir sejernih sungai-sungainya: pindang. Lebih dari sekadar hidangan berkuah dengan cita rasa pedas, asam, dan gurih yang begitu khas, pindang adalah manifestasi nyata dari hubungan harmonis antara kelestarian sungai & manusia. Sajian pindang lahir dari kesegaran ikan air tawar, dipadu sempurna dengan kekayaan rempah pilihan bumi Sriwijaya, merangkai jalinan erat antara kearifan komunitas manusia dan alam yang murah hati memberi pangan.

Secara esensi, pindang adalah seni merebus yang elegan—teknik memasak berkuah bening yang menghindari santan, menonjolkan kesegaran alami. Di dalamnya, bisa digunakan ikan baung, toman, gabus, patin, bahkan tak jarang dijumpai ikan salai. Tidak lupa juga telur ikan yang gurih, semuanya berpadu dalam kelezatan yang tak terlupakan.

Secara esensi, pindang adalah seni merebus yang elegan

Setiap bumbu yang meresap ke dalam kuah Pindang sejatinya adalah sebuah narasi, memantulkan gambaran utuh tentang persinggungan budaya yang kaya antara masyarakat Sumatera Selatan dengan berbagai peradaban. Penggunaan kunyit, misalkan. Kuat dugaan bahwa pendatang dari India yang mempengaruhi hal ini. Sedangkan jahe dan lengkuas, adalah warisan berharga dari interaksi panjang dengan peradaban India, Arab, dan Tionghoa.

Masakan pindang hadir sebagai bagian dari menu keseharian keluarga di Sumatera Selatan, dibuktikan dengan banyaknya variasi yang menyesuaikan kondisi lingkungan masyarakat. Pindang Palembang memiliki ciri khas kuah kuning karena menggunakan kunyit. Penggunaan nanas dan kemangi juga memberikan sensasi segar, asam dan gurih sekaligus manis berkat rempah yang ditaburkan saat direbus.

Ada lagi Pindang Meranjat berasal dari Desa Meranjat, Kabupaten Ogan Ilir. Uniknya, Pindang Meranjat terletak pada proses pengolahan bumbunya yang harus ditumis. Bumbu halus yang terdiri dari bawang merah, cabai merah, cabai rawit, jahe, dan kunyit, digoreng dengan sedikit minyak hingga mengeluarkan aroma harum yang menyengat.

Uniknya, Pindang Meranjat terletak pada proses pengolahan bumbunya yang harus ditumis.

Proses penumisan ini tidak hanya bertujuan untuk mematangkan bumbu, tetapi juga untuk melarutkan cabai sehingga kuahnya tampak merah pekat dan sedikit berminyak di permukaan. Selain itu Pindang Meranjat juga menggunakan terasi bakar sebelum dihaluskan bersama bumbu lainnya.

Keunikan juga terdapat pada Pindang Pegagan khas suku Pegagan di daerah Ogan Ilir. Tekstur kuah pada pindang jenis ini lebih ringan karena tidak melalui proses penumisan. Sehingga tidak menggunakan minyak goreng sama sekali. Bumbu-bumbu seperti bawang merah, bawang putih, cabai merah, kunyit, jahe, dan terasi biasanya digiling halus.

Sedangkan Pindang Musi Rawas, karena di daerah dengan banyak dataran untuk menanam rempah, memiliki identitas warna kuah kuning keemasan. Penggunaan kunyit yang lebih banyak, daun salam, serai, dan lengkuas secara melimpah memberikan citarasa yang lebih kaya.

Pindang Musi Rawas, karena di daerah dengan banyak dataran untuk menanam rempah, memiliki identitas warna kuah kuning keemasan.

Keunikan lain dari Pindang Musi Rawas adalah penggunaan tomat ranti atau tomat kecil untuk menghadirkan sensasi asam pada kuah. Proses perebusan yang nantinya menghancurkan tomat-tomat kecil itu juga berpengaruh pada tekstur kuah yang sedikit kental dengan citarasa gurih, manis, asam dan juga rempah aromatik.

Bagi para penggemar ikan, tentunya menu pindang dari berbagai sudut daerah Sumatera Selatan ini sayang sekali jika dilewatkan. Rasanya tidak berlebihan jika menyiapkan satu hari penuh untuk menikmati kuliner pindang dari berbagai titik dengan ciri khasnya masing-masing.

Kekayaan kuliner pindang kini menghadapi tantangan serius. Ketersediaan bahan baku ikan pindang hanya mengandalkan budidaya tambak ikan patin. Ikan-ikan lain seperti gabus, baung, toman dan lain sebagainya kian sulit ditemukan di habitatnya. Hal ini tidak lepas dari penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan, maraknya pelepasan ikan invasif, alih fungsi ke hutan tanaman industri hingga pencemaran sungai akibat limbah pabrik.

Pada dasarnya, pindang ikan yang menjadi kekayaan gastronomi masyarakat Sumatera Selatan adalah bentuk keharmonisan antara manusia dan alam. Manusia menjaga sungai, alam memberikan bahan makanan. Dua peran yang sejatinya bukan perkara sulit.

Informasi Selengkapnya
  • Indonesia Kaya

  • Indonesia Kaya