Di bagian timur Bali, tepatnya di Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem, terdapat sebuah desa tua yang kehidupannya masih lekat dengan tradisi leluhur. Desa ini bernama Tenganan Dauh Tukad dan dikenal sebagai salah satu permukiman masyarakat Bali Aga, kelompok masyarakat yang telah mendiami Bali sejak sebelum pengaruh Majapahit berkembang di pulau ini.
Kehidupan adat di desa ini terus dijalankan lintas generasi. Tradisi bukan hanya hadir dalam berbagai upacara, tetapi juga menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat. Berbagai aturan dan kebiasaan yang diwariskan leluhur tetap dijaga di tengah perubahan zaman.
Berbagai aturan dan kebiasaan yang diwariskan leluhur tetap dijaga di tengah perubahan zaman.
Salah satu tradisi yang masih bertahan adalah Mesabat-sabatan Biu atau Perang Pisang. Dalam tradisi ini, para pemuda saling melempar buah pisang sebagai bagian dari rangkaian upacara adat. Di balik keseruannya, ritual tersebut berkaitan dengan proses menuju kedewasaan sekaligus mengajarkan keberanian dan tanggung jawab kepada generasi muda.
Selain Perang Pisang, berbagai ritual keagamaan dan adat masih menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat. Tradisi-tradisi tersebut diwariskan dari generasi ke generasi, menjaga hubungan masyarakat dengan leluhur sekaligus mempertahankan identitas desa.
Di tengah Bali yang terus berkembang sebagai tujuan wisata dunia, Tenganan Dauh Tukad menghadirkan sisi berbeda dari pulau ini. Bukan hanya melalui tempatnya, tetapi melalui masyarakat yang terus menjaga adat sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.







