Cari dengan kata kunci

Pancaran Keramahan Suku Dani Dalam Tarian Selamat Datang

tari_selamat_datang_suku_dani_1290.jpg

Pancaran Keramahan Suku Dani Dalam Tarian Selamat Datang

Sinar matahari bersinar di sela-sela dedaunan. Hembusan angin bertiup dengan lembut memecah udara panas yang terasa. Samar-samar terdengar untaian nada yang bersahut-sahutan. Tidak jelas apa artinya, namun seperti mengisyaratkan sebuah makna.

Kesenian
Tagar:

Sinar matahari bersinar di sela-sela dedaunan. Hembusan angin bertiup dengan lembut memecah udara panas yang terasa. Samar-samar terdengar untaian nada yang bersahut-sahutan. Tidak jelas apa artinya, namun seperti mengisyaratkan sebuah makna. Langkah ini semakin mendekati sumber suara dan terlihat sebuah kerumunan Suku Dani berbaris berputar. Sebagian besar mereka adalah kaum wanita dan wajah mereka memancarkan keceriaan, terlebih ketika mereka menyadari keberadaan kami. Goyangan tubuh mereka semakin memuncak, aura semangat terpancar dari tiap kata asing yang mereka ucapkan, dan kami pun sadar bahwa mereka sedang menyampaikan sesuatu pada kami. Kombinasi tari dan lagu tersebut adalah sebuah penyambutan bagi rombongan kami.

Siang itu kami memang menjadwalkan untuk mengunjungi Desa Kurulu, salah satu desa yang dihuni oleh Suku Dani. Bagi kami, budaya dan kearifan lokal yang mereka miliki adalah sebuah kekayaan tak ternilai. Berbagai kesenian dan tradisi yang mereka miliki adalah daya tarik luar biasa dalam dunia pariwisata. Kami mengalami salah satunya, sebuah tarian yang diiringi nyanyiian untuk menyambut kedatangan kami di Desa Kurulu.

Menurut Bapak Yali, kepala suku di desa tersebut, upacara tari dan nyanyian untuk menyambut kami ini tidak memiliki nama resmi. Semua orang di suku tersebut mengenalnya hanya sebagai Tarian Selamat Datang dan memang berfungsi sebagai bagian penyambutan tamu-tamu. Tarian ini adalah sebuah penghormatan kepada siapapun yang dianggap sebagai teman atau saudara oleh Suku Dani. Layaknya sapaan untuk mempersilahkan tamu memasuki rumah, tarian ini pun dilakukan sebagai bentuk keramahan Suku Dani sebagai “tuan rumah”.

Tarian Selamat Datang ini dilakukan secara beramai-ramai. Umumnya yang melakukannya adalah kaum wanita. Hal ini disebabkan karena kaum wanita identik dengan urusan domestik dalam rumah, termasuk urusan menyambut tamu. Sedangkan para pria biasanya sudah sibuk dengan urusan luar rumah seperti berburu dan berperang. Namun, bukan berarti kaum pria tidak boleh bergabung dalam tarian selamat datang ini. Para pria biasanya baru akan bergabung di dalam tarian ketika tarian sudah setengah perjalanan.

Kaum wanita akan membentuk sebuah lingkaran dan mereka mulai bernyanyi dengan bersahutan. Berdasarkan informasi Bapak Yali, isi dari lirik yang mereka nyanyikan umumnya adalah ungkapan syukur dan cerita tentang segala sesuatu yang positif mengenai kehidupan. Mereka percaya bahwa lirik-lirik positif ini akan membuat tamu merasa nyaman saat berkunjung dan sebaliknya akan memberikan nilai positif lagi kepada “tuan rumah” yang sudah menyambut dengan baik. Tarian ini adalah ucapan selamat datang, oleh karenanya Suku Dani melakukan tarian ini dengan penuh semangat dan keceriaan. Tidak ada satu pun yang bermuka muram, mereka semua terlihat gembira. Seperti harapan mereka, kami pun merasa sangat nyaman dan terhormat bisa berada di Desa ini.

Lingkaran yang mereka buat semakin lama semakin besar. Para penari tidak lagi kaum wanita, kini kaum prianya pun ikut bergabung. Mereka ikut berputar dengan sesekali mengangkat tombak, panah, dan senjata-senjata lain kebanggaan mereka tanpa sedikitpun bermaksud melukai. Semakin besar lingkaran yang mereka buat, semakin besar pula nyanyian yang mereka nyanyikan. Beberapa wanita mulai meneriakkan yel-yel singkat di tengah-tengah lagu. Yel-yel ini begitu melengking sehingga menambah keyakinan para penari lain untuk lebih semangat lagi. Tidak lama, Bapak Yali sang Kepala Suku pun memerintahkan mereka untuk berbanjar dan menghadap ke arah kami. Hal ini mereka lakukan tanpa merubah nyanyian yang masih mereka lantunkan.

Kini posisi mereka tak lagi membentuk lingkaran, namun secara jelas berhadapan muka langsung dengan rombongan kami. Nyanyian mereka pun berangsur pelan diikuti oleh beberapa patah kata yang diucapkan Bapak Yali. “…Kami Indonesia, Suku Dani satu Indonesia…”, ucap Bapak Yali mengenalkan mereka. Setelah itu, Bapak Yali juga mengatakan bahwa mereka sangat senang menerima kedatangan kami sebagai tamu di Desa Kurulu. Mereka berharap hal-hal baik dapat dihasilkan di dalam kunjungan ini. Ternyata posisi berhadapan ini adalah sebuah penutup dari rangkaian tarian yang mereka lakukan. Setelah selesai, mereka pun mulai membaur dengan rombongan kami dan kami pun mencoba bertukar pembicaraan dengan mereka.

Tarian Selamat Datang yang dimiliki oleh Suku Dani ini memang tampak sederhana. Para penari tidak memperlihatkan gerak-gerak tertentu yang sulit, nyanyian pun terdengar dalam nada yang sangat sederhana. Namun, keistimewaan Tarian Selamat Datang ini terletak pada maknanya. Tarian ini adalah sebuah refleksi atas kearifan lokal yang dimiliki Suku penguasa Wamena ini. Mereka sangat menghormati siapapun yang datang dengan niat baik ke wilayah mereka. Tidak seperti penampakan fisik mereka yang menyeramkan, tarian ini menampilkan sisi lain diri Suku Dani yang ramah dan penuh kebaikan. Tarian ini pun ditutup oleh sebuah teriakan yang dilakukan oleh Bapak Yali, “Kami cinta Indonesia…”. [@phosphone/IndonesiaKaya]

Tagar:
Informasi Selengkapnya
  • Elsa Dwi Lestari

  • Indonesia Kaya

Berlangganan buletin Indonesia Kaya

Daftar ke buletin email Indonesia Kaya untuk mengikuti berita dan acara terkini.