Piaynemo, Gugusan Karang Ikonik Raja Ampat dari Ketinggian - Indonesia Kaya

Cari dengan kata kunci

DCIM101GOPRO

Piaynemo, Gugusan Karang Ikonik Raja Ampat dari Ketinggian

Gugusan karang tajam dan panorama laut berlapis warna menjadikan Piaynemo pengalaman yang membekas sejak pandangan pertama.

Pariwisata

Dua jam pelayaran ditempuh dari ibu kota Raja Ampat, Waisai. Perjalanan terasa ringan berkat panorama yang memanjakan mata: pulau-pulau eksotis, air laut yang jernih, hingga rombongan lumba-lumba yang setia mengiringi laju kapal menuju salah satu mahakarya alam di muka bumi.

Memasuki Piaynemo, tampak gugusan pulau karang yang berkelompok di tengah lautan lepas Raja Ampat. Destinasi ini kerap disebut Painemo oleh wisatawan, meski penyebutan yang tepat adalah Piaynemo. Dalam bahasa masyarakat Biak, “piaynemo” berarti “ujung tombak yang ditusukkan” (piay: ujung tombak, nemo: ditusukkan), mencerminkan keyakinan lokal bahwa keindahan dan tajamnya karang di kawasan ini menyerupai ujung tombak yang menghunjam laut.

Dalam bahasa masyarakat Biak, “piaynemo” berarti “ujung tombak yang ditusukkan”.

Setibanya di kawasan Piaynemo, pengunjung terlebih dahulu melapor di pos dermaga yang dijaga penduduk lokal. Para penjaga ini ditugaskan pemerintah daerah untuk merawat kelestarian dan keindahan kawasan. Tidak ada kewajiban membayar untuk masuk, namun tersedia kotak sumbangan sebagai bentuk dukungan sukarela bagi upaya perawatan dan pelestarian wilayah yang memukau ini.

Setelah melapor kepada penjaga dan mengisi buku tamu, petualangan di Piaynemo pun dimulai. Tujuan pertama adalah Bukit Bintang, sebuah pulau kecil di tengah gugusan karang yang menyimpan rasa penasaran. Nama bukit ini baru terjawab setelah pendakian setinggi sekitar 10 meter berhasil dituntaskan. Dari puncaknya, rangkaian pulau karang di bawah tampak membentuk pola menyerupai bintang, menjadi alasan penamaan Bukit Bintang.

Bukit Bintang, sebuah pulau kecil di tengah gugusan karang yang menyimpan rasa penasaran.

Keindahan tidak berhenti pada satu sudut pandang. Gugusan karang lain di sekelilingnya tampil begitu memikat hingga rasa lelah selama mendaki seakan menghilang. Bahkan goresan kecil di tangan dan kaki akibat karang tajam tak lagi terasa, tergantikan oleh kekaguman pada panorama alam yang tersaji.

Sekitar 15 menit di ketinggian Bukit Bintang menjadi momen yang sulit dilupakan. Setelah mengabadikan pemandangan, langkah pun berlanjut turun menuju kapal yang menunggu di kaki bukit. Jalur turun terasa lebih ringan, seiring tubuh mulai terbiasa dengan medan berbatu karang, hingga akhirnya kembali ke kapal dengan perasaan puas dan takjub.

Tujuan berikutnya adalah sebuah balkon di puncak bukit yang lebih tinggi. Tak jauh dari Bukit Bintang, perjalanan berlanjut hingga tiba di sebuah dermaga yang tampak masih baru.

Tujuan berikutnya adalah sebuah balkon di puncak bukit yang lebih tinggi. Tak jauh dari Bukit Bintang, perjalanan berlanjut hingga tiba di sebuah dermaga yang tampak masih baru. Menurut Pak John, pengemudi perahu, lokasi ini memang baru saja selesai dibangun. Dermaga tersebut menjadi titik awal rangkaian tangga menuju balkon di puncak bukit.

Tangga demi tangga mulai ditapaki, tersusun rapi menanjak ke atas. Sekitar 150 anak tangga harus dilalui sebelum mencapai tujuan. Meski cukup menguras tenaga, perjalanan terasa sepadan dengan rasa penasaran akan panorama yang menanti di atas.

Laut bergradasi biru, hijau, hingga biru muda, pulau-pulau karang hijau yang tersebar indah, serta hamparan pasir yang tampak saat air pasang.

Sesampainya di balkon, tepat di puncak bukit yang lebih tinggi dari Bukit Bintang, langkah seketika terhenti. Panorama yang tersaji terasa jauh lebih dahsyat. Hampir seluruh wilayah Piaynemo terbentang jelas di hadapan mata: laut bergradasi biru, hijau, hingga biru muda, pulau-pulau karang hijau yang tersebar indah, serta hamparan pasir yang tampak saat air pasang. Pemandangan ini menghadirkan rasa takzim pada keagungan alam.

Sulit rasanya beranjak dari balkon istimewa tersebut. Bukan karena fasilitasnya, melainkan karena kekaguman yang terus mengalir tanpa henti. Namun keterbatasan waktu akhirnya memaksa langkah kembali menuruni tangga menuju kapal. Setiap anak tangga dilewati dengan perasaan yang masih diliputi takjub. Keindahan panorama itu pun melekat kuat dalam ingatan—sebuah kesan mendalam dari Piaynemo, “si Ujung Tombak yang Ditusukkan”.

Informasi Selengkapnya
  • Elsa Dwi Lestari

  • Indonesia Kaya