Cari dengan kata kunci

Museum Bali, Rekaman Jejak Sejarah Perkembangan Budaya Pulau Dewata

museum_bali_1200.jpg

Museum Bali, Rekaman Jejak Sejarah Perkembangan Budaya Pulau Dewata

Secara arsitektur, bangunan Museum Bali dibuat mengikuti prinsip tata bangunan tradisional Bali (Lontar Asta Kosala Kosali).

Pariwisata
Tagar:

Di antara sekian banyak museum seni budaya yang tersebar di Bali, ada satu museum yang menyimpan kekayaan budaya tradisional Bali sejak dahulu kala. Museum yang dimaksud adalah Museum Bali.

Museum Bali terletak di Jalan Mayor Wisnu, di sisi timur Lapangan Puputan Badung, Denpasar. Sejak awal didirikan, museum ini memang dirancang sebagai referensi etnografi masyarakat Bali sejak zaman pra-sejarah hingga saat ini.

Pembangunan Museum Bali tidak terlepas dari keresahan seniman Belanda yang menetap di Bali. Pada awal abad 19, Bali mulai menarik perhatian dunia barat. Banyak orang Eropa dengan berbagai latar belakang yang datang dan menetap di pulau ini. Orang-orang Eropa tersebut tertarik dengan berbagai hasil kerajinan masyarakat Bali.

Aneka karya kerajinan seperti patung, ukiran, perhiasan, lukisan, serta karya-karya lainnya menjadi buruan para kolektor dari luar negeri. Semakin lama, sedikit demi sedikit peninggalan budaya tradisional dari Bali dibawa keluar dari pulau tersebut. Benda-benda itu dijadikan cenderamata ketika pada wisatawan kembali ke negara masing-masing.

Kondisi tersebut yang menimbulkan keresahan sekelompok seniman Belanda. Semakin banyaknya peninggalan budaya asli Bali yang dijadikan cenderamata dan dibawa keluar dari Bali, dikhawatirkan akan menimbulkan pemiskinan warisan budaya Bali.

Atas usulan sejumlah pihak, W.F.J. Kroon (Asisten Residen Bali Selatan) menggagas pendirian Museum Bali pada 1910. Museum ini pun diresmikan pada tanggal 8 Desember 1932.

Secara arsitektur, bangunan Museum Bali dibuat mengikuti prinsip tata bangunan tradisional Bali (Lontar Asta Kosala Kosali). Selain itu, museum yang pada awalnya dibangun di atas lahan seluas 2.600 meter persegi ini mengadaptasi tata bangunan Puri (istana bangsawan) dan Pura (rumah ibadah).

Di dalam kompleks museum, terdapat tiga halaman. Ketiga halaman tersebut adalah halaman luar (jaba), halaman tengah (jaba tengah), dan halaman dalam (jeroan). Masing-masing halaman dibatasi oleh tembok dan gapura.

Selain itu, museum ini pun memiliki tiga gedung pameran, yang masing-masing mewakili arsitektur bangunan dari beberapa daerah di Bali. Ketiga gedung pameran tersebut adalah Gedung Tabanan, Karangasem, dan Buleleng.

Seiring berjalannya waktu, terjadi penambahan fasilitas. Beberapa fasilitas tambahan tersebut adalah perpustakaan, auditorium, laboratorium konservasi, perkantoran, sebuah gedung pameran (Gedung Timur). Luas kompleks museum pun bertambah luas, menjadi 6.000 meter persegi.

Barang-barang yang menjadi koleksi di museum ini ditata berdasar konsep trimandala. Menurut konsep ini, koleksi yang bersifat sakral dipisahkan dengan koleksi yang tidak bersifat sakral.

Gedung Timur menyimpan koleksi yang bersifat tidak sakral. Koleksi yang disimpan di gedung ini ditampilkan berdasarkan periodisasinya: era berburu, era bercocok tanam, era perundagian, era Bali Kuno (sebelum kedatangan Majapahit), Bali Pertengahan (era Majapahit) dan Bali Baru (kolonial hingga sekarang). Koleksi yang bisa dilihat di gedung ini antara lain berbagai alat batu, perhiasan, sarkofagus, arca, senjata tradisional, parung, dan berbagai lukisan.

Di Gedung Buleleng, ditampilkan koleksi yang berkaitan dengan perkembangan kriya tekstil tradisional Bali, di antaranya kain polos, kain poleng, kain geringsing, kain cepuk, songket, dan lain sebagainya.

Adapun di Gedung Karangasem, ditampilkan berbagai koleksi berkaitan dengan ritual panca yadnya, yaitu berbagai upacara ritual yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Bali.

Di Gedung Tabanan, dipamerkan koleksi-koleksi sakral seperti perangkat-perangkat ritual yang masih ada di tengah masyarakat hingga saat ini, antara lain barong, rangda, serta perangkat tari tradisional antara lain tari baris, tari calon arang, tari sanghyang dedari, dan tari tamiang magoret.

Tagar:
Informasi Selengkapnya
  • Indonesia Kaya

  • Indonesia Kaya

Berlangganan buletin Indonesia Kaya

Daftar ke buletin email Indonesia Kaya untuk mengikuti berita dan acara terkini.