Cari dengan kata kunci

Kudhok_1200.jpg

Kudok, Senjata Tradisional Sumatra Selatan

Tak hanya sebagai alat pertanian atau cendera mata, kudok juga dapat digunakan sebagai ornamen penghias rumah yang estetis.

Tradisi

Bumi Besemah merupakan sebutan bagi kota Pagar Alam yang lokasinya diapit oleh keindahan Bukit Barisan dan Gunung Dempo. Nama ini didapatkan dari nama suku Pasemah yang menetap di sana sejak dahulu kala. Sebagai kawasan yang berada di dataran tinggi Sumatra Selatan, Bumi Besemah memiliki potensi yang luar biasa akan kebun teh dan kopi robusta. Kopi dan teh tradisional kerap menjadi buah tangan paling digemari oleh para wisatawan yang datang ke sana. Meski demikian, ada oleh-oleh lain yang mulai banyak dilirik oleh para wisatawan, yaitu senjata tradisionalnya.

Jika Jawa Tengah memiliki keris, Sulawesi Selatan memiliki badik, maka Sumatra Selatan, khususnya di area Besemah, memiliki kudok, sebagai salah satu senjata tradisionalnya. Kudok yang dikenal dengan nama kudok betelugh oleh warga lokal, merupakan senjata tajam sejenis parang yang banyak digunakan oleh warga suku Besemah. Selain itu, kudok juga banyak digunakan di Kabupaten Lahat dan oleh masyarakat Manna di Kabupaten Bengkulu Selatan. Dahulu kala, Manna termasuk dalam daerah Sumatra Selatan dan rakyatnya banyak yang berasal dari Besemah.

Anatomi dan Material Kudok

Kudok umumnya digunakan masyarakat untuk beraktivitas sehari-hari, khususnya berkebun. Ujung pisaunya sangat runcing dan pegangannya (pulu) berbentuk bulat. Inilah yang membuatnya dikenal dengan nama kudok betelugh atau kudok bertelur. Kudok juga dilengkapi dengan sarung (berangke) untuk mengamankannya.

Kudok umumnya digunakan masyarakat untuk beraktivitas sehari-hari, khususnya berkebun.

Selain kudok betelugh yang umum ditemukan, kudok memiliki sekitar 10 jenis yang berbeda, sesuai dengan bentuk dan kegunaannya. Dari beragam jenis kudok, yang paling banyak dicari adalah jenis betelugh, luncu, gerahan, dan kudok rambai ayam.

Kudok biasanya terbuat dari material besi atau baja. Bahkan, para perajin pun banyak yang menggunakan per mobil khususnya yang dibuat di Jerman dan Italia, karena kandungan bajanya yang banyak. Sementara, bagian gagang dibuat dari bahan kayu seperti kayu jati, dan sarungnya terbuat dari kayu limau.

Pada bagian gagang dan sarung kudok biasanya akan dililit dengan rotan halus yang dijalin dengan rapi. Pada bagian gagang khususnya, lilitan ini akan diperkuat dengan malau, sejenis getah kayu. Untuk memudahkannya dibawa kemana-mana, bagian sebelah kiri sarung dibuatkan pengait dari bahan kayu atau tanduk, agar dapat dikaitkan pada bagian tubuh sebelah kiri.

Kudok juga biasanya dibuat dalam dua ukuran, yaitu antara 30-35 cm dan 25-30 cm. Ukuran ini ditentukan berdasarkan fungsinya. Kudok berukuran besar kerap digunakan untuk membelah kayu atau bambu. Sementara, kudok berukuran kecil, meski dapat dimanfaatkan untuk membelah kayu atau bambu yang lebih kecil, juga digunakan sebagai alat perlindungan diri dari serangan. Di Kabupaten Lahat dulu, ada istilah “dikuduki” yang berarti ditikam dengan kuduk/kudok. Tenang, istilah ini sudah jarang terdengar.

Di Kabupaten Lahat dulu, ada istilah “dikuduki” yang berarti ditikam dengan kuduk/kudok.

Cara Pembuatan Kudok

Saat ini kudok masih dapat ditemukan di pasar tempat penjualan alat pertanian dan toko oleh-oleh. Cara pembuatannya termasuk cukup rumit. Seperti proses pembuatan peralatan besi lainnya, tahap awal dimulai dengan melebur bahan besi sebagai bahan utamanya.

Setelah peleburan, dilanjutkan dengan proses percetakan, pembentukan, dan penempaan sambil dibakar. Bentuk kudok pada bagian belakang agak tebal, dan semakin ke ujung makin melengkung dan meruncing. Bagian tengahnya juga lebih lebar dari area pangkal dan ujungnya. Jika tidak ada pesanan khusus seperti bentuk yang dimodifikasi, biasanya seorang pengrajin dapat menghasilkan antara 3 sampai 5 buah kudok. Harga jualnya bisa mencapai sekitar 250 ribu rupiah untuk satu buah kudok.

Harga jualnya bisa mencapai sekitar 250 ribu rupiah untuk satu buah kudok.

Sedikit berbeda dengan senjata tradisional pada umumnya yang memiliki makna filosofis atau simbolis, kudok tidak digunakan sebagai simbol apapun. Kudok dibuat hanya untuk sebagai alat produksi tradisional dan senjata semata. Selain itu, kudok juga banyak digunakan sebagai ornamen hias di rumah masyarakat, sekaligus sebagai tanda identitas mereka. Jadi, ketika berkunjung ke Gunung Dempo di Sumatra Selatan nanti, jangan lupa untuk singgah di toko oleh-oleh dan membeli kudok, yang biasanya sudah dirancang memiliki kotak kaca untuk pajangan.

Informasi Selengkapnya
  • Indonesia Kaya

  • Indonesia Kaya

  • Kemdikbud
    Liputan 6
    Pagar Alam Pos
    iNews
    Kompas